10 Rahasia Euforia Pariwisata Bahari Kota Sabang Provinsi Aceh


Jika cintamu seluas bahari
Kapal cepat atau lambat, tetap kusebrangi
Jika sayangmu sedalam lautan
Diving dan snorkeling menjadi pilihan
 Aku akan terus mengunjungimu
Jiwaku telah terpaut keindahan pesonamu
Jangan ragukan kedatanganku
Karena Aku Selalu "Sabang" Kamu


Euforia merupakan kondisi seseorang yang merasakan suasana nyaman atau kesenangan yang mendalam. Penyebab euforia yang dirasakan seseorang pastinya beragam. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk merasakan kebahagiaan. Adapun euforia terbaik tahun ini saya rasakan ketika menghabiskan waktu berlibur di Sabang bersama keluarga dan sejawat beberapa pekan yang lalu.


1. Kapal Besar Tidak Harus Mahal


Layaknya alunan salah satu lagu lawas favorit saya ketika kecil dulu "naik kapal kecil takut goyang-goyang, naik kapal besar tidak punya uang," seakan terngiang merdu di telinga kala menaiki si kapal lambat ferry  dari pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh yang bertolak menuju pelabuhan Balohan, Sabang.

Selama di dalam kapal, saya sempat tersenyum simpul mengingat lirik lagu legendaris masa kanak-kanak yang penuh ambigu. Pasalnya lirik "naik kapal kecil takut goyang-goyang..."  seakan mempersalahkan kapal kecil yang rapuh dan rentan saat berada di lautan. Padahal jika meninjau pengalaman dan menilik kenyataan, transportasi laut dalam ukuran apapun, selama berlayar di lautan pasti akan berguncang. Sejatinya, bukan salah ukuran kapal yang menjadikannya berguncang namun hempasan ombak lautan luaslah yang mengajaknya ikut bergoyang, asyik!

Belum cukup menertawai kekonyolan diri akan pemikiran tidak penting semacam itu, sahutan alunan lirik lagu selanjutnya "... naik kapal besar tidak punya uang", dari alam pikiran membuat saya semakin mengakak syahdu. Lirik kedua ini menjadi catatan penting tolak ukur ketimpangan sosial antara si miskin dan si kaya. Seakan perjalanan bahari hanya menyediakan alternatif yang pelik yakni kapal kecil berbiaya murah dengan risiko goyang asyik di lautan lepas atau kemewahan kapal besar dengan fasilitas memukau yang hanya diperuntukkan untuk kaum hartawan? Pilihan yang sulit, bukan?



Namun kenyataannya pilihan perjalanan laut tidaklah sesulit itu. Buktinya, perjalanan wisata bahari yang saya tempuh dengan menggunakan transportasi kapal laut berbeda 180 derajat dari dendangan lagu lawas tadi. Perjalanan wisata dari Banda Aceh menuju Sabang dengan menggunakan kapal besar (kapal lambat) justru menghabiskan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan dengan kapal kecil (kapal cepat). Hahaha... senang rasanya hati ini melihat kenyataan yang lebih indah dari dugaan. Terbayangkan bagaimana serunya mematahkan sebuah teori dari sebuah lagu abadi?


Baiklah, kembali lagi ke pembahasan si kapal besar nan ekonomis. Salah satu dari sekian banyak kelebihan yang dimiliki transportasi ini adalah bentuknya yang luas, lebar dan terbuka. Jadi sangat cocok bagi kita untuk bersantai, berjalan-jalan, berfoto ria, tidur-tiduran atau memancing ikan juga sepertinya oke. Selain itu, bagi kamu yang suka merasakan terpaan angin, hangatnya sinar mentari dan pemandangan indah laut dan pegunungan secara langsung selama perjalanan maka silakan mengambil posisi bersantai di lantai tiga kapal lambat tersebut. Menurut saya pribadi, dek kapal lambat merupakan tempat paling superior di antara semua level tempat duduk idaman selama perjalanan. Jika ingin merasakan sensasi memukau semacam ini, buruan deh ke Sabang melalui perjalanan bahari dengan transportasi kapal ferry


2. Dwiwarna Lautan Sabang-Banda


Hal lain yang paling mengesankan selama melakukan perjalanan laut antara Sabang dan Banda Aceh adalah momen ketika saya sempat melihat fenomena laut dwiwarna secara langsung. Kegirangan? Pastinya. Memandangi kedua warna air yang bersatu padu di dalam samudra tanpa mengganggu keindahan satu sama lain, perasaan saya seketika menjadi campur aduk. Semacam memandang nyata kisah Jack dan Rose dalam film Titanic. Ah, romantis sekali bukan? Nah, jika nanti kamu berkunjung ke Sabang melalui jalur laut dan sempat melihat langsung fenomena ini, maka kamu termasuk orang yang beruntung. Jangan sampai kehilangan momen seindah dan seberharga ini oke!  


