KOMIK EDUKASI KARYA ANAK ACEH

Silly Life at Boarding School

Visit Aceh

Beautiful Land, Exotic Sea and Delicious Food

Visit Aceh

Beautiful Land, Exotic Sea and Delicious Food

Visit Aceh

Beautiful Land, Exotic Sea and Delicious Food

PULEH HAWA

Sambal Ikan Asin Peda Khas Aceh

15 Maret 2017

5 Tips Kocak "Personal Branding" Ala Donna Imelda

Photo credit: cutdekayi.com
Donna Imelda, sang travel blogger Ayo Pelesiran mau datang ke Aceh? 
Sontak, seluruh jagat GIB (Gam Inong Blogger) heboh dibuatnya. Para blogger kece Aceh lainnya tampak sangat antusias membicarakan kedatangan sosok blogger misterius yang sama sekali belum saya kenali. Ya, wajar kalau saya hanya bengong dan kepoin sana sini. Kalau bukan karena kabar KOPDAR yang sempat saya baca ketika berwara wiri di dunia maya, niscaya merugilah saya. Iseng tapi pasti, pertemuan sepenting ini wajib saya hadiri, secara penyakit akut malas menulis saya kumat lagi, butuh amunisi silaturrahmi dan terapi dari para ahli, hihihi. Ah, keanehan tulisan saya semakin menjadi-jadi. Baiklah, ke-lebay-an cerita kita sudahi di sini.

Bertemu pertama kali, hal pertama yang menarik perhatian saya saat melihat langsung kak Donna adalah bandana yang dikenakannya, cantik celetuk hati saya. Setelah diulik-ulik, ternyata hampir semua foto-foto yang memenuhi laman media sosial beliau memperlihatkan betapa seringnya kak Donna menggunakan padanan bandana dan jelbab di berbagai kegiatan dan acara. Aha, ternyata itu adalah salah satu trik personal branding yang menjadi ciri khas penampilan kak Donna. Wah, ini menarik.


Mengapa saya berpendapat bahwa  personal branding melalui pakaian menjadi hal penting? Karena hal itu yang menjadikan seseorang menjadi tampak menarik dan berbeda. Tanpa kita sadari, setiap orang sukses biasanya memiliki ciri khas tersendiri, bukan hanya dari gaya berbicara dan bersikap bahkan dari pakaian yang mereka gunakan. Sebagai contoh, Mark Zuckerberg, sang CEO Facebook, sangat terkenal dengan pakaian santai dengan kaos abu-abu dan celana jins panjang yang selalu digunakan ke mana-mana. Lain lagi, Malala Yousafzai, sang aktifis perempuan, selalu menyematkan kerudung Indianya di berbagai acara. Atau bahkan contoh dalam negeri yang paling mudah diamati yakni Bob Sadino, sang pembisnis kondang dengan matra bergayalah sesuai dengan isi dompetmu, selalui terlihat nyaman dengan kemeja dan celana pendeknya digunakan di berbagai kesempatan. Pakaian layaknya kepribadian, penilaian personal branding seseorang bisa dimulai dari penampilan tentunya.

Nah, itu dia, dari bandana kita sudah nyerocos ke mana-mana.  Maafkan saya.
Baiklah, berikut 5 tips  personal branding ala blogger kece kita, kak Donna, yang berhasil saya rangkum selama kegiatan Kopi Darat GIB yang berlangsung di KKA (Keude Kupi Aceh) pada Rabu pagi, tanggal 15 Maret 2017 (halah, gaya tulisannya):

1.  Perbaiki Blog

"Kalau belum ada blog, mulai hari ini dibuat. Kalau tulisannya masih campur-campur, dibikin kategori". Inilah pesan utama dan pertama yang berulang kali disampaikan oleh kak Donna di pertemuan tersebut. Setiap orang pasti punya cerita dan berbagai ide yang ingin dituliskan tapi terdapat 3 hal utama yang mencegah kita untuk menulis; pertama malas, kedua malas dan ketiga malas. Itulah alasan utama seorang tidak menulis, kita menjadi sangat rajin membumbui alasan sederhana menjadi pelik luar biasa contohnya padatnya waktu kerja, sibuknya aktifitas dengan berbagai tugas dan kurang mahirnya merangkai kata-kata yang katanya tidak sedap untuk dipandang mata. Ah, itu semua hanya alasan yang diada-ada. Saya juga kerap memakai jurus terlarang itu untuk memenangkan si bocah manja bernama MALAS. 

