10 Pembelajaran Hidup Berharga Memasuki Usia 30 Tahun

Waktu kecil dulu saya sempat penasaran, "Bagaimana sih rasanya menjadi orang dewasa?" Lantas menjelang remaja, saya semakin penasaran, "Seasyik apa sih jadinya kelak ketika saya menginjak usia kepala dua atau tiga?" 

Kalau diingat kini, pertanyaan semacam itu sungguh konyol. Menjadi dewasa itu sungguh sebuah perangkap. Tak ada massa yang paling membebaskan selain ketika menjadi anak-anak atau remaja. Persis seperti petuah yang dinyatakan oleh Fiersa Besari. 

Menjadi dewasa adalah sebuah jebakan. Menjadi anak kecil adalah sebuah kerinduan.

Pernyataan tersebut bukan dimaknai secara harfiah. Bukan berarti sebaiknya seseorang stop bertumbuh dan tetap bergaya kekanak-kanakan ya. Namun, pernyataan tersebut seperti sindiran yang mendeklarasikan bahwa semakin bertambah umur, manusia seakan semakin banyak menerima tuntutan dan larangan yang mengikis sisi kemanusiaannya sendiri. 

Kejujuran, kebebasan jiwa, daya kreativitas, imaginasi, rasa penasaran, keluguan, kelucuan, fokus, dan lain sebagainya. Kebanyakan para manusia berumur itu bertumbuh dengan mengikis berbagai hal menyenangkan sebagai manusia. Bersandiwara, memakai topeng. Mungkinkah itu semua sejenis mekanisme bertahan hidup dari tekanan tuntutan sosial dan ragam stigma masyarakat? Entahlah. 

Lantas, apakah dengan bertambahnya umur dapat menjamin seseorang semakin dewasa? Ah, tidak juga. Saya pribadi justru melihat lebih banyak sikap dewasa yang ditunjukkan oleh anak-anak SD dibandingkan para tetua. Itu fakta yang membuat saya kerap geleng-geleng kepala. Belia yang berjiwa dewasa dan tetua yang bermental primitif.  

Ingat, tua itu pasti. Dewasa itu pilihan.

Namun, walau hari ini resmi berkepala tiga, sejatinya saya tidak terlalu paham sih makna dan standar seseorang yang disebut dewasa itu bagaimana. Maafkan ketidakpintaran saya ya. Hehe. 

So, kali ini saya hanya akan berbagi pembelajaran hidup yang mampu saya pahami saja ya. Supaya enggak rugi-rugi kali lah hidup di muka bumi ini. Mungkin bisa memberi sedikit manfaat untuk pembaca. Oke deh, berikut saya bagikan tentang  10 Pembelajaran Hidup Berharga Memasuki Usia 30 Tahun. Yuk, kita bahas.

Eitsss... sebelum memulai, yuk kita baca terlebih dulu pesan sponsor berikut ini.

Selalu Ingat Untuk Menggunakan 4 Kata Sakti Ini

Sebelum memulai kesepuluh pengalaman hidup berharga yang telah saya janjikan, mari bersama kita ingat kembali 4 kata sakti yang mampu memuluskan perjalanan hidup seseorang di dunia ini. Diingat dan dipraktikkan saja oke.

PERMISI, MAAF, TOLONG, TERIMA KASIH. 

Jika kita mampu menggunakan keempat kata sakti tersebut pada momen yang tepat, maka yakinlah bahwa sesungguhnya kita telah berhasil menangani 90% dari ragam masalah kehidupan yang kita miliki. Namun ingat, karena keempat kata tersebut sakral, ada baiknya tidak digunakan sembarangan oke. Supaya nilai kesaktiannya enggak berkurang gitu lho.

Baiklah, adapun 10% masalah lainnya, mungkin bisa diatasi melalui kesepuluh tips berikut ini. Selamat membaca.

1. Pertama-tama, Selamatkan Dirimu

Nasihat ini saya peroleh dari salah seorang murid saya yang duduk di bangku kelas 2 SD. Saat itu kami sedang membahas sebuah pembelajaran tematik dengan topik Kasih Sayang. 

Saat saya melempar tanya kepada murid-murid kecil nan imut itu, "Kira-kira kita harus menyayangi siapa saja ya, Neuk?"   