3. Keindahan Jalan Kelok 13 di Teluk Balohan Kota Sabang

 

Siapa yang sudah pernah ke Sabang, silakan acungkan tangan? Iya, bagus. 
Siapa yang belum pernah ke Jalan Kelok 13? Nah, mari balik ke Sabang lagi.

Bagi saya pribadi, hal yang paling membosankan ketika berwisata adalah mengikuti jalur dan peraturan umum. Oleh karena itu, bermodalkan rasa penasaran dan daya iseng yang tinggi, maka saya bersama teman-teman sepakat untuk menikmati panorama alam Sabang dengan menelusuri Jalan Kelok 13 di pinggir Teluk Balohan yang mengelilingi pegunungan.



Menurut info yang beredar, jalan ini belum resmi dibuka sehingga sangat sedikit kendaraan yang berlalu-lalang di sekitar daerah ini. Selain itu, jalur yang jauh nan berliku ditambah lagi dengan jalanan terjal mungkin menjadi penyebab utama sebahagian orang enggan untuk melewatinya. Tanpa sadar saya pun mulai berandai-andai.

Andai mereka tahu betapa indah pemandangan di puncak jalan berliku ini!
Andai mereka tahu jarak antar desa di sini begitu jauh dan sepi!
Andai mereka tahu bahwa di sini masih ada panorama alam yang tersembunyi!
Andai mereka tahu...

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk mengabari melalui tulisan ini dan berhenti pada andai-andaian yang tidak berarti. Panorama ini harus dilihat dan dinikmati secara langsung. Benar tempat ini masih sunyi, namun ia terlalu indah untuk dinikmati seorang diri.


Sebuah pemandangan terindah dapat dinikmati di salah satu kelok dari jalan kelok 13 ini. Terdapat sebongkah tanah yang menjorok layaknya tebing dari jalur jalan yang beraspal. Masyarakat mengenalnya dengan sebutan Bate On (batu daun). Jika kelak lewat jalur ini, jangan lupa berhenti sejenak untuk sekedar memandangi dan mensyukuri bahwa inilah keindahan alami Aceh rasa Bali ciptaan Ilahi.

 



Selain keindahan secuil Bate On tadi, lelah perjalanan terjal dan berliku kelok 13 ini juga dapat terobati dengan potret keindahan gunung berapi yang dapat dilihat dari ketinggian. Pelabuhan Balohan pun tampak mungil jika dipandang dari jarak sejauh ini.  

4. Karang Asin Berair Tawar 


Balohan Mata Ie merupakan salah satu desa yang terdapat di jalur Jalan Kelok 13 Kota Sabang. Seperti namanya, mata ie yang berarti mata air, desa ini terkenal dengan air jernih nan tawar yang berasal dari bebatuan karang pesisir pantai di daerah setempat. Menakjubkan bukan? Bagaimana bisa bebatuan karang yang berasal dari lautan yang asin menghasilkan air tawar dan jernih? Saya sempat takjub sekaligus merinding memikirkan keindahan dan keajaiban yang bersatu padu semacam ini. Letak tempat ini memang sedikit tersembunyi. Dari pantauan saya saat itu, hanya terdapat segelintir penduduk desa yang datang ke sini untuk sekedar mencuci pakaian dan mengambil air. Tidak ada wisatawan yang datang untuk sekedar berkunjung menikmati keindahan alam yang satu ini. Sayang sekali bukan? Nah, karena saya telah menjelajahi dan mengabari tempat persembunyian ini maka silakan bertandang dimari.


