7 Januari 2011

Aku bukan seorang muslim?


'Bagimu agamamu dan bagiku agamaku' (alkafirun: 6)


Sejak tadi sore konsentrasiku pecah. Sempat beberapa kali aku termenung dalam diam. Lagi-lagi, perkataan temanku tadi siang terngiang ditelinga.

Pernyataan polos namun penuh makna.

Taukah kau kawan, apa yang dikatakannya?

Tentu saja kau tak bisa menerka, aku tau kau bukanlah peramal atau ahli nujum yang mampu menerawang rahasia.

Tak perlu khawatir dan gusar kawan, aku tak ingin engkau hidup sensara hanya karena ingin mengetahui kelanjutan cerita.

Aku sama sekali tak bermaksud untuk bernostalgia, pun tak ingin bernostal_gila.

Yg kutulis hanyalah fakta, apa adanya tanpa rekayasa.

Beginilah kisahnya,

Tadi dhuha, tepatnya tanggal 3-1- 2011 ah, ternyata tglnya tak seberapa keren kawan, jika tahunnya 2031 mungkin akan sedikit berbeda (candaan garing pengantar cerita).

Sesaat melepas penat dari tekanan ujian yg nyaris merengut nyawa, ya begitulah kawan, kebiasaanku jk bercerita, majas hiperbola menjadi menu pembuka.

Aku dan beberapa orang temanku duduk ditaman Mipa matematika, begitulah julukan akrab yg kuberikan utk pinggiran koridor dan tempat parkiran dekat ruang perkuliahan kami (3a).

Seorang temanku berkata, dia bahagia krn bisa menjwb pertanyaan ujian yang berbisa.

Itu hanya istilahku kawan, jangan dikira kami mahasiswa kedokteran hewan, ingat kami matematikawan.

Ya 'berbisa' begitulah julukan utk soal yg kulebelkan. Mari kujelaskan alasanya kawan, sedaritadi dahimu berkerut, aku tau kau bingung.

Jk kau lihat soal itu, maka ber'bisa' kalut.

Jk mulai dikerjakan, ber'bisa' pusing.

Jk tak bisa mengerjakannya lg, ber'bisa' kesal.

Dan masih banyak 'berbisa' lainya.

Mari kulanjutkan kisah ini, muqaddimah terlalu panjang kusampaikan untuk menggapai isi.

Namun disisi lain kulihat temanku yang bermuka durja. Tampaknya kekecewaan sdg meliputinya. Aku tak ingin mengusiknya, pun aku terlalu lelah untuk bercanda dan menghiburnya.

Temanku yg sedang gembira seketika menyapa sang durja.
Maka terjadilah percakapan singkat namun memikat.

Sibahagia menasehati sang durja dengan senyuman lebar dibibirnya.

Sepersekian detik aku terpaku, bagaikan menonton sinetron (mencoba mencintai produk dalam negri kawan, box office bukan kebanggaan kata orang, entahlah)

Bisakah engkau bayangkan jika seorang kaya yang kenyang menasehati sang papa yang kelaparan untuk bersabar terhadap rasa lapar itu?

Seketika diamku terasa dingin, kupicingkan mata sedemikian rupa agar dirinya (si bahagia) tak melanjutkan kata-kata karena ku tak suka.

Dia menangkap sinyal mataku (kata orang mataku tajam dan dalam jika sedang kesal)

Sang bahagia pun berhenti berkata, dia terdiam.

Coba tebak kawan, bagaimana kelanjutannya?

Suasana semakin menegang dan... (jika tebakanmu seperti ini, kau terjebak kawan, banyaklah latihan).

Bukannya menimbulkan ketegangan, aku justru tertawa terbahak, suasana mencair seketika.

Aku bukan tipe pemarah kawan, tak usah khawatir.

Si durja mulai tersenyum, aku tak mengerti mengapa tiba-tiba dia bahagia.

Two thumbs up! Kuberikan kepada sang bahagia, 'kau pasti sudah belajar n berusaha keras bukan! '.

Sang bahagia tersenyum namun matanya berkaca-kaca.
Apakah dia terharu? Entahlah, aku bingung terhadap ulahku sendiri. Aku bisa m'buat seseorang t'senyum dan menangis secara b'samaan.

Salah siapa kawan?
Tentu 'kata'.

Sang bahagia mulai kembali angkat bicara, dia membuka rahasia,

wajahnya tampak serius dan tak biasa.
Aku mulai waswas, khawatir jk harus menerka-nerka cerita selanjutnya.

************************************************************************************
Sang durja kembali lalai dengan kesibukannya, dia tak lagi murung.Ku biarkan ia dengan dunianya, seulas senyuman samar kulontarkan padanya, aku tau dia tak melihat, aku hanya ingin melontarkannya itu saja.

"kamu tau, dulu aku tak seperti ini, ini semua membutuhkan proses yang panjang dan melelahkan." Ternyata sang bahagia mulai bercerita, oh Tuhan, ragaku didepannya namun jiwaku tak bersamanya. Aku nyaris mengutuk diriku sendiri, aku bertanya-tanya di dalam hati sejak kapan dia mulai berkisah. Karena sejak tadi aku tak berada di dunianya, aku terlalu sibuk menelusuri alam pikiranku, ya jiwaku.

Dia terus berkisah, kali ini aku sadar jika dia lebih pantas disebut bermonolog dibandingkan bercerita. Ada tidaknya aku di sana sepertinya tak akan memiliki dampak besar baginya. Tapi, biarkanlah, tau kah kau kawan, terkadang terdapat kesenangan tersendiri mendengarkan seseorang yang bermonolog. Layaknya mendengarkan kisah dari seseorang yang sedang mengigau dalam mimpinya, pernahkah kau rasakan kawan? menyenangkan bukan?

Sang bahagia terus bercerita, ekspresinya berubah-ubah secara jelas dan nyata. Terkadang dia tersenyum, dan terkadang murung. Tenyata kisah kehidupan begitu sedap untuk dinikmati, cobalah kawan kau tak akan menyesal.

Hari itu aku bersikap layaknya pakar psikologi profesional yang cukup duduk manis dan menjadi tong sampah bagi para klien, tahukah kau kawan, tampaknya aku sukses. Jika pakar profesional akan menerima imbalan berupa uang, namun diriku seorang psikologi gadungan tak layak menerima apa pun, aku hanyalah seorang teman. Seperti kata orang banyak, teman selalu ada untuk teman. Namun sang bahagia sepertinya sadar akan pentingnya sebuah penghargaan. Maka mulailah ia berwasiat,
"perbanyaklah membaca arti al-qur'an niscaya Allah akan memberikanmu segala kemudahan di dalam pembelajaran". Penggalan nasehat yang mengakhiri pertemuan kami.
Itulah imbalan yang sangat berharga bagiku kawan! Saat itu aku baru tersadar, bahwa betapa jauhnya kita dari al-qur'an.

Mulai saat itu, sepenggal kalimat misterius sering kali terngiang dalam ingatan.
"Layakkah aku disebut seorang muslim?"

Reaksi:

0 komentar: