14 April 2017

Minyeuk Pret, Parfum Aceh Pembangkit Khazanah Budaya

 

Sebutkan satu kata yang mencerminkan Aceh?
Maka anak gaul akan menjawab "kopi", pencinta kuliner menyebut "mie", manusia baper berkata "tsunami, dan orang iseng bisa saja berujar "ganja". Berbagai variasi warna jawaban diberikan hanya untuk mendeskripsikan satu kata. 

Namun jika saya katakan, coba berikan satu kata yang mencerminkan Minyeuk Pret, maka kita akan sepakat untuk memilih kata Aceh untuknya.  


Minyeuk Pret merupakan salah satu merek parfum asli Aceh yang diluncurkan sejak tahun 2015 silam. Minyeuk Pret sendiri merupakan gabungan dari dua kata bahasa Aceh yang bila diterjemahkan secara literlek akan berarti minyak (minyeuk) dan semprot (pret) yakni minyak semprot alias parfum. 

Parfum Minyeuk Pret dibuat dari bahan baku yang hampir seluruhnya berasal dari tanah Aceh sendiri, tumbuhan nilam salah satu contohnya. Tanaman nilam menghasilkan minyak atsiri yang berfungsi sebagai pengikat aroma wangi dan mencegah penguapan pada zat pewangi di dalam sabun, kosmetik dan juga parfum.

sumber foto: google.com, editor ayuulya.com

Secara jujur saya katakan, jika bukan karena kehebohan brand minyeuk pret yang menggembar gemborkan minyak nilam sebagai komoditi ekspor nomor satu dunia yang berasal dari Aceh, niscaya merugilah saya. Bagaimana tidak, baru sekarang saya sadar bahwa fungsi dan harga minyak nilam Aceh luar biasa menjanjikan. Padahal sewaktu kecil, semasa menghabiskan liburan di perkampungan, saya kerap melihat dedaunan semacam ini bertengger satu dua di antara semak perkebunan kami. Saya harap itu bukanlah sang pohon nilam, karena ketidak berpengetahuannya saya, pohon-pohon tersebut terhimpun rapi di dalam barisan api para semak belukar yang akhirnya dibakar atas nama menjaga kebersihan. Ketidaktahuan itu efeknya sungguh mengerikan sekaligus merugikan. 

Sama halnya dengan ketidaktahuan orang-orang di luar sana yang dihebohkan dengan minyak nilam sumatera tanpa sama sekali mempopularkan asal usul tanah asli tempat sang nilam tumbuh bersemi. Semacam kerbau punya susu, sapi punya nama. Salah siapa? Mungkin saja kita, generasi yang kurang upaya mengenal dan memperkenalkan budaya. 

Jika menilik kenyataan filosofi merek parfum yang diusung, nama Minyeuk Pret menawarkan sebuah terobosan melawan arus penamaan parfum di zaman yang serba kekinian. Bayangkan saja, disaat banyaknya indutri parfum dunia, tak terkecuali di Indonesia,  sedang gentol-gentolnya menamai brand produk minyak wangi mereka dengan sederetan nama artis ternama seperti parfum katy perry, lady gaga, dan sebagainya dengan tujuan agar produk mereka terjual dengan mudah di pasaran, Minyeuk Pret justru mengusung khazanah lokal yang namanya saja sangat asing bagi kebanyakan orang. Bagaimana tidak, jangankan orang di luar Aceh yang tak paham bahasa, orang Aceh saja masih ada yang gagap khazanah budaya, seperti saya sendiri contohnya.  

Nah, disadari atau tidak, brand Minyeuk Pret tidak sekedar menjual produk semata namun terdapat misi spesial untuk membangkitkan kesadaran akan khazanah budaya masa silam yang nyaris hilang. Istilah budaya yang mungkin pernah dianggap kuno dan hampir tergilas arus globalisasi, kini tampak apik dan kembali bergengsi. Minyeuk Pret bukanlah sekedar merek produk dalam industri perdagangan namun ada nafas budaya yang ingin kembali di hidupkan. 



Sumber foto: Bungong Jeumpa: google.com dan Espresso: liza-fathia.com


Seperti yang telah saya paparkan sebelumnya, semprot minyeuk pret, ingat Aceh. 
Hingga kini Minyeuk Pret telah hadir dalam 3 varian aroma khas negeri 1001 warung kopi, Aceh. 
Pastinya bisa ditebak, salah satu aroma khasnya adalah kopi. Minyeuk pret menyajikan aroma kopi yang sayup-sayup menggoda.  Ketika pertama kali mengendus aroma kopi dari parfum Minyeuk Pret rasanya saya seakan kembali merindukan kampung halaman. Layaknya mencium aroma kopi sungguhan yang direbus di dalam air bertungku kayu, ah begitu syahdu.