5. Keeksotisan Anoi Itam dan Sejarahnya yang Menawan



Anoi Itam merupakan salah satu pantai yang terdapat di wilayah Sabang. Sesuai dengan namanya, Anoi Itam (pasir hitam), laut ini menjadi eksotis karena pasirnya yang berwarna hitam, padahal ia terletak di wilayah lepas pantai. Hampir semua pasir di wilayah laut lepas Sabang ini justru berwarna putih. Jadi hal itulah yang menjadikan Anoi Itam sebagai salah satu destinasi wisata bahari yang unik dan layak untuk dikunjungi.



Selain keindahan pantai yang dimilikinya, Anoi Itam menjadi semakin istimewa dengan benteng bersejarah peninggalan Jepang yang terletak di penghujung bukit pesisir pantai. Untuk sampai ke benteng ini, saya bersama teman-teman harus menapaki belasan anak tangga dan melewati jalan setapak di sela-sela pepohonan rindang yang kekar.


Jika meninjau dari tata letaknya, benteng ini dibangun untuk memantau musuh yang masuk ke wilayah Sabang melalui jalur laut. Terdapat sebuah meriam yang cukup besar dan panjang yang mengarah tepat ke laut lepas. Hal ini mengindikasikan bahwa benteng tersebut merupakan salah satu benteng pertahanan yang cukup fenomenal di masanya.

 
Menurut informasi dari salah seorang penduduk setempat, jika kita berlayar tepat lurus ke arah lautan di depan benteng ini maka dalam hitungan jam kita akan tiba di kawasan laut Thailand. Dikatakan pula bahwa nelayan Sabang di sekitar daerah ini juga melakukan transaksi jual beli hasil laut dengan para nelayan Thailand di perbatasan wilayah. Namun, keabsahan informasi tersebut belum dapat dibuktikan secara pasti. Saya tidak mendapatkan sumber informasi yang cukup mengenai perjalanan menuju Thailand melewati jalur lautan Sabang. Seandainya informasi itu benar, maka berwisata ke negeri jiran melalui jalur laut Sabang pastinya akan sangat mengesankan.

 

6. Misteri 3 Sumur Tepi Laut



Salah satu destinasi pariwisata bahari yang paling populer di Sabang adalah Pantai Sumur Tiga. Selain buliran pasirnya yang menawan, warna laut di pantai ini luar biasa indah bak kolam renang. Untuk sampai di pantai ini, saya dan teman-teman harus menuruni puluhan anak tangga yang cukup licin dan terjal. Di dalam perjalanan menuruni anak tangga, kami melihat beberapa pelancong yang sudah lanjut usia tampak kesulitan dan kelelahan. Maksud hati menyentuh pantai, apa daya lutut gemetar, begitulah kira-kira sirat mata mereka berkata. Jika ada fasilitas perosotan menuju pantai, mungkin akan sangat membantu para wisatawan lanjut usia ini, celetuk hati saya memberi solusi. Namun kenyataannya tindakan saya hanya berakhir pada sapaan sopan dan anggukan pelan pertanda minta permisi, menumpang lewat semata. 


Sesampai di beberapa anak tangga terakhir sebelum kaki ini menyentuh pasir, saya melihat sebuah sumur tua klasik. Tidak seperti kebanyakan sumur saat ini yang dibangun dengan menggunakan minjeng (sejenis cincin sumur yang dicetak dengan adukan semen), sumur ini tampak dibangun dari bebatuan pipih yang disusun dengan rapi. Di dinding sumur tertulis Proyek 1977, sepertinya ini tahun pemugaran sumur tersebut. Tampaknya usia asli sumur ini jauh lebih tua, namun tetap terlihat menawan di usia senjanya. Namun mengapa dia menyepi sendiri? Kemana dua lainnya? Bukankah ini Pantai Sumur 3? Saya mulai mengomeli diri, penasaran bukan kepalang. Pucuk dicinta ulam pun tiba, salah seorang penduduk yang baik hati mulai menuturkan misteri dari sumur ini.