Nah, kalau sudah ada blog, pasti kepikiran untuk menulis. Kalau penampilan blog sudah kece dan isi tulisan sudah memadai, maka tidak menutup kemungkinan blog kita akan dilirik oleh berbagai pihak. Nah, ketika blog kita kece, penulisnya juga kenak imbas positifnya donk. Kalo istilah orang Aceh "ka die ekk jahed".

2. Sebarkan Kartu Nama

Alkisah, Donna yang notabennya merupakan seorang akademisi yang aktif bergelut di dunia kampus dan kemudian berhenti untuk pindah ke dunia lain serta mempersonal-brandingkan dirinya sebagai seorang travel blogger, tentunya tidaklah mudah (gaya bahasa gosip entertainment di tipi-tipi gitu lho haha-red). 

Salah satu momentum paling kocak terjadi ketika kak Donna menceritakan pengalamannya mempromosikan diri sebagai seorang blogger kepada orang-orang. "Jadi, aku cetak kartu nama yang banyak, di situ ada alamat blog dan sekalian foto aku, biar orang yang liatin jadi ingat. Tapi foto yang mencerminkan blog kita, bukan foto selfie gak jelas. Kalo foto aku misalnya pakek tas, mencerminkan travel blogger. Lalu kartu namanya, aku bagi-bagi ke panitia penyelenggara acara. Baginya itu bertarget, misalnya 1 kotak kartu nama harus habis dalam beberapa hari. Nah, kalau kartu namanya dibuang jangan sedih. Kalau orang kasih brosur produk ke kita, terus ada kan yang kita buang. Yah, gitu juga kartu nama."

Saat mendengar penuturan gokil kak Donna tentang pengalamannya saya jadi terpana, antara lucu dan haru. "Gila nie orang, PD amat," begitu pikir saya. Namun jika dipikir-pikir, ada benarnya juga strategi personal branding ala kak Donna. Kartu nama merupakan salah satu media untuk mempromosikan diri, agar orang lain mengenal kapasitas yang kita miliki. Kalau bukan kita yang membranding diri, siapa lagi? 

3. Ikuti Events, Tulis dan Lapor
Photo credit: cutdekayi.com 

"Awal-awal nge-blog, semua event baik dibayar mau pun gratis semua aku ikuti. Mau disuruh tulis atau enggak, semua aku tulisin. Terus aku emailin panitianya, untuk mengucapkan terima kasih atas undangannya serta gak lupa aku semat link tulisan tentang kegiatan itu. Mungkin panitianya pada mikir, ini orang kerajinan banget ya."

Kalau bukan karena sopan santun, maka saya sudah ngakak guling-guling mendengar cerita emak kece yang satu ini. Hal yang paling seru di dunia ini adalah ketika kita khawatir dengan ide pemikiran gila yang kita miliki kemudian sadar bahwa sebenarnya kita tidak sendiri. I feel you

Nah, terus kak Donna melanjutkan bahwa apapun yang kita semai pasti akan kita tuai hasilnya suatu saat nanti. "Terus, pas panitia itu membuat event lagi, pasti mereka mencari orang untuk diundang. Kita undang siapa ya bagusnya? Itu, mbak yang kerajinan itu. Undang aja dia." Ternyata, kak Donna berhasil membuat kenangan yang membekas di hati panitia dari usaha positif yang dilakukannya. Jadi tidaklah heran, seorang blogger amatir yang awal-awalnya menawar-nawarkan diri justru kini harus diminta dan diundang khusus dulu agar dapat hadir di event-event bergengsi. Keren sekali!

4. Perbanyak Blog Walking


Menjadi blogger bukan hanya sekedar menuliskan cerita dan ide. Untuk sukses di dunia persilatan blogger, kita butuh relasi yang kuat antara sesama blogger dan konten yang tepat untuk menarik minat pembaca. Blog walking, silaturrahmi ala blogger, merupakan salah satu cara yang andal. Meninggalkan komentar beserta link blog di blog-blog para blogger lainnya akan sangat membantu blog kita agar dikenal luas. "Salah satu motivasi ngeblog itu agar dibaca orang kan? Jadi sebar tulisan di media sosial dan jangan lupa blog walking."

5. Judul yang Menarik

Setelah sekian lama mendengarkan penjelasan dari kak Donna dan mendengarkan komentar tambahan dari beberapa mastah GIB lainnya (sebut saja mastah Hikayat Banda, misalnya), saya mengutarakan masalah yang selama ini saya alami kepada kak Donna yakni ketidakmampuan saya menuliskan judul yang menarik. "Kak, saya selama ini kalo masalah contain blog saya tidak terlalu bermasalah. Namun kalau sudah terkait judul, parah, entah hapa-hapa jadinya." Dengan santai kak Donna menjawab "Turunkan ego saat menulis judul, bukan judul yang kita mau tapi judul yang pembaca mau. Jadi judulnya gak bersayap kemana-mana. Saya dulu juga gitu. Tapi sekarang judulnya sudah singkat, padat dan jelas," imbuhnya.
  
Kak Donna ini sepertinya sangat mengikuti sunnah Rasul, "katakanlah yang benar walau pahit". Wah, bagaikan meminum pabrik kopi luak, pahit mamen, mendengar nasehat beliau. Tapi mau bagaimana lagi, kalau salah yang harus diperbaiki demi kemajuan. Kata orang isi tulisan blog saya unik karena ditulis dengan hati, tapi siapa sangka judulnya masih pakek ego. Aduh kasihan-aduh kasihan.  Ini emak sepertinya ahli di bidang psikologi dan punya ilmu nubuat deh, hedeh, lupa tanya soalan jodoh tadi, hahaha.
Aceh aman kan kak? Esok lusa bertandang lagi ya. 
Terima kasih kak Donna atas ilmunya. 

1 Februari 2017

5 Keunikan Museum Adityawarman Kota Padang

Padang Sumatera Barat
 Real Museums are Places where Time is Transformed into Space
(~Orhan Pamuk~)

Museum Adityawarman akhirnya menjadi pilihan bagi saya untuk melalang buana sembari menutup manis memori penghujung bulan Januari. Museum yang dijuluki sebagai Taman Mini ala Sumatera Barat ini terletak di wilayah strategis kota Padang. Museum yang dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan umum maupun pribadi. Museum yang bahkan saya tak perlu tersesat untuk sekedar mengetahui alamatnya, karena letaknya persis di depan pusat oleh-oleh khas Padang kripik balado Shirley.

Padang Sumatera Barat

Nah, setiba di depan pintu pagar museum, terlebih dahulu kita akan membayar tiket masuk seharga Rp.3000 untuk dewasa dan Rp.2000 untuk anak-anak. Dengan harga tiket semurah meriah itu, kita sudah bisa menjelajahi seluruh wilayah taman yang luas plus melihat-lihat isi museum sampai puas. Kemudian ketika menapakkan langkah pertama kali ke wilayah museum budaya Provinsi Sumatera Barat, kita akan disuguhi minimal 5 pemandangan unik di sekitaran museum. Penasaran? Ayo, kita telusuri sama-sama.


   1. Tugu Penjuangan Manis Beruntai Sastra Romantis 

Padang Sumatera Barat

Setiba di depan museum, sesaat pandangan mata kita akan terhadang sebuah monumen berupa Tugu Perjuangan dengan desain unik.  Tampak pula di sana sesosok patung dengan bambu runcing di tangannya, sangat bercirikhaskan pejuang di masa silam. Posisinya yang terduduk terlihat seperti ia beristirahat sejenak setelah lelah berjuang namun tetap sigap untuk menjaga dan meneruskan perjuangan. Saya sempat tergidik merinding, antara takjub dan seram, memandangi patung tanpa muka ini. 


Namun sebuah puisi yang termaktub di samping sang patung sempat sesaat membuat saya menjadi terharu malu, "Untuk kami di Nusa  Jaya. Kamulah gugur, derita sengsara. Kamu bertugu di jiwa bangsa. Lambang bermutu selama masa",  pelan tapi pasti saya menyairkan satu  persatu untaian puisi tersebut di dalam hati. Para penjuang begitu mencintai negeri ini dengan tulus, mengorbankan segalanya demi bangsa, bahkan jiwa dan raga. Lalu terbersit tanya di dalam hati, APA YANG TELAH SAYA BERIKAN UNTUK NEGERI INI? Ah, diri. 

Dibalik puisi tadi, terdapat pula sebuah prasasti lainnya berisikan Teks Proklamasi. Dibawah teks tersebut tertulis dengan jelas sebuah tanggal yang membuat saya bertanya-tanya: 9 Maret 1950? Walaupun tak ahli dalam sejarah bangsa, minimal saya sadar bahwa tanggal tersebut bukanlah peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Ditengah ketidakpahaman tersebut, saya meneruskan bacaan selanjutnya, 


PADANG, sederet cerita lahir dari singkatan kata tersebut. Sebahagian saya pahami namun banyak yang tak saya mengerti. Namun setelah mengulik sesaat tulisan sejarah mengenai kota Padang di dunia maya walau tak pasti sumber kebenarannya, saya mendapatkan informasi bahwa tanggal tersebut merupakan hari bersejarah bagi kota Padang. Di tanggal tersebut, kota Padang kembali ke pelukan Ibu Pertiwi. Semacam anak yang diculik bertahun-tahun lamanya lalu kemudian berhasil dipertemukan kembali bersama orangtuanya.  Cessss.... cenat-cenut rasanya hati saya membayangkan momen semacam itu. Untuk beberapa detik rasanya saya seakan kembali ke masa lalu. Seakan lupa bahwa saya hidup pada deret keenambelas di tahun millenium ke-3.


    2. Simbol Sejarah dan Budaya Para Patung Raksasa 


Jika saya tak salah melihat atau pun tak lupa mengingat, terdapat 7 buah patung berukuran raksasa yang mengililingi wilayah museum Adityawarman. Walau pun buta akan panduan buku sejarah kota ini, tampilan patung-patung tersebut dan nama yang disematkan pada museum budaya ini membuat saya berpikir bahwa walau pun terkenal dengan masyarakatnya yang religius dan memiliki pemahaman keislaman yang baik baik, pengaruh Hindu-Budha masih meninggalkan jejak yang cukup kental pada sejarah masa silam kota Padang.   

  3. Museum di dalam Rumah Bagonjong 


Lain lumbung lain ikan, lain ladang lain belalang. Jika Aceh terkenal dengan kopi, tari saman, mie bahkan tsunami. Maka Padang terkenal dengan apa teman-teman? Iya, benar, tanduk (selain warung dan sate Padang tentunya, hehe).  Nah, bentuk atap bangunan yang menyerupai tanduk itu disebut dengan istilah Bagonjong. Jadi selain dikenal dengan istilah rumah gadang, kita juga dapat menyebut bangunan rumah tradisional yang luas dengan atap tanduk yang elegan ini dengan istilah Rumah Bagonjong

Uniknya, tidak seperti kebanyakan museum yang memisahkan fungsi museum dan rumah adat, museum budaya Minang ini justru terletak di dalam rumah adat itu sendiri. Bentuk luar museum saja sudah heboh dan membuat kita takjub, bagaimana dengan isinya ya? Makin penasaran nih? Yuk kita lanjut.


Jujur, awalnya saya menganggap remeh petunjuk arah ini. Namun setelah berputar-putar dan tersesat beberapa kali di tempat yang sama, baru saya paham apa fungsinya. Entah karena area di sini cukup luas, atau bentuk museum yang unik dan misterius atau saya yang rada bengak? Entahlah. Intinya, sekedar menyarankan sebelum ke mana-mana, ada baiknya teman-teman mempelajari dan mengingat petunjuk arah ini terlebih dahulu, kalau mau difoto lebih baik. Sekedar  informasi, dari pada-dari pada lebih baik waspada, benar tidak? Hehe.

