Ketika Kata Merubah Nuansa


Sejak tadi sore konsentrasiku pecah. Sempat beberapa kali aku termenung dalam diam. Lagi-lagi, perkataan temanku tadi siang terngiang di telinga. Pernyataan polos namun penuh makna. Taukah kau kawan, apa yang dikatakannya?

Tentu saja kau tak bisa menerka, aku tau kau bukanlah peramal atau ahli nujum yang mampu menerawang rahasia. Tak perlu khawatir dan gusar kawan, aku tak ingin engkau hidup sensara hanya karena ingin mengetahui kelanjutan cerita. Aku sama sekali tak bermaksud untuk bernostalgia, pun tak ingin bernostal_gila. Yg kutulis hanyalah fakta, apa adanya tanpa rekayasa. Beginilah kisahnya.


Kala itu dhuha, tepatnya tanggal 3-1- 2011. Ah, ternyata tanggalnya tak seberapa keren kawan, jika tahunnya 2031 mungkin akan sedikit berbeda (candaan garing pengantar cerita). Sesaat melepas penat dari tekanan ujian yang nyaris merengut nyawa, ya begitulah kawan, kebiasaanku jika bercerita, majas hiperbola menjadi menu pembuka.



Aku dan beberapa orang temanku duduk di taman MIPA matematika, begitulah julukan akrab yg kuberikan untuk pinggiran koridor dan tempat parkiran dekat ruang perkuliahan kami (3a). Seorang temanku berkata, dia bahagia karena bisa menjawab pertanyaan ujian yang berbisa. Itu hanya istilahku kawan, jangan dikira kami mahasiswa kedokteran hewan, ingat kami matematikawan.


Ya 'berbisa' begitulah julukan untuk soal yg kulebelkan. Mari kujelaskan alasanya kawan, sedari tadi dahimu berkerut, aku tau kau bingung.

Jika kau lihat soal itu, maka ber'bisa' kalut.
Jika mulai dikerjakan, ber'bisa' pusing.
Jika tak bisa mengerjakannya lagi, ber'bisa' kesal.
Dan masih banyak 'berbisa' lainya.

Mari kulanjutkan kisah ini, muqaddimah terlalu panjang kusampaikan untuk menggapai isi. Namun di sisi lain kulihat temanku yang bermuka durja. Tampaknya kekecewaan sedang meliputinya. Aku tak ingin mengusiknya, pun aku terlalu lelah untuk bercanda dan menghiburnya.

Temanku yang sedang gembira seketika menyapa sang durja.  Saat sang bahagia menyapa sidurja, maka terjadilah percakapan singkat namun memikat. Si bahagia menasehati sang durja dengan senyuman lebar di bibirnya. Sepersekian detik aku terpaku, bagaikan menonton sinetron (mencoba mencintai produk dalam negeri kawan, box office bukan kebanggaan kata orang, entahlah).


Bisakah engkau bayangkan jika seorang kaya yang kenyang menasehati sang papa yang kelaparan untuk bersabar terhadap rasa lapar itu? Seketika diamku terasa dingin, kupicingkan mata sedemikian rupa agar dirinya (si bahagia) tak melanjutkan kata-kata karena ku tak suka. Dia menangkap sinyal mataku (kata orang mataku tajam dan dalam jika sedang kesal). Sang bahagia pun berhenti berkata, dia terdiam. Coba tebak kawan, bagaimana kelanjutannya? 

Suasana semakin menegang dan... (jika tebakanmu seperti ini, kau terjebak kawan, banyaklah latihan).

Bukannya menimbulkan ketegangan, aku justru tertawa terbahak, suasana mencair seketika. Aku bukan tipe pemarah kawan, tak usah khawatir. Si durja mulai tersenyum, aku tak mengerti mengapa tiba-tiba dia bahagia. Two thumbs up! Kuberikan kepada sang bahagia, 'kau pasti sudah belajar dan berusaha keras bukan! '. Sang bahagia tersenyum namun matanya berkaca-kaca. Apakah dia terharu? Entahlah, aku bingung terhadap ulahku sendiri. Aku bisa membuat seseorang tersenyum dan menangis secara bersamaan.


Salah siapa kawan?

Tentu 'kata'.

Sang bahagia mulai kembali angkat bicara, dia membuka rahasia, wajahnya tanpak serius dan tak biasa.

Aku mulai waswas, khawatir jika harus melanjutkan cerita yang telah terlupa. Yakni sebersit kenangan lama. Rahasia!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ketika Kata Merubah Nuansa"

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya!
Besok-besok mampir lagi ya!