Dahulu kala terdapat tiga buah sumur di pesisir Pantai Sumur Tiga ini. Ketiga sumur dibuat saling berdekatan dan memiliki rasa air yang tawar. Namun dari waktu ke waktu, ketiga sumur tersebut menjauh satu sama lain. Menurut kepercayaan penduduk setempat, hanya satu sumur yang kini tersisa di bibir pantai selebihnya menghilang di balik lautan. Konon katanya, sumur-sumur yang menghilang itu akan muncul dan tampak kembali ketika air laut surut. Berdasarkan saran dari penduduk di sekitar sini, jika ingin mengabadikan foto di sekitar sumur tersebut agaknya kita diminta untuk berdehem terlebih dahulu sebagai pertanda minta permisi. Ritual tersebut dipercaya untuk menghindari penampakan atau kemunculan gambar-gambar yang tidak diinginkan pada foto yang diabadikan di sekitaran sumur tersebut.

7. Pante Kasih dan Pesona Karang yang Tersisih


Biasanya jika berjalan-jalan di pantai mana pun, saya hobi mengumpulkan beberapa karang yang terdampar di pesisir pantai untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Namun sayang, karang di pesisir pantai ini hanya bisa dikenang tanpa tahu bagaimana cara untuk dibawa pulang. Baiklah, kali ini mari saya perkenalkan sebuah pantai yang terletak sangat dekat dengan perumahan penduduk dan sangat terkenal dengan hamparan damparan karang di bibir pantainya, sebut saja pantai ini dengan nama Pante Kasih.


Kali pertama saya mengunjungi Sabang, entah mengapa saya tidak menemukan karang-karang raksasa di wilayah Pante Kasih yang saya datangi. Pante Kasih yang saya kenal pada pandangan pertama justru merupakan pantai dengan pasir kasar dan puluhan ranjau pecahan karang yang terselip di dalamnya. Jadi, berjalan apalagi berlari-lari dengan kaki telanjang sangat tidak disarankan. Namun beberapa minggu kemudian, tepatnya kali kedua saya mengunjungi Sabang, saya menemukan sebuah tempat di jalur Pante Kasih yang sangat berbeda dengan kondisi yang pernah saya kenal sebelumnya. Karang-karang raksasa tergeletak indah di bibir pantai layaknya mozaik. 

Saat itu pantai tampak sepi. Hanya ada dua orang wanita, tak jauh dari tempat kami berdiri, yang sedang melakukan olah raga yoga di atas pasir di balik salah satu batu karang raksasa. Mereka hanya mengandalkan pasir sebagai matras, padahal gerakan yoga yang mereka lakukan cukup ekstrem. Seketika itu juga saya tersadar bahwa pasir di tempat tersebut sangat bersih dan lembut, tidak terdapat ranjau pecahan karang sama sekali. Sontak saya berlari-lari riang dan berguling-guling di atas pasir yang bertabur karang-karang elegan. Layaknya anak-anak yang baru saja menemukan kembali mainan kesayangannya yang hilang, saya kegirangan. Begitulah reaksi alami dari keindahan panggilan alam, syukur tingkah polah saya tidak dilihat orang. 

8. Seulako: Keindahan Tersembunyi Pulau Tak Berpenghuni



Pertanyaan, siapa yang tidak mengenal Pulau Rubiah? Nyaris tidak ada bukan?
Siapa yang tahu letak Pulau Seulako? Nah, mulai bingung deh!
Pulau Seulako adalah pulau mungil yang terletak berdekatan dengan Pulau Rubiah. Mungkin tidak semua orang akan mengubris kesendiriannya. Namun kisahnya yang melegenda sempat membuat saya terpana. 

Alkisah pulau kecil yang terpisah ini sangat terkenal di kalangan para penyelam yang menyukai keindahan taman bawah laut. Kealamiannya yang belum terjamah tangan manusia membuat pulau ini memiliki bermacam biota laut yang unik dan terumbu karang yang menarik. Selain itu, pemandangan di sekitar pulau ini juga tidak kalah indahnya. Seperti hutan-hutannya yang rimbun dengan berbagai macam spesies burung yang hidup bebas di dalamnya. Mungkin benar kalau pulau ini tidak berpenghunikan manusia, namun ia menjadi syurga kehidupan bagi ekosistem makhluk hidup lainnya.  


9. Diving dan Snorkeling di dalam Batik Samudra



Akhirnya tibalah saatnya saya membeberkan ritual wajib yang dilakukan oleh hampir seluruh wisatawan yang pernah berkunjung ke Sabang. Ritual apakah itu? Iya, benar sekali. Ritual menceburkan diri ke dalam lautan alias diving dan snorkeling.

