Para Penjaga Cahaya Literasi Aceh dari Masa ke Masa

Jika seorang awam bertanya pada saya, "Apa itu literasi?" Maka saya akan jawab, "Literasi itu seumpama cinta." Bagaimana bisa? Penjelasannya sederhana, tentu saja karena keduanya merupakan kata yang kerap didefinisikan secara kaku dan tampak terbatas di KBBI, namun sejatinya memiliki nilai yang sangat luas, acak bahkan abstrak dalam pengaplikasiannya di kehidupan sehari-hari. 

Layaknya kata cinta yang dikira hanya sah jika disandingkan dalam kalimat "Aku cinta kamu.", padahal ia kerap dibisikkan dalam ungkapan keseharian yang tampak biasa. Seperti, "Ayah, jaga kesehatan ya. Jangan kebanyakan lembur.", "Susah ya? Sini, aku bantu.", "Kalau sudah tiba, kabari Mama ya!", "Mau makan apa? Sini, aku traktir.", dan ragam kalimat penuh kasih lainnya. Sesungguhnya, kesemua kalimat tersebut secara lembut meneriakkan definisi cinta. Namun, tentu KBBI akan kerepotan jika harus memuat seluruh jenis definisi kata cinta semacam itu di dalamnya. Sehingga, definisi cinta pun mengalami penyederhanaan. 

Makna cinta ibu yang merelakan buah hatinya berjihad dalam lantunan lagu dodo da idi


Demikian juga dengan kata literasi yang kerap dipahami sebatas definisi "baca dan tulis". Padahal, perlu kita pahami bersama bahwa kata literasi dalam kehidupan tidaklah sesempit itu. Sejatinya, literasi telah membudaya dan bermetamorfosis secara luas dan ragam dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk Aceh. Sebagai contoh, dalam dodo da idi (dendang pengantar tidur para bayi) terdapat literasi. Demikian juga, dalam ragam seni tari dan deburan rapa'i (gendang) beriring hikayat, di sana terdapat literasi. Bahkan dalam puja-puji akan alam dan doa kepada Tuhan pada tiap waktu penyemaian bibit kopi para petani, yang dikira mantra, juga terdapat literasi. Oleh karenanya, demi menghilangkan kekakuan defini literasi yang telah lama terpatri, dalam tulisan ini saya akan menyajikan pemahaman lebih halus dan mendalam terkait literasi yang telah membudaya di dalam masyarakat Aceh dari masa ke masa, bahkan di "zaman kegelapan". 


Ragam definisi literasi


Pergeseran Literasi Aceh, dari baca-tulis ke tutur-dengar

Terdapat hal menarik dari kondisi Aceh di akhir abad ke 20. Pasalnya, di tahun-tahun itu, Aceh kerap dipopulerkan dalam dua istilah, yakni Aceh pungo (orang Aceh gila perang) dan Aceh leu haba (orang Aceh banyak omong). Kemasan citra Aceh yang jauh dari kesan damai dan terpelajar ini kerap dikira oleh kebanyakan orang luar, bahkan orang Aceh sendiri yang tidak paham sejarah, sebagai produk budaya asli Aceh yang sudah ada sejak lama. 

Padahal sejatinya, masyarakat Aceh merupakan orang-orang yang telah melek literasi sejak jauh-jauh hari. Bahkan sedikit orang yang mengetahui bahwa salah satu produk asli dari budaya Aceh yakni Adat Aceh sendiri sejatinya berasal dari salah satu dari empat naskah terpenting persejarahan Melayu dunia, yaitu Ma-Bain-as-Salatin,  yang dituliskan di masa Iskandar Muda. Adapun urutan kehadiran keempat naskah yang bersifat sejarah (historiografi) itu adalah Taj-us-Salatin (1603), Ma Bain-as-Salatin (1607), Sulalat-us-Salatin (1612), dan Bustan-us-Salatin (1638).  




