KOMIK EDUKASI KARYA ANAK ACEH

Silly Life at Boarding School

Visit Aceh

Beautiful Land, Exotic Sea and Delicious Food

Visit Aceh

Beautiful Land, Exotic Sea and Delicious Food

Visit Aceh

Beautiful Land, Exotic Sea and Delicious Food

PULEH HAWA

Sambal Ikan Asin Peda Khas Aceh

30 April 2017

Thalassemia Aceh dan "Iron Man" di Kehidupan Nyata

Mereka berkata Iron Man hanyalah tokoh fiksi, namun beberapa waktu lalu saya bertemu dengannya di dunia nyata.  Bukan dalam rupa Robert Downey Jr. atau tokoh Iron Man pada komik Marvel yang tiba-tiba muncul ke dunia nyata layaknya cerita drama korea W yang sempat membahana. Namun ia hanyalah sesosok nyata bocah biasa, calon pemuda Aceh masa depan, yang kehidupannya digaristakdirkan sebagai pejuang Thalassemia. 

14 April 2017

Minyeuk Pret, Parfum Aceh Pembangkit Khazanah Budaya

 

Sebutkan satu kata yang mencerminkan Aceh?
Maka anak gaul akan menjawab "kopi", pencinta kuliner menyebut "mie", manusia baper berkata "tsunami, dan orang iseng bisa saja berujar "ganja". Berbagai variasi warna jawaban diberikan hanya untuk mendeskripsikan satu kata. 

Namun jika saya katakan, coba berikan satu kata yang mencerminkan Minyeuk Pret, maka kita akan sepakat untuk memilih kata Aceh untuknya.  

11 April 2017

Sensodyne Repair & Protect, Pilihanku Melawan Gigi Ngilu

Tak ada sakit yang lebih baik, begitu!

Masih ingatkah dengan lagu lawas legendaris dari Bang Meggy?
Jika kami berduet maka kira-kira liriknya akan menjadi seperti ini;

Meggy Z: Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini, biar tak mengapa.
Saya      : Tak rela, sungguh aku tak rela (sambil joget jempol, eakkk).

Cerita punya cerita, sejak kecil saya sudah menderita gigi sensitif. Bayangkan saja, jangankan memakan makanan asam dan manis, menggertakkan gigi atas dan bawah saja rasanya begitu menyiksa, ngilu pilu belau. Ditambah lagi jika mendengar dentingan dan gesekan benda-benda dari besi, rasanya mau copot satu set gigi ini. 


Kenyataan yang saya alami tidak sejalan dengan perawatan gigi yang saya beri. Sejak kecil saya terkenal sangat rajin menyikat gigi, jarang minum minuman dingin dan tidak terlalu sering mengkonsumsi permen. Sehingga gigi sensitif yang saya miliki ini semacam anugrah yang misterius. Jika gigi tidak sensitif seperti ini, mungkin saya tidak pernah berjodoh dengan pasta gigi Sensodyne. Eakkk.... tapi ini serius lho. 

Pertama kali mengenal pasta gigi Sensodyne ini ketika saya duduk di sekolah menengah atas dan saat itu saya tinggal di asrama. Tahulah sendiri anak asrama, dari sabun, sampo hingga odol itu milik bersama. Jadi suatu hari saya kehabisan pasta gigi yang saya gunakan, karena bergigi sensitif, saya tidak pernah betah pada satu merk pasta gigi. Sebentar-bentar ganti, toh tidak ada yang memberikan efek yang lebih baik untuk menghilangkan ngilu di gigi. 


Nah, saat itu, seorang teman menawarkan pasta giginya, dia menyebut pasta gigi Sensodyne sebagai pasta gigi obat. Awalnya saya tak paham, namun ketika mencoba untuk pertama kali, betapa terkejutnya saya karena pasta giginya tidak terlalu berbusa dan rasanya memang beda dengan kebanyakan pasta gigi yang sebelumnya pernah saya pakai. Untuk kali pertama, tidak ada efek signifikan yang saya rasakan, namun nafas terasa lebih segar dan ngilu di gigi saya agak berkurang. 

Mulai saat itu, saya mengajak keluarga untuk berhijrah menggunakan pasta gigi ini, cocok dengan kebutuhan perawatan gigi sehari-hari. Walau sesekali ada anggota keluarga yang masih membeli pasta gigi merk lain, namun jika giliran saya yang berbelanja kebutuhan sehari-hari, dapat saya pastikan, pasta gigi Sensodyne yang menjadi pilihan. Alhamdulillah, kini ngilu di gigi saya jauh lebih berkurang.