Berhubung kebanyakan dari kami hanya bisa berenang dengan gaya batu, maka kami memilih paket snorkeling  saat liburan ke Sabang beberapa pekan yang lalu. Jika ditanya mengapa tidak mencoba diving saja? Jawabannya sederhana, saya tidak ingin teman-teman saya menjelma menjadi terumbu karang karena tidak bisa muncul kembali ke permukaan setelah menyelam.


 
Pada dasarnya kegiatan snorkeling ini juga dapat dilakukan di daerah Pantai Teupien Layeu Gampong Iboih. Namun kebanyakan pelancong lebih memilih Pulau Rubiah untuk ekspedisi sekaligus menyapa ikan-ikan yang sangat gemar makan mie instan. Setiap orang tentu punya selera, bahkan ikan juga.

Untuk menuju pulau Rubiah, biasanya kita menyewa kapal. Ada dua jenis kapal yang bisa digunakan untuk menghubungkan dua daratan ini. Kapal/perahu khusus penyeberangan dan kapal terumbu karang. Kesamaan kedua jenis kapal ini adalah para penumpang akan diantar pulang pergi dari Iboih-Rubiah. Sedangkan perbedaan kontrasnya adalah kapal terumbu karang memberikan kita kesempatan untuk berkeliling pulau Rubiah sambil menikmati pemandangan karang batik dan biota laut lainnya dari kaca tembus pandang pada bagian tengah kapal tersebut.


Perlu diketahui bahwa sebelum menuju Pulau Rubiah, ada baiknya mengganti baju untuk berenang terlebih dahulu. Gunakan pakaian renang yang sopan dan nyaman. Menurut aturan setempat, dilarang menggunakan bikini bagi wanita dan hanya celana renang bagi pria saat berenang di kawasan Iboih dan Rubiah. Sebelum berenang, saya sarankan untuk menggunakanlah sunscreens water-resistant ke seluruh area tubuh dan wajah. Ingat, tujuan kita adalah untuk melakukan aktifitas snorkeling, bukannya untuk menjadi kleng (bahasa Aceh: hitam/gosong).

Berikut daftar harga dan hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum melakukan aktifitas snorkeling:

NB: Biaya tersebut sewaktu-waktu dapat berubah, sesuai dengan kondisi dan kelihaian dalam bertransaksi. 

10.Game Pesona Pariwisata Bahari Aceh

Pariwisata Aceh

"Bisakah seseorang jatuh cinta pada hal yang bahkan belum pernah dia temui sebelumnya?" Sekilas kata-kata romantis semacam itu terdengar gombal dan dianggap sekedar pemanis nuansa yang tidak terjaminan kepastiannya. Namun di sini saya ingin membuktikan bahwa terkadang hal itu benar adanya. 

Tahun 2015 silam, saya bersama rekan saya membuat sebuah permainan berjudul Cempala dengan latar belakang pemandangan alam Aceh. Salah satu tema yang kami angkat adalah pemandangan hamparan lautan Sabang. Pada saat proses pembuatan game tersebut, saya sama sekali belum pernah mengunjungi kota Sabang. Berkali-kali saya merencanakan kunjungan wisata tersebut, namun berkali-kali bubar di tengah jalan. Sakitnya itu, di sini, di dalam hati. Namun, kerinduan itu akhirnya saya tuangkan secara positif melalui sebuah karya game edukasi yang bertemakan pariwisata bahari Sabang. 


