Kita Serupa Alam, Sehidup Sepenanggungan

Semilir angin lembab, aroma humus tanah yang kuat, deru deras aliran sungai jernih, dan sayup-sayup kilauan emas mentari di celah-celah pepohonan menjulang lagi rimbun. Saya hanya mampu bergeming, terpesona. Lalu suasana alam lengang itu dibumbui hiruk pikuk serangga berdengung, kodok mengorek, burung-burung bersiul, dan primata bergelantungan sembari sahut-sahutan. Rasanya saya ingin hidup di sini saja, lamat-lamat menikmati kehadiran mereka. 


“Yuhu… Akhirnya berhasil menapakkan kaki di ‘jantung bumi’.” Saya berteriak, kegirangan setengah mati, dalam hati.




Bagi saya pribadi, 2018 merupakan tahun magis. Pasalnya, nyaris sepanjang tahun itu saya mendapatkan kesempatan untuk berkeliling ke beberapa wilayah Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Provinsi Aceh. Dari Gayo Lues, Bener Meriah, Aceh Barat Daya hingga Aceh Selatan.

Pertualangan menapaki KEL merupakan salah satu daftar mimpi teraneh yang pernah saya bicarakan bersama kawan-kawan dulunya, saat masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN). Masih terngiang jelas percakapan kami tentang keinginan untuk traveling ke suatu tempat tak biasa ketika kelak beranjak dewasa. Saat mendiskusikan wilayah tujuan, seluruh teman-teman bercita-cita jalan-jalan ke luar negeri, minimal daerah-daerah sekepulauan dengan ibu kota Indonesia. Hanya saya seorang diri yang berkeinginan keliling Aceh, berharap mendapatkan kesempatan masuk pedalaman untuk  menyusuri hutan-hutan.


KEL atau lebih dikenal dengan sebutan Leuser merupakan satu-satunya kawasan ekosistem di bumi yang keempat satwa kuncinya (gajah, harimau, badak, dan orang utan) masih hidup bersama secara alami. Dengan kawasan seluas 2,6 juta hektare, Leuser dikenal dunia dengan kekayaan fauna dan floranya. Saat mengunjungi kawasan penyangga Leuser dan bertemu penduduk setempat, sikap saya jelas terlihat bagai anak kota yang super kepo pada hutan. Ya… sempat menjadi guyonan masyarakat juga sih. Hehe… 

Mungkin masyarakat heran melihat sikap saya yang tidak henti-hentinya mengagumi pepohonan raksasa dengan aliran air jernih di mana-mana. Bisa jadi, bagi masyarakat pedalaman, pemandangan alami seperti itu merupakan hal yang biasa. Namun bagi saya, sang manusia nestapa penuh cita dan cinta ini, dapat secara langsung menikmati keindahan alami KEL merupakan sebuah kemewahan yang tak tergantikan, bahkan oleh uang.

Akan tetapi amat disayangkan, kenangan manis itu seketika terasa getir di tahun 2019 ini. Sederet kabar bencana terus menggema, bukan hanya di Aceh namun juga di beberapa wilayah Indonesia lainnya. Dari Longsor di Sukabumi, banjir bandang di Aceh Tenggara, erupsi gunung berapi di Lembang, hingga dahsyatnya kebakaran hutan di Riau.




Disadari atau tidak, dalam berkah kenikmatan alam yang kaya, saya mendapati bahwa sejatinya kita juga diiringi sederet potensi bencana alam yang tak berkesudahan. Sehingga, kepedulian terhadap lingkungan sekitar menjadi penting, sebagai wujud wawas diri manusia akan keramahan semesta untuk menerima kita hidup bersama dengannya.

Lantas jika ditanya, mengapa proteksi alam dan kepahaman akan mitigasi bencana menjadi penting? Tentu jawabannya sederhana. Hal tersebut merupakan cerminan tanggung jawab dan rasa syukur kita kepada Sang Pencipta karena Dia telah menjadikan alam mau berbaik hati untuk menyejahterakan kehidupan umat manusia.