Hal yang paling seru selanjutnya adalah ketika saya mendapatkan kesempatan mengisi survey dari pihak hometesterclub untuk mencoba pasta gigi terbaru dari Sensodyne, saya mah mau banget. Secara hampir semua series pasta gigi Sensodyne sudah pernah saya beli dan gunakan, series terbaru edisi khusus gigi sensitif tidak akan saya lewatkan tentunya.


Nah, edisi Sensodyne kali ini adalah Repair & Protect, cocok banget dengan kasus gigi saya. Pada dasarnya penyebab gigi sensitif adalah karena lapisan dentin di bawah email gigi terbuka. Bila dentin terbuka dan tersentuh dengan rangsangan berupa makanan/minuman, panas, manis, asam, dan sebagainya maka akan muncul rasa sakit yang tajam dan pendek pada saraf gigi. 


Adapun Novamin yang terdapat di dalam Sensodyne Repair & Protect  memiliki formula unik dengan kalsium terkonsentrasi yang terbukti secara klinis membantu membentuk kembali lampisan mineral gigi yang alami sehingga melindungi area gigi yang sensitif, menjaga kesegaran dan kebersihan mulut juga tentunya.

Nah, setelah pemakaian kontinue selama seminggu lebih, saya merasakan dampak positif dari pasta gigi Sensodye edisi Repair & Protection ini. Bahkan saya tidak membutuhkan obat kumur setelah mengosok gigi karena efek kesegarannya yang tahan lama. Alhamdulillah senang rasanya mendapatkan peruntungan untuk mencoba pasta gigi Sensodyne Rapair & Protect. Sekarang gigi saya sudah jauh dari rasa ngilu.  Pasta gigi Sensodyne bikin saya jatuh cinta, lagi, lagi dan lagi. Terima kasih Sensodyne sudah meluangkan waktu untuk nyasar ke garis takdir si gadis mantan gigi sensitif.

10 April 2017

Marketeers Festival Hadir di Banda Aceh


Indonesia Marketeers Festival 2017 di gelar di Banda Aceh? Yeay!

Marketeers Festival merupakan festival marketing akbar yang diselenggarakan oleh Markplus.Inc yakni sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konsultasi, riset pemasaran, pendidikan dan media komunitas. Mengusung tema WOW to Win - Cara Jitu Sales & Promotion , tahun 2017 ini, acara Marketeers Festival akan digelar di 17 kota di seluruh Indonesia, salah satunya kota Banda Aceh.  Asyik!

8 April 2017

Perpustakaan Unsyiah dan 7 Keajaibannya




"Perpustakaan", anggap saja itu sebuah kata mantra yang saya berikan agar otak mampu merangsang gambaran dari alam pikiran. Baiklah, sekarang apakah gambaran imaginasi yang dihasilkan sama seperti salah satu ilustrasi di bawah ini? 

1 April 2017

Review Imperial Leather Body Lotion White Princess

Imperial Leather mengeluarkan produk terbarunya, Body Lotion White Princess, yey!

Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu saya menerima sebuah email dari hometesterclub, itu lho markas online terbesar untuk produk grosir, produk review dan perkumpulan komunitas. Nah, ternyata saya diminta untuk me-review salah satu produk terbaru dari Imperial Leather. Senang banget gak sih? Iya donk. 


Nah, ayal-ayal dikirimi barang, ternyata saya dikirimi kode vouchernya doank (ciri-ciri manusia yang kurang bersyukur #ihik-red). Sebenarnya bukan masalah besar sih, secara produknya bisa diambil langsung dari Alfamart terdekat di seluruh Indonesia (tidak termasuk Alfa Midi dan Alfa Express yooo-red). Namun, alfamart terdekat dari tempat saya tinggal terletak di luar kota lho. Lebay banget kan kedengarannya? Namun faktanya, dari kawasan Darusaalam, Kota Banda Aceh, saya harus menempuh perjalanan pulang pergi ke Alfamart sekitar 2 jam-an. Sambil ambil product testi, saya jadi jalan-jalan deh kesana kemari. Hihihi.... 