Game Cempala Level 2 Dengan Tema Panorama Bahari kota Sabang
Alhamdulillah, keindahan Sabang yang saat itu hanya bisa saya rasakan di dalam hati dan angan, sepenuhnya tertuang indah di dalam game Cempala. Hingga saat ini, permainan tersebut telah dimainkan sebanyak lebih dari 1000 kali oleh pemain dari 40 negara di seluruh dunia. Dengan demikian, secara teknis, saya sudah menjalankan tugas duta pariwisata Sabang untuk memperkenalkan keindahan panoramanya kepada 1000 orang dari berbagai belahan dunia. Tentu terdapat peluang yang besar bagi mereka untuk mengenal Sabang lebih dekat dan berkunjung ke tempat ini suatu hari nanti. Faktanya, hingga saat game Cempala di publikasikan, saya bahkan sama sekali belum mengunjungi Sabang secara langsung. Demikianlah cinta bekerja, dia memiliki pesonanya tersendiri. Seperti yang pernah disebutkan oleh seorang komikus ternama Indonesia, Sweta Kartika, "jika ragamu tak bisa menjangkau dirinya, biarkan karyamu yang mencumbu hatinya". Asyik!
Selain game Cempala, sebuah karya lainnya yang juga merupakan buatan para pemuda Aceh yang bertemakan keindahan bahari juga disajikan dalam permainan yang berjudul Lada Sicupak. Game tersebut mengisahkan pertualangan bahari kerajaan Aceh masa silam. Permainan Lada Sicupak ini juga tidak kalah serunya dari game Cempala. Jadi, game Lada Sicupak ini juga sangat patut untuk dicoba. Demikianlah 10 rahasia euforia pariwisata bahari kota Sabang yang saya alami. Jadi, kamu kapan berlayar ke Sabang?





Subscribe to receive free email updates:

15 Responses to "10 Rahasia Euforia Pariwisata Bahari Kota Sabang Provinsi Aceh"

  1. Keren banget, Sabang emang patut di kunjungi. Dan yang bikin saya kagum, Mbak Adminya bisa bikin game, sip banget lah pokonya. Dan "menang nih"......

    BalasHapus
  2. Wah, 100% setuju sama Amir. Ada misteri lain tentang Sabang yang cukup unik lho. Konon katanya, kalau kita pernah ke Sabang dan secara tidak sengaja mengucapkan "ah, Sabang ini biasa aja, cukup sekali dah ke sini" maka saksikalah ANDA AKAN KEMBALI LAGI KE PULAU INI secara sengaja ataupun tidak. Keren kan?

    BalasHapus
  3. Keren tulisannya.
    Selamat yaa, jd 1st winner blogging competition.
    Salam kenal & sukses slaluuu ;)

    BalasHapus
  4. Ayuuuu selamat juara satuu. Ditunggu makan2nyaaa

    BalasHapus
  5. Selamat ya kak. Tulisannya juara 1 lomba blog sabang marine festival. Isinya komplit kali... :D

    BalasHapus
  6. Selamat ya Mba....
    tulisannya beda memang :)

    BalasHapus
  7. Wew! Nak sangatlah kita orang kembali lagi ke Sabang

    BalasHapus
  8. Ceritanya keren, pantes buat menang. Btw, selamat ya kak. 😊

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah....
    Terima kasih semuanya...
    Aku SABANG kalian semua (^_^)

    BalasHapus
  10. Selamat ka Ayu... semoga ikutan "keciprat" juga rejekinya hahahahha

    BalasHapus
  11. selamat kakak.. ntap dah tulisannya

    BalasHapus
  12. Terima kasih atas kunjungan dan apresiasinya teman-teman. Kritik dan saran yang membangun akan Ayu terima dengan senang hati.

    BalasHapus
  13. Assalamualaikum. Salam kenal cut kak Ayu ☺
    Luar biasa ulasan cut kak disini. Saya ada 3 buah "i" untuk itu : Informatif, Ilmiah, dan Iiiiihh pingin ke Sabang lageee. (Maaf kan saya)

    Menarik sekali cut kak, sangat jelas informasi nya. Wisata Sabang nya ternyata bukan itu2 saja ya.. Tapi saya recommend untuk ke Gunung Api Jaboi kak, masih aktif dan bau belerang nya bisa jadi sensasi.

    Good promote kak, Sabang di beberkan rinci disini. Lengkap. Kalau ga juara, saya protes.

    Terakhir.. Saya mau kritik anda cut kak. Kenapa saya yang sudah bilang "Gini aja Sabang, cukup sekali aja lah" , Ga juga balik2 ke Sabang.. ��

    Selamat sekali lagi Kak Ayu, dan salam kenal sekali lagi juga..

    Wassalam.

    BalasHapus
  14. Wa'alaikumsalam...
    Alhamdulillah, terima kasih atas apresiasi sekaligus kritikannya Fauzan.
    Semoga nanti Fauzan punya kesempatan untuk berlibur ke Sabang lagi ya! Aamiinn...
    Jadi harus optimis Ok.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya!
Besok-besok mampir lagi ya!