Keunikan Gala Dinner Sail Sabang dalam Baluran Pesta Kembang Api Memukau



"Gala Dinner Sail Sabang 2017 digelar dengan mengusung konsep outdoor party di depan halaman gedung Walikota Sabang?" 
Dengan perut keroncongan dan kepala sempoyongan, saya membatin penuh kekaguman berbalur tanya. "Ini nyata kan, bukan mimpi?"

Tanggal 1 Desember 2017, saya bersama tim GenPI Aceh berangkat dari pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh bertolak menuju pelabuhan Balohan, Sabang. Tujuan perjalanan kami kali ini tak lain dan tak bukan adalah untuk ikut serta memeriahkan dan mendokumentasikan berbagai pergelaran di acara Sail Sabang yang berlangsung sejak tanggal 28 November hingga 5 Desember 2017. Siapa sih yang tak senang bisa terlibat langsung dalam acara bertaraf International yang cukup bergengsi ini? Tentu, walau malu-malu, hati kita sama-sama tahu bahwa kita semua senang ke Sabang kan?

Namun, di balik jantung yang berdegup kencang lantaran kegirangan untuk menikmati momen Sail Sabang, saya sejujurnya sempat ragu. Bayangkan saja, tepat satu hari sebelum keberangkatan, sebuah berita dari media daring lokal mengabarkan bahwa akan terjadi badai Eddy dan siklon Dahlia yang menyebabkan potensi terjadinya hujan lebat, petir, angin kencang dan gelombang laut yang tinggi untuk beberapa hari ke depan. Baiklah, walau pun saya cukup menikmati lantunan lirik nenek moyangku seorang pelaut dan mengakui bahwa salah satu tokoh kartun favorit saya ketika kecil adalah Popeye si pelaut, tetap yang namanya laut lagi garang, mana berani kita lawan kawan. 

Akhirnya, setelah berdiskusi panjang lebar dengan tim GenPI Aceh terkait keberangkatan ditambah informasi langsung dari pihak BMKG dan tak lupa meminta izin kepada orang tua, maka saya pun memutuskan untuk berangkat ke Sabang, yay or nay? 


Nah, siang itu, di Banda Aceh, hujan turun gerimis dan tidak sederas hari-hari sebelumnya. Ada sepercik harapan pada lautan agar mau bersahabat dan doa yang kuat agar sang badai tak menyapa di tengah perjalanan. Ternyata, dugaan dan harapan saya 99.99% meleset. Kapal cepat yang kami jadikan alternatif untuk menyeberang, berguncang hebat di tengah lautan. Pada saat itu, saya jadi memahami sepenuhnya makna lirik lagu legendaris semasa kecil dulu, "naik kapal kecil, takut goyang-goyang", cukup mengerikan kawan.

Ingat, ini bukan kali pertama saya ke Sabang dan juga bukan kali pertama saya menggunakan transportasi kapal cepat. Namun, pengalaman memang guru yang luar biasa. Kita secara tak sengaja paham akan perbandingan kondisi mana yang aman dan mana yang berbahaya. Namun, di saat wisatawan lain yang baru pertama kali menaiki kapal cepat Sabang dan merasakan guncangan, reaksinya justru berbeda, sorak dan tawa terdengar memenuhi ruang VIP kapal, serasa naik Roller Coaster atau wahana Arung Jeram kali ya. Sedangkan saya di sudut jendela sejak tadi terbujur kaku, masih hidup, namun pucat pasi. Saya bertasbih dan bedoa selama perjalanan, semoga semuanya baik-baik saja. Saya berusaha berpikir sepositif mungkin.

Namun ketika goncangan kapal semakin menjadi-jadi, saya berpikir untuk mengunggah foto dan menuliskan status di sosial media. Yah, sekedar berbagi kerisauan pada teman-teman di dunia maya sekaligus memanipulasi otak dan jantung yang sejak tadi menggelar konser rock tanpa diminta. Tapi, akhirnya, niat itu saya urungkan. Habis mau bagaimana, intuisi saya tiba-tiba memberi sugesti seperti ini; jika benar-benar saya akhirnya kehilangan nyawa selama penjalanan ini maka update-an saya di sosial media akan menjadi highligh news yang sia-sia. Begini kira-kira judul beritanya "sungguh berani, sebelum meninggal, diduga gadis ini update status di lautan". Okelah terkenal, tapi gak gitu-gitu amat, ya kan?

  
Kembali ke topik perjalanan. Setelah menempuh perjalanan lautan selama sekitar 1 jam, akhirnya atas izin Allah kami tiba dengan selamat di pelabuhan Balohan, Sabang. Hal yang paling melegakan sekaligus mengesalkan adalah ternyata lautan di sekitar pelabuhan Sabang dalam kondisi tenang setenang-tenangnya. 