Nah, awalnya saya memutuskan untuk mengambil Imperial Leather Body Lotion di Alfamart Lampeuneurut, Aceh Besar. Setelah mengantri,tiba-tiba saya dikabari bahwa mereka sedang offline yang artinya saya tidak bisa menggunakan voucher untuk bodylotion-nya donk. Gruduk-gruduk gitu perasaan saya. Sudah jatuh tertimpa tangga, sudah jauh offline pula. Hari sudah sore dan cuaca hari itu memang sedikit mendung, namun masih kalah mendung dengan hati saya. Menyadari hal itu, dengan ramah para paramuniaga menyarankan saya untuk menukarkan vouchernya di Alfamart Batoh, masih di kawasan Aceh Besar sih. 



Setiba di sana, saya disambut dengan ramah oleh para pramuniaga. Belajar dari pengalaman sebelumnya, sebelum melenggang kangkung mengambil imperial leather body lotion idaman, saya memutuskan untuk mengkonfirmasi voucher saya terlebih dahulu. Kalau offline lagi, capek ngantri, malu pula, bisa double apes saya jadinya, hahaha. 

Tidak ada hujan, tidak ada angin, kedatangan saya menjadi pusat perhatian para pramuniaga di sana. "Ini kode apa ya kak? Kok bisa kakak dapat barang gratis di sini? Ikut quis line ya kak? Sebelumnya, kami belum pernah menerima permintaan seperti kakak." Kirain, terpesona dengan kedatangan saya, ujung-ujungnya kok jadi kena wawancara. Ujung-ujungnya kami bertiga gosipin mantan ops menjadi teman. Dan  setelah 15 menitan menikmati panorama ketak-ketik diantara getar getik raut kebingungan, maka secara resmi body lotion dari imperial leather itu menjadi milik saya. Kebangetan senangnya setelah menempuh perjuangan perjalanan yang sik-asyik gimana gitu. 


Setiba di rumah, sangking penasarannya, itu bodylotion langsung saya cobain. Harumnya itu enak banget, lembut dan elegan, harum khas produk imperial leather dah pokoknya. Namun, saya baru sadar bahwa ada yang salah dengan desain produk ini. Ayo tebak, ada yang tahu?


Yap, bentuk tutup lotionnya yang nungging ke bawah. Logikanya, desain seperti itu sangat smart untuk produk handbody secara umum namun sepertinya kurang cocok dengan produk white princess body lotion dari imperial leather deh. Secara cairan lotion nya itu cukup encer dan tidak terlalu lengket. Berhubung produk lotion  yang biasa saya gunakan agak kental, maka menggunakan pengalaman sesat itu, saya menuangkan lotion imperial dengan penuh semangat yang membara-bara. Maksudnya agar cairan lotionnya cepat keluar gitu lho. Alhasil, itu cairan lotion jadi tumpah ruah ke lantai ketika tutupnya dibuka. Gravitasinya kecepatan cahaya kali ya, hahaha.

Hal positif dari handbody cair yang memiliki berat 200 ml ini adalah lotionnya tidak lengket, ringan dan mudah menyerap di kulit. Untuk waktu ketahanan keharumannya, setelah saya gunakan, sekitar 2-3 jam setelah penggunaan, harumnya memudar. Secara keseluruhan, handbody seharga Rp. 22.900 dari produk imperial leather ini cukup nyaman digunakan, selama kita mampu berhati-hati saat menuangkan lotionnya yang super lembut tentunya. Selamat mencoba!

15 Maret 2017

5 Tips Kocak "Personal Branding" Ala Donna Imelda

Photo credit: cutdekayi.com
Donna Imelda, sang travel blogger Ayo Pelesiran mau datang ke Aceh? 
Sontak, seluruh jagat GIB (Gam Inong Blogger) heboh dibuatnya. Para blogger kece Aceh lainnya tampak sangat antusias membicarakan kedatangan sosok blogger misterius yang sama sekali belum saya kenali. Ya, wajar kalau saya hanya bengong dan kepoin sana sini. Kalau bukan karena kabar KOPDAR yang sempat saya baca ketika berwara wiri di dunia maya, niscaya merugilah saya. Iseng tapi pasti, pertemuan sepenting ini wajib saya hadiri, secara penyakit akut malas menulis saya kumat lagi, butuh amunisi silaturrahmi dan terapi dari para ahli, hihihi. Ah, keanehan tulisan saya semakin menjadi-jadi. Baiklah, ke-lebay-an cerita kita sudahi di sini.

