Sail Sabang, Gerbang Cinta Para Penunggu

Credit to: Tourguide Sabang, abang becak kece, Saiful

"Cinta adalah lautan yang tak bertepi, langit hanyalah serpihan buih belaka" (Jalaluddin Rumi).


Bahasa terbaik yang tak bosan dituturkan dan didengarkan oleh manusia adalah bahasa cinta. Namun banyak yang lupa bahwa cinta itu bukan sekedar kata benda. Ia butuh aksi, karena jika diendapkan terlalu lama akan melumpuhkan reaksi. Salah satu dari banyak faktor yang menyebabkan cinta kerap kandas adalah 'menunggu'. Menunggu itu tidak enak rasanya. Jika tak percaya coba tanya istrinya bang Toyib yang menunggu si abang tak pulang-pulang berkali-kali lebaran. Menunggu dalam ketidakpastian bisa membuat seseorang terindikasi penyakit baper kronis. Pada stadium tertinggi bisa mengakibatkan efek kirologi kritis bagi si penderita, sikap suka mengira-ngira tanpa bukti nyata. Begitu juga kiranya dengan rasa cinta terhadap suatu momen destinasi wisata, Sail Sabang contohnya. Segala keindahan akan terasa biasa saja jika kita menjelmakan diri sebagai seorang penunggu di depan layar kaca. Semuanya tak akan sempurna jika belum menginjakkan kaki dan melihat sendiri keindahan alamnya.

Alam Sabang itu kutukan bagi para penunggu. Mengapa demikian? Bayangkan, sekali datang saja rasanya tidak cukup, apalagi tak pernah ke sana? Alamak, apa kata dunia? Nah, dari pada menunggu berlama-lama dan sekedar teuhawa-hawa menerka-nerka keindahan bahari dan alam Sabang, mari saya suguhkan satu dua godaaan agar goyang iman para penunggu di alam maya sana.


Sabang, Bukan Sekedar Lautan Biasa
Sabang tentu identik dengan lautan. Namun, hanya mereka yang pernah benci dan terpanggil kembali ke pulau ini yang dapat melihat sisi lain dari kota wisata penuh khazanah budaya nan mistis. Seperti pengalaman yang pernah saya alami ketika menganggap remeh wisata Sabang di momen Sail Indonesia beberapa tahun silam. "Ah, pasir putih gini doang, di Banda mah banyak," saya bertutur pongah di dalam hati. Entah nyasar atau bagaimana, saya sempat mengikrarkan diri untuk tidak kembali ke pulau mungil ini. Bagi saya, Sabang pada pandang pertama rasanya biasa saja. Namun, karma memanggil saya kembali untuk membuka mata dan hati. Sehingga akhirnya saya jatuh hati lagi dan lagi. 

Credit to: Tourguide Sabang, abang becak kece, Saiful
Belum puas dengan godaan lautnya, berkunjung ke Sabang layaknya meminum air zam-zam, beda waktu beda rasa beda nuansa. Kemari godaaan datang lagi, ketika bang Saiful, warga asli Sabang yang menjadi tourguide saya beberapa waktu lalu mengirimkan foto-foto ini.  "Alamak, becak mana becak, bang", rasanya mau segera melepas rindu ke sana. Secara salah satu transportasi pariwisata Sabang terkece adalah becak. Menjadi penunggu memang menyiksa ya.



Salah satu pesona Sabang lainnya di samping lautan indah adalah danau yang dimilikinya. Sebut saja salah satunya danau Aneuk Laot. Danau seluas 1.500 m x 250 m dengan kedalaman rata-rata 20 m ternyata mampu menyediakan cadangan air baku sebesar 6.750.000.000 ton. Anologinya begini, jika seluruh air danau tersebut digalonkan maka diperkirakan jumlah galon yang berisi air tersebut mampu memenuhi luas seluruh daratan di benua Asia. Suatu potensi alam yang luar biasa.  

Credit to: Tourguide Sabang, abang becak kece, Saiful

Jika dibandingkan dengan pelabuhan Singapura yang untuk sekedar memperoleh air bersih harus nebeng Johor, maka potensi ketersediaan air bersih bagi para pelaut maupun yatcher menjadikan Sabang menang banyak.