Alam bagi manusia laksana ibu. Ketika keseimbangan alam terganggu, hal itu akan berimbas pada rusaknya tatanan persediaan kebutuhan esensial manusia itu sendiri, seperti keringnya mata air jernih, tercemarnya udara bersih, matinya tumbuhan, semakin panasnya suhu bumi, dan sebagainya.  

Ketika alam dirusak, secara sadar atau pun tidak, sebenarnya manusia sedang berinvestasi untuk memperpendek peluang hidup mereka di muka bumi. Manusia dan alam saling terkait. Kerusakan alam akan menuai rentetan kerugian panjang bagi segala makhluk hidup, termasuk juga manusia. Oleh karenanya, manusia dan alam harus saling menjaga. Karena ketika kita jaga alam, pastinya juga alam jaga kita.





Sadar betul akan pentingnya pemahaman keterkaitan anugerah beriring potensi musibah alam raya serta keterkaitan alam dan manusia, saat Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menggelar seminar terkait Literasi Bencana dari Masa ke Masa, buru-buru dan tanpa malu-malu saya langsung nimbrung (24/4/2019). 

Seminar tersebut memberikan saya pemahaman bahwa mengharapkan bencana untuk tidak menyapa Indonesia, terutama Aceh, hanyalah dongeng semata, alias mustahil. Hal tersebut didasari oleh posisi Aceh yang terletak di kawasan ring of fire alias Cincin Api Pasifik. Di mana kawasan ini dianugerahi alam yang subur dan indah namun tak jauh-jauh dari potensi bencana yang bisa datang kapan saja. Maka penting bagi kita untuk kenali bahayanya, kurangi risikonya





Ketika salah seorang pemateri, Alfi Rahman, Ph.D., menyebutkan bahwa, “Terdapat dua penyebab umum seseorang terkena dampak bencana, yaitu kurangnya informasi tentang bencana dan kurangnya pengetahuan terkait pengurangan risiko bencana.” Di saat itulah, sebagai warga Aceh yang merasakan langsung dampak bencana gempa bumi dan tsunami tahun 2004, saya sadar bahwa betapa masih minimnya keilmuan saya (bahkan mungkin juga masyarakat umumnya) terkait bencana dan mitigasinya. Oleh karenanya, budaya sadar bencana tentu penting untuk digalakkan kembali sejak dini.

Sebagai seseorang yang kerap bergaya konservatif a.k.a jadul, alam menjadi tempat pelarian ternyaman. Jika ada orang yang gemar jalan-jalan ke mall atau café untuk bersantai dan melapas penat, maka saya justru menyukai aktivitas yang tidak jauh-jauh dari kesunyian alam. Saat menelusuri belantara, gawai kita akan kerap mengalami putus koneksi, namun anehnya justru kita merasa begitu lega dan terkoneksi sempurna dengan diri sendiri.




Sehingga, dalam menjalani kehidupan, saya berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan aktivitas yang minim dari semboyan merusak alam. Misalnya dengan menggunakan tumbler untuk mengurangi penggunaan botol plastik, belajar mendaur ulang sampah, membawa goodie bag sebagai pengganti kantong plastik, dan ragam aksi sederhana namun kontinu lainnya. 

Layaknya istilah “The Butterfly Effect”, ungkapan Lorenz di tahun 1963, yang menyatakan bahwa terdapat mekanisme keterkaitan perubahan (sekecil apa pun) pada suatu sisi bumi yang akan memungkinkan sederet dampak pada sisi bumi yang lain (small change that could have huge consequence). Dengan kata lain, walau kehadiran bencana kerap tidak dapat diprediksikan, namun kita harus memahami bahwa setiap aksi sesederhana apapun akan memberikan reaksi. Ringkasnya, mekanisme keseimbangan alam akan terjadi sebagai wujud bumi menyesuaikan diri terhadap ragam kondisi yang ditimbulkan oleh para penghuni di dalamnya.