Aroma kopi sendiri dipercaya memberikan sensasi ketenangan dan rileksasi. Selain itu, aroma kopi juga membantu meningkatkan konsentrasi dan mendatangkan inspirasi. Layaknya guyonan yang sempat viral di dunia maya, KOPI (Ketika Otak Perlu Inspirasi), tampaknya benar adanya. Anda butuh relaksasi nuansa kopi? Minyeuk Pret aroma kopi tentu menjadi solusi yang sempurna.


Selain itu, terdapat pula salah satu aroma khas Aceh lainnya berasal dari wewangian bungong seulanga, salah satu flora asli Aceh yang cukup membahana. Belum ada brand pafrum di dunia ini yang mengangkat aroma legendari dari bunga seulanga, kecuali Minyeuk Pret.


Bungong seulanga sendiri kini sudah cukup jarang ditemukan di daerah perkotaan Aceh. Jangankan mengendus aromanya, rupanya saja orang sudah mulai lupa. Jangan sampai kita hanya meninggalkan cerita dan irama kepada anak cucu kelak, sehingga seulanga bisa-bisa dianggap bunga legenda yang diada-ada. 
Adapun dengan sang Meulu yang aromanya lembut dan manis, bunga ini kala dulu digunakan sebagai aroma pewangi air mandi. Sebelum berbagai merek produk bayi menjarah bumi serambi kini, dulu bunga meulu cukup tenar digunakan sebagai produk perawatan dan wewangian terutama untuk para bayi, begitu kata umi ketika saya tanyakan kepadanya tentang kegunaan bunga meulu dahulu. Syukur kini saya paham akan aroma sang Meulu dalam baluran Minyeuk Pret. Tak terbayang rasanya jika kelak anak cucu bertanya tentangnya dan saya hanya mampu menjawab dengan deheman eeee... yang panjang.




Terdapat  fakta menarik mengenai kehebatan teknologi informasi masa kini. Secanggih apapun teknologi informasi yang kita gunakan, hingga kini belum ada aroma original yang bisa kita upload atau download di website-website untuk diperdagangkan. Apalagi versi aroma bajakan, tak terpikirkan sama sekali. 

Layaknya pepatah berkata, tak kenal maka ta'aruf. Tak salah jika konsumen masih ada yang belum berani atau terpikir untuk memesan Minyeuk Pret untuk digunakan. Rasa khawatir akan aroma yang tak cocok atau berbagai kecurigaan akan iklan yang ditawarkan harus dihapuskan dengan bukti bukan sekedar iklan dan janji-janji. Setelah memantau sana-sini, diera generasi mager (malas gerak) seperti saat ini, konsumen jadi lebih manja dan banyak tuntutannya. Berbagai andai-andai kerap dilontarkan saat produk dipasarkan, tak terkecuali Minyeuk Pret sendiri.

"Wah, kelihatannya keren, andai saya bisa tahu langsung aroma minyeuk pret, pasti saya beli"
"Aromanya, apa saja ya? Pengen coba nih"
"Testernya ada? Mungkin aku bakal pesan" dan sebagainya, dan sebagainya.


Lalu saya terpikir untuk memberikan 3 solusi yang mungkin bisa membantu Minyeuk Pret dalam mempromosikan produknya, secara saya cinta produk lokal, ya kan?

Pertama, flyer/selebaran edisi minyeuk pret yang mengeluarkan aroma. 
Selain bisa membaca informasi, deksripsi  dan harga produk, para (calon) pelanggan juga bisa merasakan langsung aroma dari minyeuk pret.  Keinginan para pembeli akan meningkat drastis ketika mereka tahu pasti kondisi benda yang ditawarkan. Maka maafkanlah teknologi yang belum bisa menyebarkan aroma, mari kita beralih ke solusi kreatif  melalui kertas ekslusif nan beraroma saja. 

sumber gambar: google, editor ayuulya.com

Kedua, buat satu momen edisi tester dengan harga murah nan mewah,
Tidak bisa dipungkiri, dari urutan kasta kebutuhan hidup manusia, parfum berada didalam kategori sandang setelah pangan (makanan) tentunya. Untuk kebanyak orang, terutama mahasiswa dan pekerja lepas seperti saya, rasanya harga Rp.110.000 untuk parfum yang belum pernah saya coba dalam kegiatan sehari-hari agaknya cukup berat di kantong. Bagaimana jika membeli versi mini terlebih dahulu? Agaknya saya akan cukup berani mencoba dan tidak akan takut kecewa bila tidak suka. Minyeuk Pret dapat mempromosikan produknya dengan lebih masal dan pelanggan pun tak terlalu banyak pikir ketika mengeluarkan uang. Win-win solution, bukan?