Nah, berikut saya tampilkan sekilas pandang gambar Museum Adityawarman dalam kemasan Rumah Bagonjong. Saya menampilkan gambar pemandangan museum dari 3 posisi berbeda yakni bagian depan, bagian luar dan bagian dalam museum.




   4. Taman Melati Anti Sakit Hati

Taman Melati Museum Kota Padang

Wah, pembicaraan kita sebelumnya tampak rada berat ya? Maklum, mengingat mantan saja butuh tenaga ektra apalagi mengingat sejarahnya #teplak. 


Baiklah, keunikan lainnya dari tempat ini adalah taman melatinya. Tempatnya bersih dan nyaman. Walau bunga melatinya tidak semerbak harum mewangi, seperti lirik lagu dangdut fenomenal itu, tapi suasana di sekitar taman ini membuat jiwa dan raga kita menjadi adem ayem. Teman-teman tidak akan merasakan kecemburuan atau pun kenangan pahit bersama mantan di sini. Secara pamplet anti barisan  sakit hati sudah terpampang indah di sini. Duduk sambil makan dan minum bersama teman dan keluarga menjadi opsional yang menyenangkan. Namun, kebersihan tempat juga di jaga ya. Jangan biarkan para tong sampah menjadi kesepian dan baper karena kalian salah menempatkan sampah yang bukan pada tempatnya. 



          5. Pesawat Tempur yang Berpuisi

Letak pesawat tempur ini agak tak kasat mata karena berada di pinggir taman yang tertutupi ramainya para melati. Namun yang membuat saya tertarik untuk menepi adalah kenangan akan Aceh. Di Aceh kita juga memiliki monumen berbentuk pesawat seperti replika pesawat pertama Indonesia; Selawah RI 001, pesawat tempur asli TT-1216 Hawk 200 dan pesawat jenis A4 SkyHawk TT-0435.

Namun tak ada penjelasan mendetil akan kehadiran pesawat tempur di meseum ini. Hanya sebuah puisi yang tertera di sana. Puisi yang membuat saya kembali malu bahkan untuk sekedar meneteskan air mata.

Aku hanya setitik darah bangsaku
Kembangkan sayapku
Teruskan perjuanganku
(~Ashadi Tjahjadi~)

29 Januari 2017

Sambal Ikan Asin Peda PULEH HAWA?


Puleh Hawa berasal dari bahasa Aceh yang artinya "sudah terpenuhi keinginan" akan suatu hal. Orang Aceh biasanya sering menyebutkan ungkapan ini ketika sudah puas memakan makanan yang diidamkan. Inilah sebuah filosofi brand  produk olahan khas Aceh yang baru-baru ini dilauchingkan di Banda Aceh. Mengusung tema Authentic Acehnese Culinary House, yang bermakna Rumah Makan Kuliner Asli Aceh, Puleh Hawa meluncurkan produk  perdananya berupa Sambal Ikan Asin Peda.

Penasaran dengan produk ikan asinnya yang menggoda, saya memutuskan untuk menemui langsung owner puleh hawa, @rrifqiakmal, untuk melihat langsung proses pembuatan sambal ikan asin peda tersebut. Mula-mula Rifqi menjelaskan kepada saya bahwa bahan dasar utama dari sambal ini merupakan ikan asin jenis Tenggiri asli Lhoksedu. Ikan asin yang akan digunakan untuk olahan sambal haruslah  berkualitas,  bebas formalin  dan telah dikeringkan dengan baik.   


Setelah itu, ikan asin diolah dengan menggunakan bumbu racikan yang berasal dari rempah-rempah pilihan. Saat ditanyai adakah resep rahasia dalam produk ini? Rifqi menjelaskan bahwa rahasia dari ke-endes-an sambal ini berupa penggunaan bumbu yang berasal dari bahan-bahan alami dan segar. Rifqi juga menambahkan bahwa, produk sambal ikan asin peda puleh hawa tidak hanya menawarkan kenikmatan namun juga berusaha menjaga kesehatan bagi konsumennya. Bagaimana ya caranya? Ternyata oh ternyata, bahan-bahan penyedap tidak alami seperti MSG, pengawet dan konco-konconya tidak digunakan dalam produk Sambal Ikan Asin Peda produksi Puleh Hawa lho. Alhamdulillah ya, sesuatu... 