Bertemu pertama kali, hal pertama yang menarik perhatian saya saat melihat langsung kak Donna adalah bandana yang dikenakannya, cantik celetuk hati saya. Setelah diulik-ulik, ternyata hampir semua foto-foto yang memenuhi laman media sosial beliau memperlihatkan betapa seringnya kak Donna menggunakan padanan bandana dan jelbab di berbagai kegiatan dan acara. Aha, ternyata itu adalah salah satu trik personal branding yang menjadi ciri khas penampilan kak Donna. Wah, ini menarik.


Mengapa saya berpendapat bahwa  personal branding melalui pakaian menjadi hal penting? Karena hal itu yang menjadikan seseorang menjadi tampak menarik dan berbeda. Tanpa kita sadari, setiap orang sukses biasanya memiliki ciri khas tersendiri, bukan hanya dari gaya berbicara dan bersikap bahkan dari pakaian yang mereka gunakan. Sebagai contoh, Mark Zuckerberg, sang CEO Facebook, sangat terkenal dengan pakaian santai dengan kaos abu-abu dan celana jins panjang yang selalu digunakan ke mana-mana. Lain lagi, Malala Yousafzai, sang aktifis perempuan, selalu menyematkan kerudung Indianya di berbagai acara. Atau bahkan contoh dalam negeri yang paling mudah diamati yakni Bob Sadino, sang pembisnis kondang dengan matra bergayalah sesuai dengan isi dompetmu, selalui terlihat nyaman dengan kemeja dan celana pendeknya digunakan di berbagai kesempatan. Pakaian layaknya kepribadian, penilaian personal branding seseorang bisa dimulai dari penampilan tentunya.

Nah, itu dia, dari bandana kita sudah nyerocos ke mana-mana.  Maafkan saya.
Baiklah, berikut 5 tips  personal branding ala blogger kece kita, kak Donna, yang berhasil saya rangkum selama kegiatan Kopi Darat GIB yang berlangsung di KKA (Keude Kupi Aceh) pada Rabu pagi, tanggal 15 Maret 2017 (halah, gaya tulisannya):

1.  Perbaiki Blog

"Kalau belum ada blog, mulai hari ini dibuat. Kalau tulisannya masih campur-campur, dibikin kategori". Inilah pesan utama dan pertama yang berulang kali disampaikan oleh kak Donna di pertemuan tersebut. Setiap orang pasti punya cerita dan berbagai ide yang ingin dituliskan tapi terdapat 3 hal utama yang mencegah kita untuk menulis; pertama malas, kedua malas dan ketiga malas. Itulah alasan utama seorang tidak menulis, kita menjadi sangat rajin membumbui alasan sederhana menjadi pelik luar biasa contohnya padatnya waktu kerja, sibuknya aktifitas dengan berbagai tugas dan kurang mahirnya merangkai kata-kata yang katanya tidak sedap untuk dipandang mata. Ah, itu semua hanya alasan yang diada-ada. Saya juga kerap memakai jurus terlarang itu untuk memenangkan si bocah manja bernama MALAS. 

Nah, kalau sudah ada blog, pasti kepikiran untuk menulis. Kalau penampilan blog sudah kece dan isi tulisan sudah memadai, maka tidak menutup kemungkinan blog kita akan dilirik oleh berbagai pihak. Nah, ketika blog kita kece, penulisnya juga kenak imbas positifnya donk. Kalo istilah orang Aceh "ka die ekk jahed".

2. Sebarkan Kartu Nama

Alkisah, Donna yang notabennya merupakan seorang akademisi yang aktif bergelut di dunia kampus dan kemudian berhenti untuk pindah ke dunia lain serta mempersonal-brandingkan dirinya sebagai seorang travel blogger, tentunya tidaklah mudah (gaya bahasa gosip entertainment di tipi-tipi gitu lho haha-red). 

Salah satu momentum paling kocak terjadi ketika kak Donna menceritakan pengalamannya mempromosikan diri sebagai seorang blogger kepada orang-orang. "Jadi, aku cetak kartu nama yang banyak, di situ ada alamat blog dan sekalian foto aku, biar orang yang liatin jadi ingat. Tapi foto yang mencerminkan blog kita, bukan foto selfie gak jelas. Kalo foto aku misalnya pakek tas, mencerminkan travel blogger. Lalu kartu namanya, aku bagi-bagi ke panitia penyelenggara acara. Baginya itu bertarget, misalnya 1 kotak kartu nama harus habis dalam beberapa hari. Nah, kalau kartu namanya dibuang jangan sedih. Kalau orang kasih brosur produk ke kita, terus ada kan yang kita buang. Yah, gitu juga kartu nama."