Analogi perasaannya kira-kira begini. Ketika kita menggunakan mantel saat mengendarai motor dalam kondisi hujan deras di suatu tempat dan kemudian ketika tiba di lokasi tujuan yang tak seberapa jauh, keadaannya berbalik 180 derajat, suasana terik bahkan tanpa rintik. Tampilan kita yang basah kuyup dalam sejumput mantel bak timphan yang hanya memperlihatkan muka ditambah tatapan heran orang-orang yang penuh tanya,  namun kita tak kuasa menjelaskan bahwa tadi terserang hujan lokal di perjalanan sebelumnya. Akhirnya, kita pun terjangkit sindrom diam-diam kesal, ya kira-kira begitulah rasanya. 

Ketika saya dan tim menginjakkan kaki di pelabuhan Sabang, azan magrib pun berkumandang. Kita pun bergerak menuju basecamp GenPI dan bersiap-siap untuk menghadiri malam Gala Dinner Sail Sabang 2017. Sebagai manusia yang tiba-tiba baper karena efek terombang ambing di lautan yang cukup lama, belum lagi ditambah kebaperan perasaan yang ikut terombang ambing , ingin rasanya menolak untuk ikut serta menghadiri pembukaan Gala Dinner tersebut. Namun, hati saya berkata "enggak hadir, entar nyesal lho". Saya pun memutuskan untuk tetap ikut.

Setelah sesaat melepas penat, menunaikan kewajiban salat magrib dan berganti dengan pakaian rada formal (sebenarnya itu baju untuk pulang, baju lainnya kaos semua), baiklah, intinya saya tidak tahu bahwa dokumentator dan penulis juga harus berpakaian formal, maka berpakaian seadaanyalah saya dengan berhiaskan rasa ke-PD-an yang tinggi. Tak lupa membawa surat undangan tentunya. Kemudian, kami pun berangkat atas nama GenPI (Generasi Pesona Indonesia) capt. Aceh.

Tak ada hal aneh selama perjalanan menuju kantor Walikota Sabang. Hingga akhirnya mobil kami terjebak dalam kemacetan iring-iringan mobil dinas yang panjang. Ditambah lagi pengalihan jalan dan pemeriksaan tamu undangan. Sesangak-sangaknya, saya mulai sadar dan berasumsi, sepertinya acara Gala Dinner Sail Sabang 2017 ini formal dan eksklusif. Baiklah, setelah yakin kewarasan saya kembali, saya pun sembunyi-sembunyi bercermin di layar handphone. Wajah pucat (efek sisa mabuk laut), bibir gemetar (kelaparan), baju dan sepatu (jauh dari kata formal), oke, rasa percaya diri saya mengalami abrasi akut dalam sekejap. Pesan moral: sebelum merasa PD dalam suatu keputusan, pastikan Anda dalam keadaan waras. 


Belum selesai uring-uringan dengan batin saya yang menertawakan kenerja otak saya yang lemot karena diduga kurang nutrisi, saya yang mulanya berasumsi bahwa acara Gala Dinner Sail Sabang 2017 akan digelar di gedung secara formal, seketika menjadi lega. Pasalnya, acara tersebut ternyata digelar di alam terbuka, di bawah tenda bertabur awan-awan yang enggan menurunkan hujan. Ah, acara outdoor party toh? Benar-benar Sabang, Santai Banget.

Sebentar, Outdoor party? Apa?

Di bulan Desember,  bulan tahan ember, di musim penghujan dan badai, outdoor party di lapangan yang jaraknya tak jauh dari lautan? Yang benar saja? Belum berhasil menuntaskan kewarasan analisa yang baru sesaat kembali, saya justru panik melihat sosok Bapak Arief Yahya, Menteri Pariwisata Indonesia, yang sedang duduk di antara tamu-tamu penting lainnya di bawah tenda yang sudah disediakan oleh panitia. Baiklah, anggap saja alam sedang bersahabat, badai sedang mager, dan hujan sedang tidak mood menyapa bumi. Saya pun memanjatkan doa dalam depresi tersembunyi. Karena sesungguhnya dalam suhu dan semilir angin seperti saat itu, sulit untuk percaya bahwa hujan dan badai tak akan menyapa selama acara. Tapi,  entah kenapa, saya merasa tenang dan percaya saja pada KEAJAIBAN.


Sambil menanti dibukanya acara, saya dan beberapa anggota tim GenPI Aceh berpencar satu sama lain. Masing-masing kami sibuk menjelajahi lokasi acara, memantau kegiatan dan mendokumentasikan foto dan video untuk diberitakan kepada masyarakat Aceh, Indonesia bahkan dunia. Isi beritanya tentu terkait kegiatan Sail Sabang 2017 terkhusus acara pembukaan malam Gala Dinner, yang kemudian informasinya akan disebar melalui situs sosial media dan website khusus GenPI Aceh. 

Saya pribadi memutuskan untuk memantau kondisi di sekitar para undangan yang berasal dari pihak masyarakat Aceh sendiri. Terlihat di sana, undangan yang berhadir terdiri dari berbagai kalangan umur mau pun profesi. Dari para penggiat pariwisata, anak-anak muda dari berbagai komunitas bahkan para pelajar. Walau pun acara Gala Dinner dilakukan dalam kondisi yang cukup santai, namun acara ini berlangsung teratur dan khidmat.