Kerajaan Aceh Darussalam berdiri sejak abad ke 15 hingga ke 20. Ia mencapai puncak keemasannya di abad ke 17, dalam pemerintahan Iskandar Muda. Di Kerajaan Aceh Darussalam ini, Aceh tidak saja maju secara struktural pemerintahan, di mana Aceh telah mengakui kepemimpinan perempuan sebagai raja dengan gelar Sulthanah, namun juga para ulama dan masyarakatnya telah melek literasi, dalam konteks baca dan tulis teks arab-jawi (teks Melayu yang ditulis dalam huruf arab gundul). Sehingga, dari kuatnya literasi di zaman itu, hadirlah sebuah hadih maja (pribahasa Aceh) yang terkenal hingga kini. 


Adat Bak Poe Teumeureuhom
Hukom Bak Syiah Kuala
Qanun Bak Putroe Phang
Reusam Bak Laksamana

Maksudnya;
Adat berasal dari masa Poe Teumeureuhom (Iskandar Muda),
Hukum dibentuk oleh ulama Syiah Kuala (Syekh Abdurrauf Al-Fansuri As-Singkili),
Qanun atau Undang-undang kewenangan berasal dari Putri Pahang (Permaisuri Iskandar Muda),
Reusam (tata krama masyarakat) diurus oleh Laksamana.

Penjelasan terkait kuatnya literasi dalam balutan adat Aceh ini dituliskan secara lengkap oleh antropolog Aceh, M.Adli Abdullah, Ph.D, dalam hasil penelitiannya yang dituangkan ke dalam buku setebal 373 halaman dengan judul Ma Bain-As-Salatin (Adat Aceh).  

Pertanyaannya sekarang adalah jika literasi dalam konteks keberadaan naskah penting benar telah membudaya dan mengakar dalam adat masyarakat Aceh, lantas mengapa budaya baca-tulis orang Aceh kini berubah menjadi riuh tutur-dengar yang menjamur di seribu satu warung kopi. Lantas, ke mana hilangnya budaya baca-tulis itu di zaman kini?

Perlu dipahami bersama bahwa, semacam cinta yang patah, perkembangan literasi di Aceh pun pernah meredup secara drastis. Perang menjadi salah satu penyebab dasar kebudayaan baca-tulis masyarakat Aceh terkikis tajam. 

Jika merujuk pada buku Strategi Belanda Mengepung Aceh, yang menceritakan panjangnya kemelut peperangan Aceh-Belanda sejak pihak kolonialis Belanda masuk ke Aceh dan mendeklarasikan perang dari tahun 1873 hingga 1945, kita akan dikejutkan sebuah fakta menyakitkan tentang pemusnahan besar-besaran naskah keilmuan yang dimiliki masyarakat Aceh. 



Di dalam buku tersebut disebutkan bahwa pasukan militer Belanda yang super disiplin dan kuat, yang dikenal dengan nama marechaussee, membutuhkan analisa puluhan tahun terkait kekalahan mereka setiap kali menyerang masyarakat Aceh. Pada akhirnya, pasukan tentara Belanda memahami bahwa semangat jihad fisabilillah (berjuang karena Allah) inilah yang menjadikan pembakar semangat juang para pejuang Aceh. Tersebutlah Hikayat Prang Sabi yang diketahui sebagai sumber bacaan masyarakat yang melahirkan pejuang tangguh Aceh, bukan hanya dari kaum laki-laki, bahkan juga kaum perempuan. Perkara literasi ilahiah inilah yang meresahkan pasukan tentara Belanda. Sehingga, pada akhirnya seluruh naskah-naskah Hikayat Perang Sabil tersebut dimusnahkan oleh militer Belanda. Hal itu dimaksud agar para pejuang Aceh kehilangan pegangan dan dorongan moral. Tentu, pemusnahan dan penyeludupan berbagai naskah penting Aceh terus berlanjut di masa perang. 

Sehingga, jika ditilik kembali dan diulang kaji, apakah benar literasi, baca-tulis, belum menyentuh sisi terdalam masyarakat Aceh ataukah justru literasi itu telah mengakar kuat namun dimusnahkan pelan-pelan karena perang hingga terlupakan? 

Layaknya kata pepatah, hal yang tak membunuhmu akan menguatkanmu. Maka haluan masyarakat Aceh yang sadar benar akan propaganda lawan yang ingin memusnahkan segala ilmu di masa perang pun berubah. Dari hilangnya naskah-naskah penting dalam wujud baca-tulis, maka literasi pun dicoba selamatkan melalui media tutur-dengar. 