Lalu berlomba-lombalah mereka memberikan jawaban, "adik, mamak, ummi, kelinci, abang, kucing, abah, ayah, kodok, kakak, nenek, Allah," ... lis terus belanjut, berlanjut, dan berlajut. Hingga riuh pun mereda. 

Kemudian di penghujung sayup-sayup pendapat, seorang murid perempuan bernama Qaisha, yang sedari tadi diam, tiba-tiba bercelutuk, "Menyanyangi Diri Sendiri", katanya, sembari memejamkan mata, memiringkan kepala, dan menyilangkan kedua tangannya di atas dada. 

Syash... seketika jantung saya berdesir cepat. Seorang anak kecil berusia 7 tahun mengingatkan saya tentang pentingnya Self-love? What... yang benar saja? Seketika napas saya terasa berat. Mata saya pun mulai berkaca-kaca. 

Tahun 2016, melalui nasihat bijak seorang kanak-kanak, perlahan-lahan saya mulai belajar berhenti "menyenangkan" orang lain, jika itu menyiksa atau menghancurkan diri saya sendiri.  Baik itu pertemanan, pekerjaan, keluarga, sosial media, makanan, aktivitas sehari-hari, dan berbagai hal lain yang memberikan dampak buruk jangka panjang yang lebih besar dari manfaatnya. SAYA BERHENTI.

Mencintai diri, self-love, hanya berlaku ketika kita melakukan aktivitas yang menjadikan diri kita sebagai pribadi yang lebih baik, lebih sehat, lebih damai.   

Dan... saya belajar meninggalkan hubungan dan aktivitas tak sehat (toxic), memaafkan kebodohan diri, menolong diri sendiri, menolong orang-orang yang siap menerima bantuan, juga belajar meminta pertolongan, membentuk lingkaran pergaulan yang lebih positif, mencoba lebih wawas diri, mengobati diri, bertumbuh.

Yah... easier said than done. Banting stir itu memang menyakitkan, kawan. Ketika diri menyadari bahwa keinginan untuk selalu menjadi hero merupakan sebentuk pengalihan isu karena tidak mampu menolong diri sendiri dan tidak tahu cara minta tolong, pastinya terasa sakit. Benar, sakit sekali, sampai mau mati rasanya. 

Namun, segala rasa sakit dan penderitaan itu harus dihadapi, bukan dialihkan, agar sembuh, agar bertumbuh. Lebih baik sadar bahwa diri sebenarnya pecundang, bukan? Jadi kita punya kesempatan untuk berubah.

Tidak ada definisi terlambat untuk menjadi versi diri yang lebih baik, diri yang lebih damai. Walaupun segala konsekuensi masa lalu tetap wajib kita pertanggungjawabkan. Tapi, kapan pun kita sadar, maka berubahlah menjadi versi terbaik kita dengan serius. Walau butuh waktu yang tidak sedikit untuk kembali berproses tentunya.


2. Semua yang Kamu Rasakan itu Benar

Manusia itu makhluk yang unik. Bahkan terlalu unik. Kita melihat dari sudut pandang yang beragam. Kita mendengar bermacam suara. Tubuh kita merasakan suhu dan cuaca yang tak sama. Kita mengecap beraneka level rasa. Kita membaui aneka aroma. Bahkan otak kita juga memproses informasi secara berbeda-beda. Sehingga, apapun yang kita rasakan, semua emosi yang kita sadari itu benar adanya bagi kita. Walau orang lain tak paham, walau orang lain mengatakan itu bukan.

 "Ah, kamu, itu aja pun sedih."

"Idih, baper kali pun. Canda, canda."

"Seharusnya kamu itu bersyukur, lihat orang lain yang lebih menderita."

Nah, sering kan kita menerima komentar semacam itu? Komentar positif yang mengiris hati (toxic positivity) berbalur penolakan kesadaran emosi a.k.a  emotional neglect. Perasaan kita kerap dibingungkan oleh komentar-komentar nyeleneh. Alhasil, emosi yang seharusnya tersalurkan sesuai dengan yang dirasakan tertahan, mampet, terus jadi mutan. Iya, mutan yang dilarikan menjadi kecanduan alkohol, narkoba, rokok, pornografi, gim, belanja jutaan, sosmed 24 jam, dan sebagainya.  