Uniknya, bukan saja soal kualitas rasa yang dijaga, produk ikan asin peda Puleh Hawa juga menawarkan ragam tingkat kepedesan sambal untuk para konsumennya. Level 1 hingga 5.  Kalau saya sih senangnya di level 3 dan 4. Untuk anak-anak atau orang tua yang tidak terlalu menyukai rasa pedas maka level 1 dan 2 menjadi rekomendasi. Namun bagi para penggila pedas, selamat, si level 5 sudah menanti untuk dicicipi. 






















Setelah intip-intip proses pembuatan dan icip-icip produk ikan asin peda Puleh Hawa, saya jadi penasaran dengan testimoni yang diberikan oleh para konsumen lainnya. Iseng, saya lalu membuka ig: @pulehhawa. Wah, ternyata yang memberikan testimoni bukan hanya konsumen di Banda Aceh namun juga konsumen yang bedomisili di Lhoksemawe, Pidie Jaya bahkan Padang, Sumatera Barat. Wah, makin di kepoin ig: @pulehhawa , semakin teuhawa-hawa (pengeennn-red). 


Bagi kamu yang masih penasaran dan mau mengetahui info terbaru dan terlengkap, yuk kepoin akun PULEH HAWA di:
Ig           : @pulehhawa
Twitter  : @pulehhawa
Blog       :  www.pulehhawa.blogspot.co.id

Sambal Ikan Asin Peda PULEH HAWA, insyaAllah Han Kecewa

27 Januari 2017

Tragedi di Balik Komik Silly Life at Boarding School (SLABS)

Every  art  should become  science  and every  science  should become  art 
(~Heinrich von Schlegel~)



Silly Life at Boarding School merupakan sebentuk komik pendidikan hasil karya kolaborasi perdana saya dan teman-teman di komunitas komik Aceh (PANYOET), The Leader dan LTF Community yang diterbitkan di penghujung tahun 2016 yang lalu. Komik ini dibuat berdasarkan permintaan para pelajar pesantren, terutama di kawasan Banda Aceh, yang "katanya" ingin memliki buku panduan pembelajaran bahasa Inggris yang asyik namun tetap bergaya bahasa asli layaknya para bulek di belahan bumi sana.

Awalnya, saya tidak terlalu mengubris permintaan tersebut. Selain penyampaian kebutuhan para siswa diceritakan dalam bentuk media curhat, saya pun tidak yakin bisa merancang buku disela kesoksibukan kegiatan entah apa-apa saya saat itu.  Namun tiba-tiba....

"Miss, permission, I go there, yes? Want rain, Miss. My clothes!" 

papar seorang murid dengan bahasa belepotan mencoba meminta izin kepada saya untuk mengambil jemuran karena sebentar lagi akan hujan. Saya hanya mampu bungkam, mengangguk pelan mengizinkan, dan sadar bahwa hujan telah duluan turun ke dalam kegalauan hati saya. Saya tidak tahu harus merasa senang atau sedih mendengar hasil rangkaian ucapan seorang murid pesantren yang notabenenya sudah berada di tahun ke-4 pembelajarannya saat itu. Miris!

Beberapa saat kemudian, setelah para murid kembali dari perantauan menyelamatkan pakaian mereka dari kebasahan, saya pun membuka sebuah diskusi kilat di dalam kelas sambil menikmati kesejukan dan suara derai hujan.

"Ehm, by the way, did you ever been taught how to speak English well?" iseng saya bertanya .
"Miss, we don't know. We speak Bahasa Inggris pesantren like this." jawab seorang siswa.
"Right or wrong, Miss?" tanya siswa lainnya.
"Teach us speaking real English lah, Miss...." gema suara entah siapa.
"Yes lah, Miss. Yes, lah" paduan suara semacam demonstran saja.

