Setelah 72 Tahun Kemerdekaan, Tidakkah Kau Kembali Rindu?



Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam namun sembulan asap dari dapur-dapur warung kopi di sepanjang jalan lingkar kampus Darussalam masih membumbung tinggi. Sesekali teriakan gol para penonton sepak bola memecahkan keheningan jalan raya. Teriakan yang menghilangkan kosentrasiku memacu motor buntut untuk pulang. Seketika mengingatkanku pada seorang pria tua berkharisma. Sesosok veteran yang hidup di tiga zaman. Seorang kakek yang rasa fanatiknya kepada bola, agama dan kemerdekaan Indonesia sama besarnya.


Pak Syik, sebutan yang kuberikan untuk kakekku yang bernama Hasballah. Setiap kali bertatap muka dan mendengarkan kisahnya, aku merasakan nyata perjuangan masa lalu. Karung beras berkutu sebagai baju, bu kulah, keumamah, asam sunti bahan makanan yang tercipta agar tak lapar di kala perang, bahkan sepenggal dua penggal bahasa Jepang dan Belanda yang diucapkannya sambil bercerita yang aku sendiri tak paham maknanya.

Sesekali dari matanya yang keriput terpancar kebanggaan saat menceritakan bagaimana bersyukurnya para penjuang Aceh atas kemerdekaan Indonesia. Namun ada kala sebentuk kesedihan terdengar dari getaran suaranya kala menceritakan kondisi Indonesia masa kini. Jika kutanyakan, "apa yang salah dari Indonesia?" Dia hanya menggeleng lemah. Aku bungkam dan tersesat dalam diam penuh kebingungan. "Bukan Indonesia, namun banyak jiwa yang tak lagi merindukannya", jawabnya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Setelah 72 Tahun Kemerdekaan, Tidakkah Kau Kembali Rindu?"

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya!
Besok-besok mampir lagi ya!