Aktivis Lingkungan Surabaya Serukan Batasi Pemakaian Kantong dan Botol Plastik


Belum lama ini situs berita Voanews memberitakan tentang aktifitas lingkungan yang dilakukan oleh para akifis di daerah Surabaya. Hal ini merupakan salah satu usaha mereka untuk menyadarkan mayarakat akan bahaya sampah plastik dan minuman kemasan. Dari ilustrasi gambar terlihat bahwasannya para aktivis sama sekali tidak merasa canggung atau pun malu untuk mementaskan mini drama bertemakan lingkungan itu kepada masyarakat walau hanya berpanggungkan aspal jalanan.

Para aktivis begitu dalam menghayati peran mereka masing-masing seakan mereka mampu bersatu dengan alam , seumpama sedang mendengarkan keluhan dan derita sang bumi terhadap sampah-sampah yang kini dikandungnya. Para aktivis menyuarakan isi hatinya dengan sangat mendalam sembari merefleksikan sebuah pesan bahwa “Bumi telah lelah menanggung derita”.

Setelah membaca berita ini,aku termangu sesaat mengingat kembali hal mulia yang telah lama aku terapkan namun nyarisku tinggalkan hanya karena merasa kalah mental dan lelah menjadi bahan tertawaan masyarakat sekitar.

“Gak usah pakek plastik bang, tas saya besar!”

Itulah mantra yang dulunya kerap aku lontarkan ketika berbelanja baik di mini market, supermarket, pertokoan dan tempat-tempat perbelanjaan lainnya. Muka heran, tatapan sinis dan tertawaan yang bersifat mengejek kerap kutemui bukan saja dari pemilik toko bahkan dari para pembeli lainnya.

“Sampah plastik” merupakan permasalahan yang dianggap remeh oleh kebanyakan orang namun bagiku justru merupakan hal yang memiliki dampak yang amat fatal jika terus menerus diabaikan. Hal tersebut bukan hanya argumen belaka atau sekedar opini pelengkap berita, namun semua dipaparkan berkaitan fakta yang telah kita ketahui bersama.

Menurut Some (2007)umur degradibilitas komponen sampah plastik membutuhkan waktu 50-80 tahun, tentunya hal tersebut akan menjadi salah satu penyebab pencemaran tanah. Selain itu, komposisi kalor yang dihasilkan oleh plastik sebesar 555.46 Kkal/kg akan menjadi sumber polusi udara dan penyebab menipisnya ozon apabila sampah-sampah plastik itu dibakar begitu saja (sumber studi Komposisi dan Karakteristik BPPT, 1994).

Data Deputi Pengendalian Pencemaran Lingkungan Kementrian Lingkungan Hidup dilansirkan dalam salah satu laman berita VOA, jika dirinci, tiap orang rata-rata menghasilkan sampah 0,80 kilogram per hari. Dari jumlah itu, sampah kemasan sekali pakai menyumbang bagian 15 %.Bayangkan saja jika satu orang saja mampu menghasilkan sampah kemasan plastik sekali pakai sebanyak 0,12 kilogram perhari, dengan jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai sekitar 237 juta jiwa. Maka berat sampah yang dihasilkan oleh masyarakat di seluruh Indonesia dalam sehari setara dengan berat 2500 mobil Teng. Bagaimana jika timbunan sampah itu terus berlanjut selama sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun hingga berpuluh tahun lamanya. Apakah yang akan terjadi di bumi ini? Tentu Anda sendiri tau jawabannya.

Merupakan suatu hal yang wajar jika dewasa ini bencana alam kerap tejadi, mungkin saja hal tersebut merupakan salah satu cara alam memprotes tindakan manusia. Banjir, longsor, letusan gunung berapi, badai, topan, dan berbagai bencana alam lainnya merupakan pertanda bahwa bumi telah tua dan renta, dia telah lelah menahan derita dari ulah manusia yang bertindak semena-mena.

Ayolah kawan, kita ini khalifah, kita punya akal-pikiran dan hati-nurani. Kita sadar bahwa seluruh kerusakan di bumi yang sudah terjadi tentu sulit untuk diperbaiki apalagi dikembalikan seperti semula. Jika memang kita tahu bahwa kita tidak mampu memperbaikinya maka berhentilah untuk merusaknya.

Tak perlu merasa minder dan berkecil hati untuk menjadi seorang penyelamat bumi, karena pada dasarkan semua kita layak untuk menjadi pahlawan. Jika saja kita merasa belum mampu melakukan hal-hal hebat untuk melindungi bumi dan alam sekitarnya, cukuplah kita mulai mempraktekkan hal-hal sederhana seperti mengurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja. Masukkan barang belanjaan Anda ke dalam tas dan ucapkan mantra yang sebelumnya telah saya utarakan di atas. Biasakan pula membawa bekal dan tempat air minuman kepunyaan sendiri sehingga sampah plastik makanan dan minuman bisa dibatasi, dengan demikian selain menghemat uang saku, kita juga telah melindungi alam. Layaknya kata pepatah, sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Jika semua orang sadar akan hal ini dan mempraktekkan hal-hal positif dalam rangka mengurangi kerusakan bumi, walau hanya secuil, maka yakinlah bahwa hal tersebut tidak akan sia-sia. Karena pada hakikatnya, segala hal yang kita tanam tentu akan kita tuai.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Aktivis Lingkungan Surabaya Serukan Batasi Pemakaian Kantong dan Botol Plastik"

  1. blog yg menarik dan smoga byk yg mengunjungi..:) terima kasih

    BalasHapus
  2. http://mywonderwhy.blogspot.com/2012/02/aktivis-lingkungan-surabaya-serukan.html

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya!
Besok-besok mampir lagi ya!