5 Cara Ampuh Mengungkapkan Perasaan dan Emosi



Menyatakan perasaan kepada seseorang merupakan hal yang penting. Namun entah mengapa terkadang mengungkapkan perasaan itu terasa begitu sulit. Hampir semua orang pastinya pernah mengalami momen di mana yang dirasakan "ini" namun yang dinyatakan kok justru "itu". Maksudnya sih baik, tapi ujung-ujungnya justru keliru. Jadi salah paham deh. Serba salah jadinya kan?

Oleh karenanya, mengutarakan perasaan dan emosi secara tepat menjadi hal super penting. Pemahaman tersebut membantu kita menjadi seorang komunikator dan pendengar yang baik, bukan saja bagi orang lain namun juga bagi diri kita sendiri. Minimal hal itu yang saya pahami setelah menyelesaikan kelas online bersama Prof. Dacher Keltner, Ph.D. dan Prof. Emiliana R. Simon-Thomas, Ph.D. dengan topik Empathy and Emotional Intelligence at Work yang diselenggarakan oleh University of California, Berkeley beberapa waktu lalu. 

Menyadari akan pentingnya pemahaman terhadap kecerdasan emosi, maka melalui tulisan ini, saya ingin membagikan tahapan sederhana dalam memroses emosi. Tujuannya agar kita mampu memahami dengan benar perasaan kita sendiri. Sehingga pengetahuan ini mampu membantu kita mengurangi level kegalauan, kebingungan, kebaperan, dan kesalahpahaman perasaan yang dirasakan selama ini. Nah, berikut 5 cara ampuh mengungkapkan perasaan dan emosi tersebut. Yuk, kita bahas satu-satu.

1. SADARI
  

"Ah, baper kali pun.", "Ah, itu aja pun.", "Lah, masa kamu sedih cuma digituin?".

Sejak beranjak remaja, disadari atau tidak, kita kerap menerima atau minimal semakin sering mendengarkan pernyataan-pernyataan yang membiasakan kita untuk terus menerus mengabaikan emosi a.k.a emotional neglect. Kebanyakan kita tumbuh dengan membawa begitu banyak kebingungan karena kerapnya menerima sugesti untuk menelantarkan perasaan. Kita menjadi khawatir akan emosi kita sendiri. Pelan tapi pasti, kita menjadi percaya bahwa merasakan emosi selayaknya dosa. Jadi, ketika perasaan itu muncul kita berjuang mati-matian menekannya, takut ketahuan. Kita mulai terbiasa mengirit perasaan-perasaan yang dianggap lemah dan negatif oleh masyarakat. Kita melakukan diskon besar-besaran terhadap rasa takut, rasa marah, bahkan rasa sedih. Kita menjadi manusia yang ahli berpura-pura dengan menampilkan emosi yang ceria dan menyenangkan saja. Hingga tanpa disadari, suatu hari, kita pun mati rasa.

SADARI EMOSI. Ini merupakan kunci awal untuk bisa memahami apa yang kita rasakan dengan benar. Biarkan emosi itu menyapa kita. Sadari keberadaannya dengan jujur. Jangan dialih-alihkan, jangan diabaikan, jangan ditekan. Mengingat emosi yang tak menerima sambutan dengan benar berpotensi menjadi mutan perasaan. Contoh simpelnya, saat senang kamu tertawa, saat melihat suatu yang miris kamu juga tertawa, saat sedih lagi-lagi kamu cuma mampu tertawa. Selamat datang di dunia mutasi emosi. Tempat di mana ekspresimu tidak mencerminkan perasaanmu. 



2. RASAKAN

Saat ragam emosi menyapa kita, maka tak jarang kita menjadi merasa tidak nyaman. Semua orang pastinya merasa kikuk dengan hal baru, demikian juga dengan perasaan baru. Oleh karenanya, butuh kesabaran dalam menerima dan merasakan keberadaan emosi tersebut. Misalnya saat kita menerima emosi dari suatu kegagalan maka kita kerap merasa terpuruk. Kita menjadi manusia yang serba labil dan sensi(tif), tak jarang jadi mudah marah. Padahal emosi yang sesungguhnya kita rasakan adalah rasa sedih dari kegagalan. Kita menjadi rapuh dan membutuhkan support system dari lingkungan kita. Namun, karena kerap tidak menyadari emosi kita sendiri maka tak jarang kita pun sulit merasakan akar emosi yang sesungguhnya. Gunakan diagram The Feeling Wheel untuk membantumu merasakan dan memahami jenis-jenis emosi dalam diri.

RASAKAN EMOSI. Ini merupakan kunci kedua dari memahami perasaan. Rasakan emosi itu, seaneh, semengerikan, dan sememalukan apapun. Izinkan emosimu memperkenalkan dirinya. 