Akan tetapi ada satu hal yang agak mengganggu penglihatan saya kala itu. Menurut saya pribadi, untuk acara pariwisata International dengan cita rasa pesta rakyat semacam ini, peletakan pagar pembatas antara tamu undangan asal Aceh, Yachtist dan para undangan kehormatan membuat perasaan saya sedikit krik-krik, syalalala. Bukankah di acara langka bertaraf Internasional seperti ini, seharusnya masyarakat Aceh mendapatkan kesempatan untuk lebih akrab dengan para tamu dan para pejabat negeri? 

Konsep pemisahan semacam ini, terlepas dari alasan keamanan, jika saya tinjau dari konsep pariwisata, sebaiknya dihindari. Konsep acara outdoornya sudah sangat bagus kok, tinggal keterbukaan antar masyarakat dan wisatawan harus ditingkatkan lagi. Jadi terdapat sinergi bersama di mana ke depan tamu datang dengan nyaman dan masyarakat dengan senang menyambutnya. Harus diingat kembali, konsep ekonomi pariwisata, menurut saya, rakyat asli dari tempat wisata itu yang harus mandiri dan makmur terlebih dahulu. Itulah pariwisata yang dianggap sukses meningkatkan ekonomi rakyat setempat, ya gak sih?


Oh ya, setelah lelah berkeliling memantau undangan dari kalangan masyarakat Aceh, iseng saya mencoba menghampiri para Yachtist yang berasal dari berbagai negara. Hal yang cukup mengagetkan bagi saya adalah ternyata para pelaut ini yang telah melakukan perjalanan ke berbagai wilayah dan negara menggunakan Yacht (kapal layar) mereka ternyata ada yang sudah nenek-kakek. Wow, ini namanya Halmeoni rasa Nuna, Harabeoji serasa Oppa  (semangatnya-red).


Dari intip-intip yang saya lakukan terhadap para tamu asing tersebut, saya melihat, mereka merasa sangat nyaman duduk dan bercengkrama di alam terbuka. Mereka menikmati berbagai hidangan yang disajikan seperti kopi hitam lezat, gurih kudapan, hangatnya sop ayam, ditambah angin sepoi-sepoi dengan alunan musik dan lampu kerlap-kerlip, nyamannya. Sesaat saya lupa kalau perut saya sudah menyanyikan lagu keroncongan sedari tadi.   


Sejauh ingatan saya, sebahagian tamu undangan khusus seperti para Yachtist ada yang berpakaian formal namun tidak sedikit yang memakai kaos putih kerah berlambangkan Pesona Indonesia. Seharusnya sebelum berangkat saya menggunakan kaos yang sama, siapa tahu bisa nyempil bersama mereka, berkenalan dan berakhir dibawa keliling dunia (cet langet-red).


Nah, malam Gala Dinner Sail Sabang ditutup dengan permainan sorot lampu warna warni menembus awan kelabu diiringi lantunan beberapa lagu. Acara ditutup dengan pesta kembang api yang sangat indah. Berhubung malam begitu pekat, warna kembang apinya tampak terang dan luar biasa indah (kemaruk-red). 

Sebenarnya di Aceh bukan tidak boleh membakar kembang api, hanya saja momen pembakarannya yang harus dipilih secara tepat. Jangan sampai pesta kembang api diterjemahkan sebagai trend pendukung perayaan yang tidak sesuai syariah Islam. Selama tidak melanggar hukum Islam dan tidak merusak kenyamanan masyarakat setempat, pesta kembang api rasanya sah-sah saja kok. Buktinya saja, di malam Gala Dinner Sail Sabang 2017, pesta kembang api itu tidak dianggap sebagai pelanggaran justru memperindah nuansa kelabu, rintik-rintik hujan sendu.
Talend Photo: Yelli, Photographer: Me
Info tambahan:
Sebelumnya saya sempat menceritakan bahwa suasana tenang malam Gala Dinner dengan konsep Outdoor Party sempat meresahkan saya, secara sejak sore hingga magrib hujan turun deras bahkan lautan mengamuk. Saya mencandai teman-teman GenPI, bahwa konsep yang diambil oleh panitia Sail Sabang cukup riskan, kecuali mereka mendapat sponsor dari pawang hujan. 

Seperti dugaan, selesai acara, hujan langsung mengguyur arena tanpa mengenal ampun, ditambah lagi semilir angin yang semula lembut berubah membadai. Iya, sebahagian kami jadi kuyup. Namun tamu kehormatan sudah aman sedari tadi. Hal yang lebih mengejutkan adalah ketika keesokan harinya kami membaca koran pagi, dan sebuah iklan terpapang besar, iklan yang menguatkan candaan garing tentang misteri pawang hujan pada malam Gala Dinner Sail Sabang.


 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Keunikan Gala Dinner Sail Sabang dalam Baluran Pesta Kembang Api Memukau"

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya!
Besok-besok mampir lagi ya!