Credit to: google, edit: www.ayuulya.com

Sabang, Pesan Cinta Para Warganya

Kisah Sabang sebagai destinasi wisata bahari andalan negeri memang tak terbantahkan. Namun ada sedikit rasa  penasaran pada diri saya akan warganya. "Benarkah Sabang sebagai destinasi pariwisata Indonesia terkhusus Aceh mendapatkan restu warganya? Benarkah Sabang sebagai pelabuhan bebas dan perdagangan bebas mendatangkan berkah bagi warganya?"

Berdasarkan rasa penasaran ini, beberapa hari yang lalu saya mencoba menganalisa beberapa data dari karya-karya ilmiah. Adapula penikmat wisata bersusah-susah untuk meninjau ulang sedetail itu? Mungkin sebahagian orang akan mempertanyakan bahkan mencibir demikian. Namun tak ada hal yang terasa sia-sia untuk dilakukan selama kita melakukannya berdasarkan cinta, bukan? Andai teman-teman, merasakan sensasi keindahan alam dan keakraban masyarakat Sabang seperti yang saya alami, pasti kalian akan paham sendiri.

Dokumen pribadi

Nah, dari data yang berhasil saya tinjau ternyata 30 responden (warga asli Sabang) yang berhasil diwawancara secara mendalam (deep interview) untuk memberikan berbagai pendapat. Dari total responden yang ditanyai, hanya 2 orang atau 6,67 persen menjawab sangat optimis Sabang akan maju, 53,33 persen atau 16 orang lainnya menjawab optimis Sabang akan maju. Adapun 12 orang dengan persentase data sebesar 40 persen menjawab pesimis Sabang akan maju.

Jika ditinjau lebih jauh, masyarakat yang menanggapi secara pesimis merupakan mereka yang bermatapencaharian sebagai petani, nelayan dan pedagang. Mereka adalah masyarakat menengah ke bawah yang tidak menamatkan SLTA dan merupakan penduduk asli Sabang. Adapun masyarakat yang optimis dan memberikan jawaban positif terhadap kemajuan Sabang sebahagian besarnya bermata pencaharian sebagai Pegawai Negeri Sipil, Pengusaha dan Pedagang. Alasan mereka memberika perspektif tersebut karena telah maju dan berkembangnya peraturan serta didukung dengan fasilitas memadai baik sarana maupun prasarana di Sabang. Nah, jika melihat secara cermat, ternyata sebahagian besar warga Sabang sudah merestui tanah kelahiran mereka dijadikan sebagai tempat destinasi pariwisata untuk menyambut hangat para tamu.  

Namun rasa penasaran saya belum terobati sampai di situ. Sebuah hasil penelitian  tentang destinasi Sabang lainnya juga saya lahap. Alamak, penyakit kepo ini munculnya tanpa permisi, sesuka hati. 

Dari penelitian tersebut disebutkan bahwa responden percaya bahwa melalui pariwisata memberikan harapan yang besar terhadap peningkatan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dengan kata lain untuk hal kepercayaan, masyarakat memberikan respon yang positif. Umumnya masyarakat relatif lebih menerima program pengembangan pariwisata di Sabang sepanjang dijalankan dengan adil dan bijaksana. Hal ini berarti, di dalam pengembangannya, pihak BPKS dan pemerintah kota Sabang diharapkan dapat mengakomodasi sikap masyarakat tersebut  agar Kawasan Pelabuhan Bebas Sabang benar-benar dapat bermanfaat dan didukung oleh masyarakat lokal.

Sungguh sebuah kelegaan bisa membaca berpucuk-pucuk surat cinta warga Sabang di dalam jurnal penuh data dan angka. Ah, Sabang, sekarang saya punya lebih banyak alasan untuk datang dan menggoda para penunggu di berbagai sisi dunia maya. 

Dokumen pribadi



Referensi:

Rizal, Syamsul, Persepsi Masyarakat Sabang Terhadap Ditetapkannya Kembali Sabang sebagai Zona Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas, Pusat Penelitian Ilmu-ilmu Sosial dan Budaya, Unsyiah: 2001

Pribadi, Jeliteng & Nurkhalil, Sikap Masyarakat Terhadap Program Pengembangan Pariwisata Sebagai Salah Satu Program Unggulan pada Kawasan Pelabuhan Bebas Sabang, Unsyiah: 2003. 

 

 

  




Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Sail Sabang, Gerbang Cinta Para Penunggu"

  1. Sampai hari ini belum kesampaian ke Sabang :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayolah bang ke Sabang. Tak bosan menjadi penunggu terus?

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya!
Besok-besok mampir lagi ya!