Para Penyelamatan Literasi, dari Ayunan Hingga Youtube-an

Mengingat pemaparan di atas, maka benar adanya bahwa literasi mampu diselamatkan dan ditumbuhkan kembali melalui unit terkecil yang dinamakan keluarga. Keterlibatan keluarga, sebagai salah satu agen dari tripusat pendidikan, menjadi sangat penting baik di masa kini, maupun di masa perang yang dirasakan masyarakat Aceh selama puluhan tahun silam. 

#LiterasiKeluarga dalam lantunan lagu dodo da idi

Mungkin akan terasa lucu bagi masyarakat Aceh, terutama yang hidup di pedalaman kini, untuk disematkan penghargaan atau gelar bagi mereka sebagai pahlawan literasi. Pasalnya, mereka sendiri kemungkinan besar tak paham definisi dari literasi itu sendiri. Namun di balik ketidakpahaman itu, justru dari merekalah naskah-naskah yang berisi ilmu dan kebijaksanaan masa lalu terselamatkan hingga sekarang. #LiterasiKeluarga yang terselamatkan melalui mulut-mulut para ibu yang selalu mengayun para bayi (dodo da idi) dan mendendangkan mereka dengan salawat nabi, nasihat bijak dan petuah dari isi-isi naskah hikayat yang telah punah. Dari senandung mantra-mantra para petani kopilah ilmu cocok tanam masih bertahan hingga kini. Hingga seni tari tradisional Aceh yang dipadu dengan lantunan lirik-lirik hikayat dan nasihat, yang juga dilantunkan bersama deburan rapa'i,  menjadi nilai budaya khas Aceh yang populer dan dikenal indah, dari sanalah literasi terjaga rapi. Tanpa kita sadari ternyata kesemuanya itu merupakan pecahan-pecahan puzzle literasi dari naskah penting dan budaya baca-tulis masyarakat Aceh yang nyaris punah sama sekali. Terkadang tekanan dan penderitaan panjang mampu membuat manusia menjadi lebih aktif dan kreatif dalam menjaga literasi dan kenangan.



Kesadaran itu pula yang menjadi dasar terciptanya solusi penjagaan nilai sejarah dan literasi kaum milenial di Aceh kini. Tersebutlah sekelompok anak muda pencinta musik bergenre hiphop dengan nama Orang Hutan Squad. Melalui tangan-tangan kreatif mereka, terciptalah jenis irama dan lirik Prang Sabi abad 21 dengan gaya RAP&DJ. Lagu yang dilantunkan ini terdiri atas lima gaya tutur daerah, ditambah dengan bahasa Indonesia. Adapun kelima bahasa daerah tersebut merupakan bahasa yang populer digunakan oleh masyarakat di Provinsi Aceh hingga kini, yaitu Aceh, Aceh (dialeg Aceh Besar), Aceh Singkil, Aneuk Jame, dan Kluet. 

Layaknya solusi tantangan terkait pendidikan yang membutuhkan peranan semua pihak, baik keluarga, masyarakat, dan juga lembaga pendidikan yang disebutkan di dalam berbagai Program Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, kehadiran grup musik Orang Hutan Squad sebagai bagian #SahabatKeluarga baru turut memberi secercah cahaya dalam proses membudayakan literasi bagi kaum milenial. Mereka menjadi salah satu ikon penyelamat seni tutur Aceh yang mungkin dianggap semakin konservatif alias ketinggalan dengan selera zaman kini. 

Saat mewawancarai salah satu personel Orang Hutan Squad, Marfa, saya menanyakan motivasi mereka dalam membudayakan nilai sejarah dan literasi Aceh dengan cara berbeda. Marfa memaparkan bahwa dia dan tim ingin mengajak anak muda untuk sadar bahwa sejatinya nilai pembelajaran dari isi Hikayat Prang Sabi tidak akan punah dimakan zaman. Hanya saja, perang di zaman kini tidak lagi menggunakan otot namun pikiran. 