Sadari perasaanmu. Lalu evaluasi akar kebutuhan emosi sesungguhnya.
Oleh karenanya, menyadari perasaan diri itu penting. Dengan menyadari emosi, kita dapat melakukan evaluasi. Menilai kebutuhan emosional mana yang kurang. Karena sulit menyadari perasaan yang benar jika belum mampu menyadari perasaan yang keliru, ya kan? Harus sepenuhnya sadar dengan emosi diri, agar kelak kita tidak "mendempul lubang" yang salah. 

Sejatinya, tidak ada orang lain yang benar-benar mampu memahami kondisi kita, kecuali diri kita sendiri. Walau pun terkadang untuk sembuh kita tetap membutuhkan bantuan analis, dokter, psikolog atau bahkan alim ulama. Oleh karenanya, berkontemplasi itu penting. Self-awareness, kesadaran diri, juga super penting. Jadi ada baiknya kita mulai belajar mengenal dan mengelola perasaan diri sejak dini. Jika kamu pemula dan masih kesulitan mengenali perasaan, artikel 5 Cara Ampuh Mengungkapkan Perasaan dan Emosi (klik) mungkin dapat membantu. 


3. Semua Orang Takut dan Bingung. Namun...

Sependek kehidupan yang telah saya jalani, saya menyadari sejatinya banyak manusia yang mengalami tahapan kebingungan dalam menjalani hidup, tak terkecuali saya sendiri. Namun sayangnya, banyak juga di antara manusia yang berpura-pura sangat paham dan yakin dengan kehidupan yang telah dia jalani. Lantas, tanpa ba-bi-bu, merekomendasikan jalan hidupnya sebagai satu-satunya cara hidup terbaik yang seharusnya diikuti oleh orang banyak. Sesat lagi menyesatkan.

Kembali ke definisi awal. Kalau kita sepakat bahwa setiap manusia itu unik maka seharusnya wajar jika kita bingung. Mengingat kebanyakan kita baru pertama kali hidup di dunia kan? Sudah sewajarnya butuh waktu dan usaha untuk menata satu persatu jalan hidup yang sesuai dengan keunikan, kebutuhan, dan pemenuhan WHY kita. Jadi bingung itu wajar selama kita sudah mencoba mencari solusi terbaik menurut pemahaman dan kemampuan kita.

Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk serius berpikir dan merasa-rasa;

Bagaimana sebenarnya kehidupan yang saya inginkan dan butuhkan tanpa mengkhawatirkan pendapat dan penilaian orang lain?

Kebanyakan orang tidak ingin memikirkan hal semacam itu karena ketakutan. Takut menjadi berbeda. Takut menghadapi realita. Takut merasa. Takut untuk jujur pada nurani. Takut dipertanyakan. Takut dibicarakan. Takut dicemééh. Takut. Takut. Takut. Lantas lupa untuk hidup.  

Toh, pada dasarnya semua orang bingung. Semua orang takut. Jadi mengapa kita tidak mencoba menjalani hal yang kita gemari?

Peluang seorang manusia terlahir ke dunia adalah 1:400 triliun.
Terlalu langka untuk punya peluang terlahirkan kembali untuk kedua kali sebagai manusia di muka bumi ini. Iya, nyaris tidak mungkin terulang kembali. Lantas mengapa tidak mencoba menjalani hidup dengan baik sesuai yang kita inginkan?  
 


4. Segala yang Instan Biasanya Membahayakan

Tren di zaman modern ini adalah SERBA CEPAT. Tidak sepenuhnya salah sih. Mengerjakan sesuatu dengan cepat dan tepat terbukti justru ada bagusnya. Namun, sependek pengetahuan saya ya, dalam proses menjalani hidup biasanya segala hal dengan hasil cepat itu punya efek samping yang tidak baik.

Misalnya ingin cepat pintar lalu mencontek atau menjiblak karya orang. Ingin cepat kaya lalu korupsi atau punya tuyul kesayangan. Ingin cepat rupawan lalu menggunakan produk-produk kecantikan yang membahayakan kesehatan. Lapar lalu dengan kerap mengosumsi fast food. Pokoknya cepat, cepat, cepat, lalu celaka. 

Berproseslah. Cara instan itu benar-benar menggoda, namun efek sampingnya terlalu berbahaya.

Oleh karenanya, saya merekomendasi sebuah tahapan yang disebut PROSES. Segala hal yang dilakukan dengan proses yang baik, dengan mencurahkan sejumlah waktu dan energi yang tepat, biasanya membawa kepada "nilai sukses" yang berkah dan tahan lama. Setidaknya itu yang saya rasakan berdasarkan pengalaman saya.