3. AKUI



Setelah merasakan perasaanmu, maka nyatakan hal itu kepada dirimu sediri. Akui bahwa kamu menyadari kehadiran emosimu. Kamu boleh menyatakannya secara lisan maupun tulisan. Diucapkan dengan jelas ataupun diteriakkan dalam pikiran. Kamu berusaha berempati dengan kehadiran emosimu. Kamu tidak mengabaikannya atau tidak menjadikannya musuh.

AKUI EMOSI. Ini merupakan tahapan yang sangat penting dari proses memahami emosi manusia. Sayangnya, kebanyakan manusia gagal di tahapan ini karena mereka tidak mampu melepaskan diri dari dogma-dogma yang telah lama ditanamkan oleh masyarakat. Misalnya anggapan sosial yang percaya bahwa laki-laki tabu untuk menangis. Padahal merasakan kesedihan merupakan hak setiap manusia. Merasakan emosi negatif merupakan sebuah kenormalan yang harus kita akui bersama. Kita cukup mengakui perasaan kita.

"Ah, sedihnya. Hari ini aku gagal ngopi bareng sahabat gegara Corona." 

Atau jika tak mampu terwakilkan kata-kata, maka gunakan karya atau pun air mata. Yang penting emosi tersebut terakui oleh dirimu sendiri, jika cukup beruntung, emosi itu juga terakui oleh orang-orang terdekatmu. 

Hal itu dirasa penting karena kebanyakan kita tidak sadar bahwa terabaikannya pengakuan terhadap perasaan menjadikan emosi kita berubah menjadi mutan. Pengabaian emosi ini memberi celah candu yang membuat manusia melarikan perasaan yang terabaikan ini kepada hal-hal negatif lainnya. Hanya demi merasaan kelegaan fana. Misalnya kecanduan narkoba, rokok, arak, belanja gila-gilaan, internetan non-stop, pornografi, gonta ganti pasangan, ngejulitin orang, perundungan (bullying) dan sebagainya.


4. KLARIFIKASI


Tahapan pengakuan perasaan pada diri sendiri memang berat, selamat jika kamu telah mampu melaluinya. Kemudian, tahapan penting lainnya adalah klarifikasi. Kita mencoba membedah perasaan itu lebih spesifik. Kita mencoba mencari akar emosi sesungguhnya. Misalnya, kita merasa takut. Namun setelah dibedah, akar emosi menunjukkan bahwa sesungguhnya kita hanya merasa bingung. 

KLARIFIKASI EMOSI. Ini menjadi tahapan penting agar kita memahami akar emosi secara terperinci. Misalnya kamu merasa sangat sedih, padahal kamu sebenarnya cuma ngantuk. Diagram The Feeling Wheel akan membantumu mengklarifikasi emosi secara detail sehingga kamu bisa menemukan solusi yang sesuai dengan perasaan yang kamu rasakan.  



5. APRESIASI
 

Selamat jika kamu sudah berhasil melalui empat tahap pengenalan dan pengungkapan emosi sebelumnya. Nah, pada tahap terakhir, tugas kita adalah mengapresiasi diri. Sadar enggak sih, bagaimana mudahnya kita memuji keberhasilan orang namun kita begitu kejam saat mengkritisi diri sendiri? 

"Aku kok gendut amat sih.", "Yah, gagal lagi, emang aku enggak becus.", "Aku kok enggak sepinter dia ya?", "Ah, enggak mungkin sukses. Aku ini siapalah.", dsb.

Maka, pada tahapan ini saya mengajak pembaca untuk belajar mengungkapkan perasaan dengan baik kepada diri sendiri. Mulai serius belajar menghargai dan mencintai diri sendiri secara positif.

APRESIASI EMOSI. Ini merupakan tahapan terakhir yang menjadi inti dari proses mengungkapkan perasaan. Caranya adalah dengan berbicara secara baik terhadap diri sendiri. Projeksikan pikiran-pikiran positif tentang dirimu. Berbicaralah kepada dirimu sendiri dengan ramah dan baik seperti kamu berbicara kepada seseorang yang paling kamu cintai dan gemari. Kamu belajar memaklumi diri saat butuh istirahat. Kamu tidak mengutuk dirimu sendiri saat merasa lemah dan tak sempurna. Kamu menghargai proses hidupmu, pahit-manis, seutuhnya. Belajar memaknai semua emosi yang bertumbuh. Menyadari bahwa tidak apa-apa jika diri sedang merasa tidak baik-baik saja. Yah... namanya juga manusia.[]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "5 Cara Ampuh Mengungkapkan Perasaan dan Emosi"

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya!
Besok-besok mampir lagi ya!


(Komentar Anda akan dikurasi terlebih dahulu oleh admin)