Energi Terbarukan Pilihan Pemuda

Terdapat hal menarik saat menjadikan isu Renewable Energy alias Energi Terbarukan (ET) sebagai salah satu bahan gibah di kalangan anak muda Indonesia, termasuk Aceh. Pasalnya, tiap kali isu semacam ini diangkat dalam diskusi santai publik, maka tak sedikit anggota klub gosip yang seketika mundur cantik. 

Foto disadur dari World Economic Forum

"Ah, tema begituan enggak asyik dibicarakan." Kata seorang teman.
"Isu itu berat, kita enggak bakal kuat, biar pemerintah saja." Sahut teman yang satunya.
"Memikirkan energi masa depan bikin pusing. Toh, energi sekarang masih cukup." Dukung teman lainnya.

Alhasil, pembicaraan penting terkait energi terbarukan jadi kurang populer di kalangan anak muda rata-rata. Namun uniknya, walau tampak memasabodohkan isu tersebut, disadari atau tidak, justru anak mudalah yang kerap menjadi garda depan dalam menyuarakan kegelisahan mereka terkait segelintir efek dari abainya kita pada energi alternatif tahan lama, ramah alam, dan juga murah. Semisal saat mereka melayangkan aksi protes terhadap pesanan mie bakso langganan seharga Rp. 10.000 yang tiba-tiba butir baksonya berkurang satu. Jika dilakukan reka adegan, maka percakapan yang berlangsung akan seperti ini.

"Bang, jumlah baksonya kok kurang ya? Harga satu porsi masih Rp. 10.000 kan?" Tanya mereka penasaran.
"Iya, Dik. Tapi maaf baksonya terpaksa kita kurangi, soalnya harga gas naik lagi." Jawab Abang Bakso.
"Yah, Abang. Cari gas yang subsidi dong." Protes mereka tak mau kalah. 
"Terbatas, Dik. Susah dapatnya." Jelas sang Abang memelas.

Nah, dari percakapan di atas, kita sadari bersama bahwa ternyata isu energi terbarukan tidaklah serumit dan semembosankan yang kita duga. Isu tersebut sebenarnya melekat erat dengan kebutuhan hidup kita sehari-hari. Ketika masyarakat, terutama pemuda, semakin teredukasi mengenai isu energi berkelanjutan (sustainable energy), pastinya pembicaraan terkait energi terbarukan akan semakin diminati di kalangan anak muda, baik di jagat maya maupun dunia nyata. Terlebih jika informasinya disajikan secara gaul ala kaum milenial. 

Memilih Energi Terbarukan Terbaik

Sebagai rakyat Indonesia yang hidup di sebuah negeri yang dianugerahi ragam potensi alam yang berlimpah, sudah seharusnya kita meninjau kembali energi berkelanjutan terbaik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di setiap provinsi. Dalam tulisan ini, saya mengambil Provinsi Aceh sebagai contoh.

Merujuk pada definisi yang diberikan WWF, Energi Terbarukan (ET) merupakan energi non-fosil (bukan batu bara, minyak bumi, atau pun gas bumi) yang bisa digunakan dalam jangka waktu yang panjang karena ketersediaannya yang berlimpah dan ramah alam. Energi terbarukan banyak ragamnya, misalnya biomasa, air, angin, ombak, dan juga tenaga surya.  Dari kelima pilihan tersebut, kita akan coba membedah satu persatu manfaat dan mudaratnya bagi Aceh.

1. Biomasa
Potensi biomasa, padat maupun cair, di Aceh sangatlah berlimpah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, populasi lembu Aceh terbesar kedua di Sumatera. Ini artinya ketersediaan biomasa padat berupa tahi lembu (ek lemo) jelas berlimpah. Biomasa padat lainnya juga dapat diperoleh melalui padatan tanaman yang diproses dalam bentuk briket bahan bakar. Ketersediaan dua sumber biomasa padat tersebut, tahi lembu dan briket, ternyata dapat menghasilkan ragam energi, seperti energi listrik dan energi panas yang dapat digunakan untuk memasak.

Adapun potensi biomasa cair juga terdapat di Aceh yaitu melalui pengelolaan tanaman jarak (bak lawah). Pohon yang kerap tumbuh di semak-semak ini ternyata bisa menghasilkan biodiesel. Biodisel merupakan bahan bakar nabati yang terbuat dari minyak tumbuh-tumbuhan, salah satunya berasal dari pohon jarak. Biodiesel ini bisa digunakan untuk menggerakkan mesin-mesin tradisional dan juga truk-truk bertenaga biodiesel. 