Lagi pula, saya pribadi merupakan jenis manusia yang senang menjalani proses. Saya termasuk penikmat yang lambat. Malas akan hal yang dipaksa cepat-cepat.

5. Terlalu Percaya Diri vs Terlalu Rendah Diri

Saat merasa diri terlalu yakin atau terlampau percaya diri, selalu ingat kata-kata ini. 

Saya mungkin salah. Saya bisa saja gagal. Saya mungkin khilaf. Kamu mungkin tak sepenuhnya salah. Dia bisa jadi benar. Mereka tampaknya lebih tahu. dsb.

Kalimat-kalimat semacam itu berguna agar kita kembali membumi. Tidak terlampau tinggi berekspektasi pada diri sendiri. Belajar wawas diri. Tetap menjadi manusia.

Namun, saat terlampau rendah diri, coba ingat kembali kalimat-kalimat ini.

Saya pernah berhasil dan dapat mengulangi keberhasilan serupa lagi. Saya tahu kemampuan terbaik yang saya miliki. Saya pernah gagal namun mampu bangkit kembali. Seseorang pernah terbantu berkat kontribusi yang saya berikan. dsb.

Kalimat-kalimat semacam itu berguna membangkitkan kembali kenangan-kenangan positif agar kita tidak merasa ditelan bumi. Soalnya, kalau kita tidak pintar-pintar menjaga memori baik, bisa-bisa kita tergerus oleh begitu banyak pengalaman buruk plus menyedihkan yang kita temukan saat menjalani kehidupan.

Saya rasa sejatinya pengalaman buruk dan baik bisa saja sama jumlahnya pada setiap orang. Namun entah mengapa, kenangan buruk lebih mudah menohok dan lengket di alam memori manusia. Mungkin itu semata-mata sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri. Memori buruk menjadi alarm pengingat untuk tidak mengulangi ketololan yang sama lagi ke depannya.

6. Humor itu Hal yang Serius

Pelajari seni menikmati komedi dan menciptakan humor. Namun ingat, gunakan lelucon yang sehat. Semua orang senang tertawa namun tak ada yang suka ditertawakan, bukan?

Seumur hidup, dalam pergaulan, saya kerap mendengarkan beragam "humor sakit", yang sama sekali tidak lucu. Namun, orang-orang terpaksa tertawa hanya karena tidak enakan. Edan memang.

"Jika ingin menyampaikan kebenaran, buatlah mereka tertawa. Jika tidak, mereka akan membunuhmu."-Oscar Wilde- 

Banyak orang mengira bahwa humor hanyalah semata kejenakaan. Padahal melalui humor, kita dapat menilai banyak hal dari diri seseorang. Dari pola pikirnya hingga hasrat tersembunyi yang seseorang miliki. Jadi, humor itu merupakan hal yang benar-benar serius lho. So, investasikan waktu dan tenaga untuk mempelajari ilmu tersebut. Serius, humor itu banyak gunanya. 

7. Pilihlah Popularitas yang Tepat

Dulu saya mengira bahwa popularitas adalah indikator wajib bagi sebuah keberhasilan manusia. Nyatanya tidak juga. Terkenal bisa jadi salah satu acuan keberhasilan seseorang, namun bukan sebuah kewajiban. Tidak terkenal pun sebenarnya tidak masalah. Selama kita mampu merasa damai dengan diri kita sendiri, mampu terus berkarya, dan berkontribusi nyata.

Populer itu boleh selama kamu sanggup menghadapi efek sampingnya.

Akan tetapi, tidak dapat dimungkiri bahwa "dikenal banyak orang" membawa pengaruh positif tersendiri. Ya... meskipun negatifnya juga banyak sih. Oleh karenanya, jika ingin terkenal, minimal untuk memuaskan rasa penasaranlah ya, pilihlah jalan yang tepat. 

Tepat untuk siapa? Untuk diri kita sendiri, bukan orang lain. Seberapa siap kita dikenal dengan cara tertentu. Seberapa kuat kita menerima efek baik dan buruk dari popularitas itu. Namun, jika bisa memilih, tidak terlalu populer itu lebih baik sebenarnya sih.


