Sarapan "Super" Ala Ummi!


Ummi adalah panggilan yang kuberikan untuk sosok wanita penyayang yang telah melahirkanku serta mengasuhku sejak kecil. Perawakan Ummi yang penyabar dan sangat friendly dalam kesehariannya tidak akan pernah aku temukan di pagi hari, khususnya saat sarapan pagi. Sikap toleransi Ummi yang tinggi pada berbagai hal dan kepentingan sama sekali tidak berlaku jika aku menolak, dengan cara apapun--- berlari ke sana ke mari, merengek, berguling-guling, dan mempraktekkan seluruh jurus dan tingkah polah konyol  khas anak-anak guna membuat hati Ummi iba, untuk sekedar membiarkaku bolos sarapan pagi walau hanya sekali. Namun siapa sangka hal tersebut seakan tidak ada gunanya. Seperti biasa, Ummi bergeming tanpa reaksi sampai aku setuju untuk sarapan pagi.

Semasa kanak-kanak, entah itu normal atau tidak, sarapan pagi merupakan salah satu musuh terbesarku. Namun
lain lagi bagi Ummi, sarapan pagi merupakan hal yang selalu dinanti, terkontrol dan tak pernah dibiarkannya bolong walau hanya sekali. Seribu satu jurus dikerahkan Ummi untuk mensiasasi si kecil yang kurus kering kekurangan gizi karena sangking malasnya sarapan pagi. 

Namun tak ada kata menyerah bagi Ummi. Si kecil tak mau makan, maka berbagai jurus andalan Ummi kerahkan. Jurus sarapan pagi ala Ummi beraneka ragam rupanya--- dari cara memasak berbagai masakan lezat menggoda iman, membentuk nasi dan lauk dalam jelmaan unik dan menarik sampai pada tingkat terkritis yakni kejar-kejaran ala pendekar di televisi dan sulangan kanan-kiri bak jurus sakti. Demikianlah, Ummi.

Seiring waktu berganti, siapa sangka, kebiasaan yang diterapkan Ummi sejak kecil berdampak besar kala aku beranjak dewasa. Jurus sulang menyulang membuatku ketagihan. Kini bagiku sarapan pagi menjadi kebutuhan. Bagaimana tidak, sarapan pagi ternyata mempengaruhi kecerdasan, pertumbuhan dan kesehatan bagi seorang anak. Saat aku mulai sadar akan pentingnya peranan tersebut, saat ini, aku menjadi tak heran mengingat sikap Ummi yang dulunya menurutku terlalu aneh dan berambisi.

Dahulu Ummi  kerap mendendangkan pepatah Aceh zaman bahelak ketika aku terus merajuk untuk tak sarapan. Begini katanya: "Bu bengoh keu ubat, bu cot uroe keu kuat, bue seupot keusehat." Jika diartikan kira-kira bunyinya seperti ini "sarapan pagi sebagai obat, makan siang agar kuat, dan makan malam agar sehat berisi." 

Benar saja, saat ini aku kerap melihat teman-temanku yang mengalami permasalahan lambung sejak usia dini, penyebabnya kebanyakan karena mereka malas sarapan pagi. Namun hal itu sama sekali tak pernah aku alami. Ummi tak pernah mengizinkan aku pergi sampai ritual sarapan pagi telah aku jalani. Alhasil, tak heran, sejak kecil stamina dan imunitasku cukup baik sehingga aku jarang sakit. Guru-guru TK dan SD-ku dulu kerap bercerita bahwa waktu kecil aku terkenal cukup enerjik dan bawel di sekolah. Bisa jadi, rasa ingin tahu yang besar dan  rasa percaya diri yang cukup tinggi yang aku rasakan saat ini juga merupakan salah satu efek positif dari  kebiasaan sarapan pagi, siapa tahu.

Intinya, saat ini, aku membayangkan andai saja bukan karena pembiasaan dan didikan Ummi tentang pola makan yang baik sejak aku kecil dulu, mungkin saja aku tidak bisa seaktif dan sekuat ini. Peranan Ummi dalam rangka menyukseskan buah hatinya yang super moody untuk sekedar sarapan pagi dapat dikatakan mutlak sukses. Aku tumbuh sehat, kuat, berani dan penuh prestasi. Ya, semua itu berkat usaha Ummi. Kalau bukan Ummi siapa lagi? Sayang Ummi!    

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sarapan "Super" Ala Ummi!"

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya!
Besok-besok mampir lagi ya!