Perwakilan 19 Negara Pelajari Sejarah Konflik dan Manajemen Perdamaian di Aceh

 
Make peace with universe. Take joy in it.
~Jalaluddin Rumi~

Banyak hal misterius yang disimpan oleh kehidupan, salah satunya dinamakan pertemuan. Ini bukan pertama kali saya dikejutkan dengan alur cerita hidup yang tak tertebak pada jawaban tanya mengapa dan bagaimana secara instans. Namun pada akhirnya, segelintir pengalaman remang-remang akan ingatan konflik dan tsunami memberikan jawaban hikmah akan cobaan tersebut. Bisa jadi hal itu menjadi sabab musabab pertemuan saya dengan mereka, para profesional dari 19 negara, Rotary Peace Fellow Class 24.

Program ini merupakan kegiatan study trip yang dilakukan untuk melengkapi persyaratan kelulusan para fellow dalam program Professional development certificate. Program tersebut berlangsung selama 9 hari 8 malam di Aceh. Adapun tujuan dari program sertifikasi pengembangan profesional Rotary Peace tersebut adalah untuk menghasilkan pemimpin yang dapat menjadi katalis perdamaian dan melakukan pencegahan konflik dan resolusi di seluruh belahan dunia.



Pada dasarnya, saya dan beberapa teman lain dari PPISB ditunjuk untuk menjadi tim penerjemah dan bertugas menemani para fellow selama kunjungan mereka di Aceh. Namun hal unik tiba-tiba terjadi. Alih-alih menjadi sekadar tim penerjemah dan pendamping, tiba-tiba saja kami mendapatkan kesempatan untuk ikut berpartisipasi serta mempelajari secara intens terkait manajemen konflik dan perdamaian di Aceh dari para pakarnya. Iya, ini kali pertama saya dapat bertemu dan mendengarkan pemaparan langsung dari para petinggi GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan pihak RI terkait sejarah konflik di Aceh. Suatu hal yang wow. Bayangkan saja, untuk bertatap muka secara langsung dengan mereka mungkin saja cukup sulit, apalagi berdiskusi secara ekslusif. Pertemuan tersebut menjadi sebuah anugerah sekaligus beban moral tersendiri bagi saya pribadi. Segala ilmu dan informasi yang saya dapatkan haruslah disebarluaskan agar dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak, terutama generasi muda Aceh sendiri. 

Oh iya, saya mau sedikit sharing nih. Sebagai seorang ambivert yang lebih kerap kesambet sifat introvert dari pada ekstrovert, mencoba menjalin relasi yang baik serta bergaul dengan bermacam rupa manusia dari 19 negara itu pada awalnya tidaklah mudah. Ada tantangan dan kendala tersendiri. Apalagi orang-orang yang hadir saat itu merupakan para profesional di bidang mereka masing-masing. Tentunya membicarakan segala hal terkait sejarah konflik dan manajemen damai di Aceh tidak boleh sembarangan. Ini terkait marwah bangsa Indonesia dan proses penyembuhan luka lama rakyat Aceh sendiri. So, kudu hati-hati dong.  

Sebenarnya banyak sih hal aneh bin nyeleneh yang ditanyakan para peserta. Semisal: kenapa non-muslim tidak boleh masuk mesjid dan cuma boleh di teras? Mengapa muslim tidak boleh menikahi non-muslim? Mengapa wanita di Aceh menggunakan jelbab, kalian dipaksa ya? dan berbagai pertanyaan lainnya yang tidak berhubungan langsung dengan tema konflik dan perdamaian yang kita bicarakan tadi. Namun, sebagai tuan rumah yang baik, kita tentu harus siap untuk memberikan jawaban-jawaban yang berbobot dan masuk akal bagi para tamu dari berbagai belahan dunia tersebut. Walau cukup bikin pusing, tapi pertanyaan-pertanyaan dijawab dengan baik serta memuaskan para penanya. Bahkan ada peserta yang curhat lho. Sebut saja namanya Chris. Menurutnya sebagai non-muslim LN a.k.a luar negeri, walau sudah kerap berpergian ke berbagai negara muslim, baru kali ini dia merasa begitu damai dan disambut hangat di Aceh. Dia merasa senang berada di Aceh, bahkan merasa takjub dengan kota Banda Aceh yang punya lima tempat ibadat sekaligus untuk lima macam agama. Saking senangnya, dia sudah berancang-ancang akan kembali mengunjungi Aceh dengan membawa serta keluarganya. Dari manajemen konflik, lah ujung-ujungnya tamasya. Nyambung? Iya dong. Itu artinya indikator perdamaian di Aceh sudah terbukti. Mana ada orang berwisata jika tak aman dan nyaman. Iya gak sih? Oke deh, insyaAllah, nantilah kapan-kapan saya buatkan rangkuman cerita dari kisah tanya-jawab yang aneh bin ajaib ini ya.




Nah, kembali lagi pada kisah study trip Rotary Peace. Program ini hampir seluruhnya diisi dengan agenda seminar dan diskusi khusus dengan menghadirkan para tamu undangan perwakilan GAM dan RI di masa konflik. Selain itu, para pakar yang membidangi masalah perdamaian  dan konflik di Aceh juga hadir, salah satunya adalah Lilianne Fan. Lilianne merupakan seorang Antropolog Budaya dan Profesional Kemanusiaan yang telah berkiprah selama 16 tahun menggeluti bidang pengungsi, IDP, dan komunitas dampak bencana alam. Pertemuan pertama saya dengannya terjadi pada September 2017 silam. Saat itu Lilianne menjadi salah satu pemateri terkait isu konflik Rohingya yang sangat menarik. Banyak data, fakta dan berita lapangan kredibel yang diungkapkan dalam seminar Internasional tersebut. Namun sayangnya peserta yang hadir harus dipilih dan dibatasi, beruntung saya mendapatkan plot atas nama penulis/blogger sehingga bisa berhadir. Keberuntungan itu kini kembali muncul, saat menghadiri seminar panel bersama para fellow Rotary Peace, saya kembali dapat dipertemukan dengannya. Hal yang paling asyik bagi saya pribadi adalah ketika berhasil memberitahukan bahwa saya telah menyelesaikan tugas tulisan yang dia berikan saat seminar dulu. Lilianne sangat senang karena menurutnya "kebenaran kini tak lagi harus ditegakkan dengan kekerasan namun bisa melalui tulisan". Jika penasaran, silakan dibaca Rahasia Rohingnya yang Tidak Diketahui Dunia. Kemudian di akhir acara, setelah sejenak bertegur sapa, kami pun mengabadikan momen dengan melakukan cekrek bersama. Sungguh sebuah kesenangan karena bisa kembali bersua walau nyaris menunggu setahun lamanya.


Sungguh, masih banyak hal yang ingin kembali saya ceritakan dan bagikan terkait proses perdamaian di Aceh dan penyelesaian persengketaan antara Gam dan RI. Akan banyak hal unik, aneh, dan mencengangkan yang bisa dipelajari dari sejarah yang jarang diceritakan tersebut.  Semoga selanjutnya bisa saya tuliskan satu persatu kisahnya ya. Semoga teman-teman sabar menunggu. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. Sampai jumpa.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perwakilan 19 Negara Pelajari Sejarah Konflik dan Manajemen Perdamaian di Aceh"

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya!
Besok-besok mampir lagi ya!


(Komentar Anda akan dikurasi terlebih dahulu oleh admin)