8. Jujur itu Penting. Tapi ...

Ini curhatan untuk para manusia blak-blakan nan baik hati ya. Jadi begini. Saya sepakat bahwa jujur itu hal yang sangat penting. Benar-benar penting. Bahkan saya berpendapat bahwa lebih baik seseorang diam, mengambil waktu untuk bisa menyatakan kebenaran, dari pada dia menyenangkan hati dengan cerita dusta.

Jujur itu penting, tapi perhatikan situasi dan kondisi ya.

Namun, ada kalanya, para manusia jujur ini tidak melihat momentum dan kondisi. Benar, jujur itu penting, tetapi tidak semua harus dibicarakan saat itu juga. Ada kejujuran yang harus disampaikan pelan-pelan dan intim. Ada kejujuran yang bisa dinyatakan dalam lingkup umum. Namun, ada kejujuran yang hanya perlu ditelan sendiri, didiamkan, karena mungkin efek buruknya lebih besar jika dinyatakan.

9. Jangan Paranoid Harta dan Pengaruh

Islam sangat identik dengan anjuran bersifat qana'ah alias merasa cukup. Hidup sederhana. Namun sebagai seorang muslim, saya hanya bersepakat pada gaya hidup sederhana, bukan proses perjuangan hidupnya. 

Soalnya, disadari atau tidak, qana'ah ini justru sering "dipelesetkan" oleh orang-orang yang kehidupannya justru belum berkecukupan, baik secara ilmu maupun finansial. Orang-orang yang hanya ingin berusaha minimal namun tetap ingin menjaga gengsi tinggi. Yah... enggak apa-apa sih kalau kamunya emang malas usaha, tapi jangan ajak-ajak orang lain dong.

Jika mampu menjadi hebat dan bermanfaat, mengapa harus jadi biasa-biasa saja?

Oleh karenanya, saya lebih senang mencari referensi mental pada tokoh-tokoh islam yang mapan jiwa-raganya, pengetahuannya, dan bahkan hartanya. Misalnya Sulaiman as., Yusuf as., Muhammad s.a.w, Khadijah bint Khuwaylid, Al-Khawarizmi, Mansa Musa, Salahuddin Al-Ayyubi, Al-Ghazari, Ibnu Rusyd Al-Zahrawi, Abbas bin Farnas, Ibnu Sina, Mariyam Al-Astrolabiya al-'Ijliya, dan masih banyak lagi.  

Jadi, sebagai muslim, kita seharusnya memperkuat kembali literasi finansial dan numerasi yang dimiliki. Melek literasi sains dan digital. Serta tidak melupakan literasi budaya. Jadi, sebagai muslim, kita bisa memilih untuk menjadi hamba yang sederhana gaya hidupnya namun tetap super strong daya juangnya.

10. Momentum, Momentum, dan Momentum

Katanya, keberuntungan itu terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan ya kan? Nah, masalahnya kita tidak selalu tahu kapan waktu yang tepat akan datang. Karena momentum yang tepat kerap datang tiba-tiba. Jadi dari pada pusing memikirkan kapan, lebih baik telah siap sedia sejak kapan-kapan ya kan?

Keberuntungan = Kesiapan + Kesempatan

Berdasarkan pengalaman sih, momentum yang tepat itu memang kerap datang sekejap mata. Makanya, kalau kita enggak siap ya biasanya di-bye-bye-in doang sih sama dianya. Makanya, benar sih kalau yang namanya belajar itu sepanjang usia dan latihan itu sepanjang masa. Soalnya, kalau kita siap kapan pun, di mana ada kesempatan ya tinggal disikat dung. 

Jadi, jangan percaya yang namanya sekadar bakat dan keberuntungan. Semua itu butuh waktu dan usaha untuk diasah hingga menjadi profesional. Yups, semuanya butuh proses.

Nah, demikian sharing kali ini. Semoga ada manfaatnya. Jika tidak ada, maka maafkan saya atas kesia-siaan waktu Anda semua. Yang benar datangnya dari Allah, yang salah berasal dari kedunguan saya sendiri. Wallahu'alam. 

Banda Aceh, 11/08/2020 [Peaceful 30th].

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "10 Pembelajaran Hidup Berharga Memasuki Usia 30 Tahun"

  1. Benar, jujur itu yang terpenting..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups. Latihan jujur pada diri sendiri supaya bisa jujur pada orang lain juga kan ya.

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya!
Besok-besok mampir lagi ya!


(Komentar Anda akan dikurasi terlebih dahulu oleh admin)