Ketiga, Minyek Pret Edisi Halal Ibadah
Entah kegilaan apa yang merasuki saya, namun tiba-tiba saya berpikir bahwa Minyeuk Pret  akan lebih berjaya andai saja eksistensinya mampu mengikuti visi wisata halal yang diperoleh Aceh baru-baru ini. 

Dalam FAQ dari website Minyeuk Pret sendiri tertulis jelas bahwa salah satu kandungan yang terdapat di dalam parfum ini adalah alkohol. Nah, simpang siur tentang penggunaan alkohol di dalam parfum masih kerap diperdebatkan, namun berdasarkan LP POM MUI mengenai parfum beralkohol yang digunakan untuk ibadah dinyatakan hal berikut:

"Alkohol yang dimaksud di dalam parfum adalah etanol. Menurut fatwa MUI, etanol merupakan senyawa murni---bukan berasal dari industri minuman beralkohol (khamar)---sifatnya tidak najis. Hal ini berbeda dengan khamar  yang bersifat najis (secara maknawiyah). Oleh karena itu, etanol tersebut boleh dijual sebagai pelarut parfum, yang notabene memang dipakai di luar (tidak dimasukkan ke dalam tubuh)." [REPUBLIKA-Jumat, 30 September 2005].

Keamanan, kenyamanan dan kehalalan produk menjadi tinjauan utama para konsumen masa kini, terutama bagi mereka yang muslim. Menjadi wangi sangat bekerja meningkatkan prestise seseorang, dan menjadi wangi kala beribadah itu perintah Allah ta'ala.





Bukannya tak tahu diri, namun ada sepercik rasa bangga dihati ketika memahami bahwa minyak nilam tak lagi sekedar dijadikan konsumsi pembeli dari luar provinsi atau negeri. Kini telah ada anak negeri, Daudy Sukma dan rekan-rekannya yang berusaha membangkitkan kembali khazanah budaya yang lelap terlupa melalui produk lokal nan mendunia, Minyeuk Pret namanya. Walau tak bisa berkontribusi banyak, minimal sebagai pemuda Aceh yang ikut bangga, saya berusaha mempopulerkan Minyeuk Pret ke khalayak ramai melalui tulisan, agar dunia tahu, bahwa Minyeuk Pret dengan nilam terbaik berasal dari Aceh, tanah warisan budaya sang indatu sejak dulu. Sukses terus untuk Minyeuk Pret, semoga harummu mendunia dan hadirmu kembali membangkitkan budaya yang nyaris lupa.

Referensi:
http://www.minyeukpret.com/
https://nilamaceh.wordpress.com/
https://rumaysho.com/822-polemik-parfum-beralkohol.html
https://konsultasisyariah.com/388-hukum-memakai-parfum-alkohol.html
http://permathic.blogspot.co.id/2014/09/manfaat-khasiat-dan-kegunaan-minyak.html
http://aceh.tribunnews.com/2017/03/15/minyeuk-pret-aroma-coffee-diminati-warga-eropa




Reaksi:

4 komentar:

Yelli Sustarina mengatakan...

Produk ini memang mengingatkan kita kembali tentang khazanah budaya Aceh yang besar. Bangga punya produk Aceh seperti minyeuk preet. Mantap tulisannya kak!

Ayu Ulya mengatakan...

Yups, sepakat dengan Yelli. Minyeuk Pret emank beda ya kan, secara ada unsur historis gitu.

Liza Fathia mengatakan...

ayuuu, itu gambar kopi espresso mirip yang ada di instagram kakak. hehehehe

Ayu Ulya mengatakan...

Oh ya ampun. Kemarin ambil di google lupa cek link pas editing, maaf yooo kakakku. Btw, udah ayu tambah keterangan gambarnya ya kak. Thanks udah diingatkan.