Walaupun energi biomasa menjadi opsi yang cukup bagus bagi Aceh, perlu kita ketahui bersama bahwa karbon yang dihasilkannya juga dilepas ke udara, sama buruknya dengan hasil pembakaran bahan bakar fosil. Namun uniknya, karbon dari biomasa dapat diserap kembali oleh organisme asal (tumbuhan sejenisnya). Sehingga, keberadaan tumbuhan yang menghasilkan biomasa tersebut wajib dipertahankan. Nah, untuk melawan karbon melalui penanaman tumbuhan sejenisnya, kita membutuhkan ketersediaan lahan berhektar-hektar. Selain itu, penyediaan alat biomasa untuk Provinsi Aceh pun masih tergolong sulit. Jadi, jika biomasa dijadikan sumber alternatif energi terbarukan, maka akan butuh kerja sama erat antara rakyat dan pemerintahan setempat secara berkelanjutan.

2. Air

Aceh memiliki sumber air yang cukup berlimpah. Ketersediaan air sebagai salah satu opsi energi terbarukan banyak menarik perhatian. Pepatah berkata, "Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri Cina." Maka sudah selayaknya kita belajar dari pengalaman pembangunan bendungan raksasa di Negara Tirai Bambu itu. 
Tersebutlah Bendungan Tiga Ngarai (Three Gorges Dam) yang dibangun sebagai alternatif energi listrik bagi wilayah Cina yang masih kekurangan. Tidak salah jika keberadaan Dam atau bendungan raksasa dapat menghasilkan listrik bagi ratusan desa. Namun, di balik kemegahan manfaatnya, ternyata Dam tersebut telah menghancurkan ragam biota air dan juga kehidupan ribuan penduduk desa di sekitarnya. Masyarakat dipaksa pindah dari desanya. Hal tersebut memberi dampak buruk bagi kehidupan masyarakat kecil. Kepindahan mereka tentu membutuhkan banyak adaptasi. Mulai dari adaptasi kerja, adaptasi iklim, adaptasi budaya, dan berbagai macam dampak negatif lainnya. 

Kejadian serupa juga terjadi di Aceh. Dian, warga Abdya yang aktif dalam komunitas Perempuan Peduli Leuser, memberikan pendapatnya terkait penggunaan air sebagai energi alternatif.  

"Saya mendengar isu akan dibangun bendungan yang lebih besar dari Krueng Beukah (KB). Saat ini saja, kekuatan energi dari KB yang hanya beberapa Megawatt itu sudah mengganggu arus kehidupan ikan kerling. Ikan khas Abdya ini semakin sulit ditemui. Padahal, ikan kerling itu lezat, punya nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat, bahkan secara konservasi ikan tersebut menjadi tolok ukur kebersihan sungai." Paparnya kecewa.

Tentunya Aceh, sebagai provinsi yang kini telah memiliki Peraturan Gubernur (PerGub) terhadap Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam, tidak seharusnya gegabah membangun bendungan di berbagai wilayah Aceh lainnya jika mudaratnya jauh lebih besar dari manfaatnya. Mari belajar dari bendungan Krueng Beukah di Aceh Barat Daya (Abdya). 
Foto disadur dari World Economic Forum
3. Angin
"Lain lubuk, lain ikan, lain ladang, lain belalang." Pepatah itu yang terhujam dalam benak saya kala berhasil mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang sudah lama terpendam, "Mengapa di Aceh tidak dipasang kincir angin seperti Belanda dan Amerika? Padahal angin di provinsi Aceh cukup kencang!"

Angin merupakan salah satu alternatif lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai energi terbaharukan. Seperti yang dimanfaatkan oleh penduduk kota kincir angin yang terdapat di Spearman, Texas, Amerika Serikat. Namun ternyata, menghasilkan energi dari kincir angin tidaklah sesederhana bayangan kita. Salah satu syarat untuk menghasilkan energi dari tenaga angin adalah hembusan angin haruslah stabil, dan menara kincir angin harus dibangun di hamparan tanah yang datar dan luas. 
Untuk Aceh yang memiliki kebanyakan struktur tanah berupa perbukitan dan lembah, maka sepertinya angin bukanlah opsi yang bijak untuk digunakan. Selain itu, bentuk menara kincir angin yang besar dan menjulang pastinya akan menguras dana yang tidak sedikit serta mengganggu estetika dari pemandangan wilayah tersebut. 