"Well... actually there is no term in learning real English. Saying so, as if we are agree that there is a fake English. LoL. However, the way you guys speak English right now can cause misunderstanding for some people, especially Mr. Bulek" papar saya sekenanya.
"How about guidance book for speaking English, do you have any?" tanya saya berpositive thinking

Serentak mereka menggeleng lemah.
"No?" tanya saya tanpa sadar juga ikut geleng-geleng pasrah.
"Jadi selama ini bicara bahasa Inggris gimana caranya?" akhirnya saya lepas kontrol dalam berbahasa.
"Kami dikasih vocab aja, Miss" jawab para murid tanpa mengubris semboyan No English, No Service.
"Terus kalimatnya?" tanya saya gerah.
" Kami gabung-gabung kata-katanya, buat-buat teros" jawaban polos yang membuat hati saya berdarah-darah.
" Baiklah, kalau begini keadaannya, saya akan membuat buku panduan berbahasa Inggris untuk kalian, sekalian dengan ekpresinya, semacam buku komik biar asyik." 

Yeay, para murid bersorak riang. Saya menutup pelajaran dengan janji yang membuat saya tiba-tiba frustasi. Semacam terperangkap dalam takdir yang ingin saya hindari. Memang salah satu keahlian saya yang cukup fenomenal yakni menjebak diri. Semakin saya mencoba untuk tidak peduli, semakin saya.... ah, sudah lah, saatnya beraksi.

***


Jika boleh jujur, sejak kecil saya adalah sosok anak yang rada malas membaca buku tebal dengan tulisan kecil nan rapat-rapat layaknya buku pelajaran dan novel. Namun dibalik kemalasan itu, saya masih tergolong anak yang cukup rajin menonton film kartun, memanjat pohon, mandi di kali, menangkap belut di sawah dan membaca komik pemberian tetangga. Hingga remaja, saya masih meragukan hasil tes yang menyatakan bahwa saya tergolong anak Visual karena saya justru senang belajar dengan berdiskusi dan bercerita sana-sini, layaknya anak-anak Audio. Kemudian saya berpikir, mungkinkah saya anak Audio-Visual?  Memangnya TV?  Ah, lupakan.

Nah, mari saya perkenalkan Gene Luen Yang, sosok guru penulis novel grafis American Born Chinese yang baru-baru ini masuk dalam nominasi penghargaan bergengsi karena berhasil membuat dan menerapkan penggunaan komik dalam pembelajaran di kelasnya. Terdengar seperti inovasi baru yang asyik. Namun fakta yang lebih mengejutkan adalah ternyata sistem pendidikan Negeri Sakura, telah dari dulu mengkombinasikan mangan dengan buku pelajaran sekolah mereka. Keren kan? 

Image Credit: @FaktaGoogle
Sesungguhnya saya sudah mengharapkan hal semacam ini terjadi di Indonesia, khususnya Aceh sejak 10 tahun silam, tepatnya ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Saya kerap bertanya-tanya.

"Kenapa ya, hampir semua tampilan buku pelajaran membosankan begini?"
"Kenapa ya, gak ada buku pelajaran berbentuk manga?" atau
"Buku komik yang isinya ringkasan pembelajaran, ada gak ya?"

Lucunya, oh lucunya. Saya hanya menyuarakan hal-hal aneh semacam itu di dalam hati, jika berbunyi bisa jadi bulan-bulanan seantero sekolah. Ah, Ngeri! Tapi setelah dipikir-pikir, mantap juga pemikiran saya saat itu atau mungkin jangan-jangan saya memang bisa meramal tren masa depan? #teplak 

Ringkasnya, komik Silly Life at Boarding School ini merupakan karya kontroversi positif dari cerminan melawan buku-buku pelajaran yang masih tampil statis di negeri kita tercinta. Komik edukasi SLABS ini juga ingin mengabari para praktisi dan pemegang kebijakan pendidikan bahwa komik juga bisa menjadi media positif mengedukasi dan membangun negeri. Komik layaknya pisau, bukan bendanya yang berbahaya, namun bagaimana cara menggunakannya dengan bijaksana.  