Saat mendengar penuturan gokil kak Donna tentang pengalamannya saya jadi terpana, antara lucu dan haru. "Gila nie orang, PD amat," begitu pikir saya. Namun jika dipikir-pikir, ada benarnya juga strategi personal branding ala kak Donna. Kartu nama merupakan salah satu media untuk mempromosikan diri, agar orang lain mengenal kapasitas yang kita miliki. Kalau bukan kita yang membranding diri, siapa lagi? 

3. Ikuti Events, Tulis dan Lapor
Photo credit: cutdekayi.com 

"Awal-awal nge-blog, semua event baik dibayar mau pun gratis semua aku ikuti. Mau disuruh tulis atau enggak, semua aku tulisin. Terus aku emailin panitianya, untuk mengucapkan terima kasih atas undangannya serta gak lupa aku semat link tulisan tentang kegiatan itu. Mungkin panitianya pada mikir, ini orang kerajinan banget ya."

Kalau bukan karena sopan santun, maka saya sudah ngakak guling-guling mendengar cerita emak kece yang satu ini. Hal yang paling seru di dunia ini adalah ketika kita khawatir dengan ide pemikiran gila yang kita miliki kemudian sadar bahwa sebenarnya kita tidak sendiri. I feel you

Nah, terus kak Donna melanjutkan bahwa apapun yang kita semai pasti akan kita tuai hasilnya suatu saat nanti. "Terus, pas panitia itu membuat event lagi, pasti mereka mencari orang untuk diundang. Kita undang siapa ya bagusnya? Itu, mbak yang kerajinan itu. Undang aja dia." Ternyata, kak Donna berhasil membuat kenangan yang membekas di hati panitia dari usaha positif yang dilakukannya. Jadi tidaklah heran, seorang blogger amatir yang awal-awalnya menawar-nawarkan diri justru kini harus diminta dan diundang khusus dulu agar dapat hadir di event-event bergengsi. Keren sekali!

4. Perbanyak Blog Walking


Menjadi blogger bukan hanya sekedar menuliskan cerita dan ide. Untuk sukses di dunia persilatan blogger, kita butuh relasi yang kuat antara sesama blogger dan konten yang tepat untuk menarik minat pembaca. Blog walking, silaturrahmi ala blogger, merupakan salah satu cara yang andal. Meninggalkan komentar beserta link blog di blog-blog para blogger lainnya akan sangat membantu blog kita agar dikenal luas. "Salah satu motivasi ngeblog itu agar dibaca orang kan? Jadi sebar tulisan di media sosial dan jangan lupa blog walking."

5. Judul yang Menarik

Setelah sekian lama mendengarkan penjelasan dari kak Donna dan mendengarkan komentar tambahan dari beberapa mastah GIB lainnya (sebut saja mastah Hikayat Banda, misalnya), saya mengutarakan masalah yang selama ini saya alami kepada kak Donna yakni ketidakmampuan saya menuliskan judul yang menarik. "Kak, saya selama ini kalo masalah contain blog saya tidak terlalu bermasalah. Namun kalau sudah terkait judul, parah, entah hapa-hapa jadinya." Dengan santai kak Donna menjawab "Turunkan ego saat menulis judul, bukan judul yang kita mau tapi judul yang pembaca mau. Jadi judulnya gak bersayap kemana-mana. Saya dulu juga gitu. Tapi sekarang judulnya sudah singkat, padat dan jelas," imbuhnya.
  
Kak Donna ini sepertinya sangat mengikuti sunnah Rasul, "katakanlah yang benar walau pahit". Wah, bagaikan meminum pabrik kopi luak, pahit mamen, mendengar nasehat beliau. Tapi mau bagaimana lagi, kalau salah yang harus diperbaiki demi kemajuan. Kata orang isi tulisan blog saya unik karena ditulis dengan hati, tapi siapa sangka judulnya masih pakek ego. Aduh kasihan-aduh kasihan.  Ini emak sepertinya ahli di bidang psikologi dan punya ilmu nubuat deh, hedeh, lupa tanya soalan jodoh tadi, hahaha.
Aceh aman kan kak? Esok lusa bertandang lagi ya. 
Terima kasih kak Donna atas ilmunya. 