4. Ombak

Sebagai salah satu provinsi terujung Indonesia, Aceh cukup terkenal dengan bentang pantainya yang luas dan indah, serta ombak lautannya yang garang. Kehadiran ombak sebagai salah satu opsi energi terbarukan tampaknya memiliki peluang.
Namun hal penting yang harus kita sadari bersama adalah energi yang dihasilkan oleh ombak membutuhkan instalasi khusus untuk mengalirkan energi ke tempat-tempat yang membutuhkan. Layaknya penyaluran aliran listrik PLN. Sejauh ini, di wilayah Aceh, salah satu energi yang sangat dibutuhkan adalah energi listrik. 

Jika meninjau pemetaan kebutuhan listrik masyarakat di Provinsi Aceh, kita dapat menemukan fakta bahwa ternyata energi listrik yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat kini justru terletak di desa-desa pedalaman hutan, juga wilayah pegunungan bukit barisan, alias letaknya jauh dari pantai. Tentunya, alternatif penggunaan energi ombak akan menelan biaya yang cukup besar, dan pastinya kurang efektif untuk kebutuhan masyarakat Aceh pedalaman.

5. Tenaga Surya

"Pucuk dicinta, ulam pun tiba." Setelah wara-wiri menganalisa ragam opsi energi terbarukan terbaik bagi wilayah Aceh, saya rasa tenaga surya merupakan opsi energi tercocok untuk saat ini. Walau masyarakat Aceh masih teralienasi dengan penggunaan panel surya yang rupanya seperti kepingan transformer, namun tak apa, lama-lama akan terbiasa juga. 

Terlebih pergerakan pemuda pengguna tenaga surga dalam memberi energi alternatif ramah lingkungan bagi masyarakat sudah lama ada. Tersebutlah nama Zulfikar dari Yayasan Rumbia. Organisasi yang bergerak sejak 2013 ini terbentuk atas kesadaran bersama akan tantangan krisis energi, terutama bagi masyarakat miskin di perlosok Provinsi Aceh.
Foto disadur dari instagram @yayasan_rumbia
 
Rumbia percaya bahwa terbangunnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemanfaatan energi terbarukan dalam meningkatkan ekonomi, berdampak positif lebih dini. Pendekatan kesadaran berbasis masyarakat ini juga dimaksudkan agar pemerintah dapat melihat urgensi dalam membangun infrastruktur energi yang bersih dan ramah lingkungan.
Salah satu pilot project Rumbia yang berjalan di lingkungan masyarakat Aceh Tengah adalah mengajarkan masyarakat untuk merakit lampu tenaga surya. Cukup dengan mengeluarkan modal sebesar Rp. 600.000, maka masyarakat bisa membuat sebuah lampu dengan daya 5-10 watt yang mampu bertahan selama 8 jam dan terus dapat digunakan hingga 3 tahun ke depan.
Tentunya pergerakan pemuda seperti tim Rumbia patut dicontoh dan diapresiasi. Melalui pesan daring, saya menghubungi Zulfikar, founder @yayasan_rumbia, demi memintai pendapatnya terkait pengalaman menjalani program berbasis masyarakat tersebut. 
"Membangun ekonomi masyarakat melalui penanaman pemahaman dan pemanfaatan solusi energi terbarukan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia adalah misi kami. Dengan tagline 'Menuju Masyarakat Bijak Energi', Rumbia sadar bahwa untuk menuju masyarakat yang sejahtera diperlukan upaya sistematis, strategis, dan kolektif." Tutur Zulfikar.

Zulfikar merupakan satu dari sekian banyak pemuda Indonesia yang ikut menyukseskan Kebijakan Energi Nasional demi menargetkan penggunaan energi terbarukan sebesar 23% pada 2025. Program ini semata-mata ada untuk mewujudkan kemandirian energi Indonesia. Dengan tersedianya energi mandiri, masyarakat pun akan mampu berdikari lebih baik lagi.[]

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Energi Terbarukan Pilihan Pemuda"

  1. Wah, keren ya kak. Andai panel surya menjadi program pemerintah untuk menghemat energi pasti banyak anak muda seperti Zulfikar yg bermunculan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat Yell. Hebatnya DLHK Banda Aceh udah mulai menerapkan sistem solar panel ini juga lho. Moga kantor-kantor lain juga ikut ya.

      Apalagi kalau setiap desa mau menyisihkan sebagian dana desanya untuk pembangunan stok energi berbasis solar panel atau biomasa ek lemo,bakal keren kan ya.

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya!
Besok-besok mampir lagi ya!


(Komentar Anda akan dikurasi terlebih dahulu oleh admin)