Selain budaya sadar bencana dan pemahaman akan keterkaitan alam dan manusia, untuk menjadi manusia tangguh bencana, kita juga harus sering-sering belajar dari sejarah bencana yang sebelumnya pernah terjadi. Hal itu yang mendasari saya kembali mengikuti seminar istimewa yang digelar BPBA pada awal September lalu (09/09/2019). Bertajuk Paleotsunami Studies, seminar terkait rekam jejak sejarah tsunami purba Aceh menghadirkan dua peneliti senior asal Earth Observatory of Singapore (EOS) sebagai pembicara. Mereka menjelaskan hasil penelitian akan sedimen tsunami purba yang terperangkap di Guha Ek Luntie di kawasan Aceh Besar sebagai bukti sejarah bahwa bencana tsunami Aceh sejatinya sudah pernah terjadi bahkan sejak 7400 tahun yang lalu. Informasi terkait tsunami purba membuat saya terperangah. Pendekatan BPBA dalam mengedukasi masyarakat cukup layak diberi salut.





Awalnya, saya mengira pesona akan sejarah tsunami purba hanya berhenti di seminar itu saja, hingga sang moderator mengumumkan dan mengundang para peserta seminar untuk berkunjung langsung ke gua tsunami purba tersebut demi mendapatkan informasi terkait penelitian lebih lanjut. Di saat itulah saya merasa BPBA begitu swag dalam memberikan kesempatan masyarakat belajar lebih banyak terkait sejarah bencana dan mitigasinya.

Pucuk di cinta ulam pun tiba, tidak menyia-nyiakan kesempatan, lima belas orang peserta ragam profesi langsung bertolak menuju gua Paleotsunami Ek Luntie selang dua hari pascaseminar Paleotsunami Studies yang digelar BPBA.  

Pada dasarnya, wisata alam bebas sudah menjadi kegemaran yang mendarah daging di diri saya. Namun wisata kali ini terasa spesial karena dilaksanakan bukan sekadar pelarian untuk melepas penat, namun ada misi edukasi mitigasi bencana di sana. Wisata edukasi mitigasi tsunami melalui gua purba Ek Luntie memberikan kesan mewah. Kapan lagi masyarakat biasa seperti saya bisa mendapatkan kesempatan belajar langsung dari para ahli terkait tsunami purba Aceh plus jalan-jalan ke tempat yang indah? Ah, sungguh terharu biru belau batin ini.





Tak hanya sekadar mengizinkan peserta memasuki gua dan melihat-lihat rekam jejak sedimen tanah tsunami purba, kami juga disambut langsung oleh sang peneliti, sebut saja namanya Petrick, yang mau menyisihkan waktu di sela-sela pekerjaannya untuk menggelar diskusi dan tanya jawab langsung terkait paleotsunami dengan peserta yang sedang melaksanakan wisata mitigasi tsunami. Serius, ini siapa sih yang tahajudan semalaman? Kok hidup jadi lempang dan bahagia amat gini ya? Hehe.





Nah, dari kedua seminar yang saya ikuti plus kesempatan wisata mitigasi, kami mendapatkan wejangan untuk menyebarluaskan informasi tersebut ke masyarakat. Mengingat, wisata sejarah tidak boleh hanya putus sebagai wadah mengenang bencana masa lalu saja, namun juga wajib menjadi kunci referensi untuk siap dan siaga jika kelak bencana menghampiri lagi. 

Mengutip istilah Yarmen Dinamika, salah seorang pemateri yang berhadir mengisi seminar Literasi Bencana dari Masa ke Masa, menyebutkan bahwa, “Keselamatan bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah perencanaan dan pengetahuan.”  Pastinya pengalaman bencana masa lampau ditambah pemahaman mitigasi masa kini, tentu menjadikan kita akan siap untuk selamat.



Tulisan terkait Kebencanaan dan Mitigasi di media massa:

1. Tabloid Iqra Dinas Arsip dan Perpustakaan




2. Koran Serambi Indonesia, Jurnalisme Warga



#TangguhAwards2019 #KitaJagaAlam #AlamJagaKita #SiapUntukSelamat #BudayaSadarBencana


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kita Serupa Alam, Sehidup Sepenanggungan"

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya!
Besok-besok mampir lagi ya!


(Komentar Anda akan dikurasi terlebih dahulu oleh admin)