1 Februari 2017

5 Keunikan Museum Adityawarman Kota Padang

Padang Sumatera Barat
 Real Museums are Places where Time is Transformed into Space
(~Orhan Pamuk~)

Museum Adityawarman akhirnya menjadi pilihan bagi saya untuk melalang buana sembari menutup manis memori penghujung bulan Januari. Museum yang dijuluki sebagai Taman Mini ala Sumatera Barat ini terletak di wilayah strategis kota Padang. Museum yang dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan umum maupun pribadi. Museum yang bahkan saya tak perlu tersesat untuk sekedar mengetahui alamatnya, karena letaknya persis di depan pusat oleh-oleh khas Padang kripik balado Shirley.

29 Januari 2017

Sambal Ikan Asin Peda PULEH HAWA?


Puleh Hawa berasal dari bahasa Aceh yang artinya "sudah terpenuhi keinginan" akan suatu hal. Orang Aceh biasanya sering menyebutkan ungkapan ini ketika sudah puas memakan makanan yang diidamkan. Inilah sebuah filosofi brand  produk olahan khas Aceh yang baru-baru ini dilauchingkan di Banda Aceh. Mengusung tema Authentic Acehnese Culinary House, yang bermakna Rumah Makan Kuliner Asli Aceh, Puleh Hawa meluncurkan produk  perdananya berupa Sambal Ikan Asin Peda.

Penasaran dengan produk ikan asinnya yang menggoda, saya memutuskan untuk menemui langsung owner puleh hawa, @rrifqiakmal, untuk melihat langsung proses pembuatan sambal ikan asin peda tersebut. Mula-mula Rifqi menjelaskan kepada saya bahwa bahan dasar utama dari sambal ini merupakan ikan asin jenis Tenggiri asli Lhoksedu. Ikan asin yang akan digunakan untuk olahan sambal haruslah  berkualitas,  bebas formalin  dan telah dikeringkan dengan baik.   


Setelah itu, ikan asin diolah dengan menggunakan bumbu racikan yang berasal dari rempah-rempah pilihan. Saat ditanyai adakah resep rahasia dalam produk ini? Rifqi menjelaskan bahwa rahasia dari ke-endes-an sambal ini berupa penggunaan bumbu yang berasal dari bahan-bahan alami dan segar. Rifqi juga menambahkan bahwa, produk sambal ikan asin peda puleh hawa tidak hanya menawarkan kenikmatan namun juga berusaha menjaga kesehatan bagi konsumennya. Bagaimana ya caranya? Ternyata oh ternyata, bahan-bahan penyedap tidak alami seperti MSG, pengawet dan konco-konconya tidak digunakan dalam produk Sambal Ikan Asin Peda produksi Puleh Hawa lho. Alhamdulillah ya, sesuatu... 























Uniknya, bukan saja soal kualitas rasa yang dijaga, produk ikan asin peda Puleh Hawa juga menawarkan ragam tingkat kepedesan sambal untuk para konsumennya. Level 1 hingga 5.  Kalau saya sih senangnya di level 3 dan 4. Untuk anak-anak atau orang tua yang tidak terlalu menyukai rasa pedas maka level 1 dan 2 menjadi rekomendasi. Namun bagi para penggila pedas, selamat, si level 5 sudah menanti untuk dicicipi. 






















Setelah intip-intip proses pembuatan dan icip-icip produk ikan asin peda Puleh Hawa, saya jadi penasaran dengan testimoni yang diberikan oleh para konsumen lainnya. Iseng, saya lalu membuka ig: @pulehhawa. Wah, ternyata yang memberikan testimoni bukan hanya konsumen di Banda Aceh namun juga konsumen yang bedomisili di Lhoksemawe, Pidie Jaya bahkan Padang, Sumatera Barat. Wah, makin di kepoin ig: @pulehhawa , semakin teuhawa-hawa (pengeennn-red). 


Bagi kamu yang masih penasaran dan mau mengetahui info terbaru dan terlengkap, yuk kepoin akun PULEH HAWA di:
Ig           : @pulehhawa
Twitter  : @pulehhawa
Blog       :  www.pulehhawa.blogspot.co.id

Sambal Ikan Asin Peda PULEH HAWA, insyaAllah Han Kecewa