Baiklah, bagi teman-teman yang penasaran dengan isi komik Silly Life at Boarding School (SLABS)  berikut saya tampilkan beberapa cuplikan isi komiknya di sini ya;







Nah, untuk pemesanan, silakan hubungi saya melalui;
ID Line     : ayuulya
Email         : ayuulya90@gmail.com

Setiap pembelian komik SLABS, kamu ikut berkontribusi dalam
menyukseskan pendidikan anak yatim dan piatu




13 November 2016

Kunjungan Edukasi: 3 Tempat 1 Hati


Kunjungan Edukasi atau lebih dikenal dengan istilah KUNJED merupakan salah satu program kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh murid-murid SDIC (Sekolah Dasar Islam Cendikia) Ulee Kareng, tempatku berdikari saat ini. KUNJED merupakan kegiatan ekstrakurikuler bagi para siswa SDIC yang bertujuan untuk mengenal lebih dekat kondisi nyata kehidupan dan mempelajarinya secara langsung. Untuk semester gasal 2016 ini, kami mengunjungi 3 tempat pembelajaran yakni Cargo di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Hutan Kota BNI dan Pantai Ulee Lheue.  

Anak-anak sangat antusias, tapi para guru sejujurnya sudah tepar sejak awal, maklum, persiapan keberangkatan cukup menguras pikiran, waktu dan tenaga. Ditambah lagi cuaca sensi, terkadang panas membakar lalu tiba-tiba dingin gemetar, tahulah sendiri bagaimana galaunya kondisi. Namun, tawa dan senyum merekah para ananda di sekolah selalu berhasil membuat para guru seketika berubah gagah. Entah mantra apa, namun para guru tak pernah bisa menolak untuk ikut kembali ceria, termasuk saya.


Brum.... brum... 
Dua buah mobil bus full AC sudah bertengger manis di depan sekolah. Anak-anak histeris kegirangan bukan kepalang. Jam menunjukkan pukul 09.00 WIB. Sudah saatnya berangkat. Untuk urusan jalan-jalan dan wisata, anak-anak tidak akan pernah mau terlambat. Seluruh murid sudah memasuki bus dan duduk manis tanpa instruksi.

5 menit...
10 menit....
15 menit....

Tak ada seorang pun guru yang keluar dari sekolah mengikuti jejak para ananda untuk menaiki bus yang sudah bermenit-menit menunggu. Bahaya! Anak-anak mulai bosan, sedangkan para guru sedang berperang dengan persiapan keberangkatan. Ini gila! Saya berteriak hening di dalam jiwa, sambil berdo'a agar LKS KUNJED selesai terprint segera. 

"Miss... masih lama busnya jalan?" tanya seorang murid dengan polosnya.
"Oh, enggak nak, yok kita berangkat," sambil tersenyum kearahnya, hati saya terus berdo'a dan ekor mata saya dengan tajam menatap sambil mengancam sang printer untuk mempercepat kinerjanya. Pada momen sepelik ini, do'a selalu menjadi andalan utama. Tak heran, sejak mengajar di sini, saya menjadi semakin religius, apalagi jika kepepet. Hahaha... semacam tak tulus. 

Akhirnya, kami berangkat tepat pada pukul 09.30 WIB. Senang bukan kepalang para ananda, dan guru juga berusaha ceria walau badan pegal dan kepala sedari awal nyut-nyutan. 

Tujuan pertama, Cargo di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Banda Aceh.

Tujuan kedua, Hutan Kota BNI


Tujuan ketiga, Pantai Ulee Lheue

Akhirnya setelah seharian belajar bersama, bercanda ria, bergelak tawa maka kepulangan yang seharusnya selesai pada pukul 15.00 WIB bergeser menjadi 17.00 WIB. Salah siapa? Salahkan saja rasa asyik pada deru pesawat terbang, ayunan, taman, jembatan dan riakan lautan yang menggoda iman untuk berenang. Ah, tak apa, nikmati saja. Sampai jumpa di KUNJED selanjutnya. (Banda Aceh, 08112016)