Tragedi di Balik Komik Silly Life at Boarding School (SLABS)

Every  art  should become  science  and every  science  should become  art 
(~Heinrich von Schlegel~)



Silly Life at Boarding School merupakan sebentuk komik pendidikan hasil karya kolaborasi perdana saya dan teman-teman di komunitas komik Aceh (PANYOET), The Leader dan LTF Community yang diterbitkan di penghujung tahun 2016 yang lalu. Komik ini dibuat berdasarkan permintaan para pelajar pesantren, terutama di kawasan Banda Aceh, yang "katanya" ingin memliki buku panduan pembelajaran bahasa Inggris yang asyik namun tetap bergaya bahasa asli layaknya para bulek di belahan bumi sana.

Awalnya, saya tidak terlalu mengubris permintaan tersebut. Selain penyampaian kebutuhan para siswa diceritakan dalam bentuk media curhat, saya pun tidak yakin bisa merancang buku disela kesoksibukan kegiatan entah apa-apa saya saat itu.  Namun tiba-tiba....

"Miss, permission, I go there, yes? Want rain, Miss. My clothes!" 

papar seorang murid dengan bahasa belepotan mencoba meminta izin kepada saya untuk mengambil jemuran karena sebentar lagi akan hujan. Saya hanya mampu bungkam, mengangguk pelan mengizinkan, dan sadar bahwa hujan telah duluan turun ke dalam kegalauan hati saya. Saya tidak tahu harus merasa senang atau sedih mendengar hasil rangkaian ucapan seorang murid pesantren yang notabenenya sudah berada di tahun ke-4 pembelajarannya saat itu. Miris!

Beberapa saat kemudian, setelah para murid kembali dari perantauan menyelamatkan pakaian mereka dari kebasahan, saya pun membuka sebuah diskusi kilat di dalam kelas sambil menikmati kesejukan dan suara derai hujan.

"Ehm, by the way, did you ever been taught how to speak English well?" iseng saya bertanya .
"Miss, we don't know. We speak Bahasa Inggris pesantren like this." jawab seorang siswa.
"Right or wrong, Miss?" tanya siswa lainnya.
"Teach us speaking real English lah, Miss...." gema suara entah siapa.
"Yes lah, Miss. Yes, lah" paduan suara semacam demonstran saja.

"Well... actually there is no term in learning real English. Saying so, as if we are agree that there is a fake English. LoL. However, the way you guys speak English right now can cause misunderstanding for some people, especially Mr. Bulek" papar saya sekenanya.
"How about guidance book for speaking English, do you have any?" tanya saya berpositive thinking

Serentak mereka menggeleng lemah.
"No?" tanya saya tanpa sadar juga ikut geleng-geleng pasrah.
"Jadi selama ini bicara bahasa Inggris gimana caranya?" akhirnya saya lepas kontrol dalam berbahasa.
"Kami dikasih vocab aja, Miss" jawab para murid tanpa mengubris semboyan No English, No Service.
"Terus kalimatnya?" tanya saya gerah.
" Kami gabung-gabung kata-katanya, buat-buat teros" jawaban polos yang membuat hati saya berdarah-darah.
" Baiklah, kalau begini keadaannya, saya akan membuat buku panduan berbahasa Inggris untuk kalian, sekalian dengan ekpresinya, semacam buku komik biar asyik." 

Yeay, para murid bersorak riang. Saya menutup pelajaran dengan janji yang membuat saya tiba-tiba frustasi. Semacam terperangkap dalam takdir yang ingin saya hindari. Memang salah satu keahlian saya yang cukup fenomenal yakni menjebak diri. Semakin saya mencoba untuk tidak peduli, semakin saya.... ah, sudah lah, saatnya beraksi.

***


Jika boleh jujur, sejak kecil saya adalah sosok anak yang rada malas membaca buku tebal dengan tulisan kecil nan rapat-rapat layaknya buku pelajaran dan novel. Namun dibalik kemalasan itu, saya masih tergolong anak yang cukup rajin menonton film kartun, memanjat pohon, mandi di kali, menangkap belut di sawah dan membaca komik pemberian tetangga. Hingga remaja, saya masih meragukan hasil tes yang menyatakan bahwa saya tergolong anak Visual karena saya justru senang belajar dengan berdiskusi dan bercerita sana-sini, layaknya anak-anak Audio. Kemudian saya berpikir, mungkinkah saya anak Audio-Visual?  Memangnya TV?  Ah, lupakan.

Nah, mari saya perkenalkan Gene Luen Yang, sosok guru penulis novel grafis American Born Chinese yang baru-baru ini masuk dalam nominasi penghargaan bergengsi karena berhasil membuat dan menerapkan penggunaan komik dalam pembelajaran di kelasnya. Terdengar seperti inovasi baru yang asyik. Namun fakta yang lebih mengejutkan adalah ternyata sistem pendidikan Negeri Sakura, telah dari dulu mengkombinasikan mangan dengan buku pelajaran sekolah mereka. Keren kan? 

Image Credit: @FaktaGoogle
Sesungguhnya saya sudah mengharapkan hal semacam ini terjadi di Indonesia, khususnya Aceh sejak 10 tahun silam, tepatnya ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Saya kerap bertanya-tanya.

"Kenapa ya, hampir semua tampilan buku pelajaran membosankan begini?"
"Kenapa ya, gak ada buku pelajaran berbentuk manga?" atau
"Buku komik yang isinya ringkasan pembelajaran, ada gak ya?"

Lucunya, oh lucunya. Saya hanya menyuarakan hal-hal aneh semacam itu di dalam hati, jika berbunyi bisa jadi bulan-bulanan seantero sekolah. Ah, Ngeri! Tapi setelah dipikir-pikir, mantap juga pemikiran saya saat itu atau mungkin jangan-jangan saya memang bisa meramal tren masa depan? #teplak 

Ringkasnya, komik Silly Life at Boarding School ini merupakan karya kontroversi positif dari cerminan melawan buku-buku pelajaran yang masih tampil statis di negeri kita tercinta. Komik edukasi SLABS ini juga ingin mengabari para praktisi dan pemegang kebijakan pendidikan bahwa komik juga bisa menjadi media positif mengedukasi dan membangun negeri. Komik layaknya pisau, bukan bendanya yang berbahaya, namun bagaimana cara menggunakannya dengan bijaksana.  

Baiklah, bagi teman-teman yang penasaran dengan isi komik Silly Life at Boarding School (SLABS)  berikut saya tampilkan beberapa cuplikan isi komiknya di sini ya;







Nah, untuk pemesanan, silakan hubungi saya melalui;
ID Line     : ayuulya
Email         : ayuulya90@gmail.com

Setiap pembelian komik SLABS, kamu ikut berkontribusi dalam
menyukseskan pendidikan anak yatim dan piatu




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tragedi di Balik Komik Silly Life at Boarding School (SLABS)"

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya!
Besok-besok mampir lagi ya!