"Dalam hikayat prang sabi  terdahulu, prang atau perang dimaknai secara harfiah yaitu turun ke medan juang. Namun di zaman ini, perang sesungguhnya menggunakan otak. Bagaimana caranya anak muda tidak tergerus arus informasi tidak sehat, lalai, dan tidak produktif berkarya. Katakanlah mereka menghabiskan waktu dengan bermain Tik Tok. Jadi, kami ingin menflashback semangat hikayat terdahulu dan menyesuaikan lirik dan musik untuk anak-anak zaman kini." Jelas rapper yang menyanyikan lagu Prang Sabi Abad 21 dalam bahasa Aceh Singkil tersebut. 

Sungguh, semangat para penjaga literasi dari masa ke masa ini harus terus dijaga. Apalagi di dalam menghadapi pesatnya tantangan teknologi yang dipenuhi arus informasi bertubi tanpa seleksi. Tentunya dalam berkarya para generasi milenial tidak akan bergerak sembarangan. Layaknya karya berupa lagu Prang Sabi versi modern yang kita dengarkan dari kelompok Orang Hutan Squad saat ini, pastinya juga mengalami proses literasi yang panjang. Dari membaca dan mengulang kaji kembali nilai-nilai sejarah masa lampau, hingga proses menuliskan kembali lirik-lirik lagu yang membawa pesan moral dan disampaikan sesuai zaman. Seperti isi dari salah satu penggalan lirik lagu tersebut yang dilantunkan dalam bahasa Aneuk Jamee.




"Kinin bukan pakai sanjato tapi pikian. Kito bisa basamo maju walau dari pinggian. Ainul Mardhiah alah lamo mananti di ateh surgo. Tatok di jalan Rabbi tatok kambangkan budayo kito." Yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia, maka liriknya berupa, "Sekarang bukan pakai senjata, tapi pikiran. Kita bisa maju walau dari pinggiran. Ainul Mardhiah menanti di surga. Kita tetap di jalan Rabbi, kembangkan budaya kita."

Selayaknya arti budaya yang berasal dari definisi akal budi, perpaduan akal dan perasaan (akhlak) sehingga mampu menilai hal baik dan buruk. Maka membudayakan literasi dapat dimaknai sebagai proses  mengolah kecakapan informasi dan pengetahuan bagi setiap insan untuk memenuhi kecakapan hidup dengan membawa serta akal budi luhur dalam menjalani kehidupan ini. []




Referensi

Abdullah, M. Adli. 2019. Ma Bain-As-Salatin (Adat Aceh). Banda Aceh. Bandar Publishing.

Ghani, Yusra H.A, dkk. Strategi Belanda Mengepung Aceh 1873-1945. 2015. Banda Aceh. Bandar Publishing.

Keluarga sebagai Media Budaya Literasisahabatkeluarga.kemdikbud.go.id tanggal 7 September 2019. Diakses tanggal 29 September 2019.

Membentuk Karakter Positif Anak Lewat 4 Sifat Rasulullah. sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id tanggal 14 Agustus 2018. Diakses tanggal 29 September 2019.

Miranda, Cut Dira, dkk. 2017. Mantra Awan. Banda Aceh. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh.

Reusam sebagai Warisan Budaya Aceh. Yellsaints.com tanggal 24 Juli 2017. Diakses tanggal 30 September 2019.

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Para Penjaga Cahaya Literasi Aceh dari Masa ke Masa"

  1. Informatif dan menggugah, bahasa Aceh kurang mendapat tempat dalam berbagai upacara resmi termasuk pelantikan pejabat penting di Aceh. Padahal, tanpa digunakan akan banyak sekali kosakata bahasa daerah yang akan segera punah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar. Memang seharusnya dilakukan penguatan dan pembelajaran kembali terhadap bahasa daerah ya. Agar tidak punah. Terima kasih sudah bertandang.

      Hapus
  2. Mari kita terus membaca dan menulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seorang muslim kan harus sama baiknya antar membaca dan menulis. 😉👍

      Hapus
  3. Wah, benar banget kak, kebanyakan orang menilai terlalu kaku sebuah kata literasi, padahal tanpa sadar sering diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Yell. Teringat pas bedah buku Matra Awan yang digelar Dinas Arpus, keren beud pembahasannya, tentang luasnya literasi yang tersembunyi dalam ragam nilai-nilai budaya Aceh. Sampek merinding ngebacanya.

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya!
Besok-besok mampir lagi ya!


(Komentar Anda akan dikurasi terlebih dahulu oleh admin)