16 Desember 2010

10 Muharram, dia kembali !

Bahkan untuk terakhir kali, aku tak sempat menjenguknya.
Sabtu,11/12/10
Sore itu, suara telepon genggam umi nyaring terdengar. Nadanya masih sama, standar Nokia 3110c. "Assalamu'alaikum ...", hanya kata itu yang sempat kudengar dari balik dinding kamarku, selebihnya senyap.

"Cekman manggis kecelakaan", berita umi seraya membuka lebar pintu kamarku. Mukanya tanpak cemas, "masih koma sampek sekarang", sambungnya. Aku tak mampu berkata apapun, hanya terdiam membatu.Seketika memori masa lalu berputar sangat cepat, inikah yang dikatakan flash back, bayangan sosok pemuda berkulit putih bersih, tinggi tegap dan ramah sedang menyodorkan buah manggis kepadaku.Dialah cek Lukman, adik sepupu umi.

"Nyoe boh manggis, lon cok dari bak droe teuh toe rinyuen rumoh di gampong, nyanyak tem?", itulah ucapan terfamiliar yang dikatakan cek man jika mengunjungi rumahku di Banda, sehingga sejak kecil aku menjulukinya dengan panggilan cek man manggis. "Yang mau ikot ke rumah saket ganti teros baju", seru umi dari ruang tamu, seketika hayalanku buyar. "Nyak gak bisa ikot,ada ujian, entar hari minggu atau senin pas jam kosong nyak ke sana sama dek iki", kilahku.Umi pun mengiyakan dan memaklumi kondisiku.

Beberapa jam kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke nomor adikku. "Cek man masih komalah kak, gak sadar-sadar padahal dah hampir dua hari", serunya cemas."hmm... mungkin kecelakaannya parah tapi gak apa, insyaAllah entar baekan kox", berharap kat-kataku bisa menenangkan kegelisahannya.

Rabu, 15/12/10; 21.00
"Besok asyura lho, siapa mau ikot puasa?", seruku dengan sangat bersemangat. "1 Muharram uroe pue rhet ?", tanya umi. "Tanggai 7 mi, ", jawabku. "Berarti benoe tasu'a?", "yups, paling kurang ada asyura walau gak ada tasu'a", komentarku berlagak seperti ulama. "ngen lon benoe na dipuasa, lon tem syitlah singoh", celutuk dek muna di atas tempat tidur."ya, bagu-bagus kalo gitu, ok, jinoe bek karue lee, kakak mau buat pr".
* * * * * * S E N Y A P * * * * * *
"Nyak...". "tuan mi, ada apa?", sama sekali tidak beranjak dari tumpukan kertas tugas. "cek man ka geuwo (baca: cekman dah pulang/kembali)", ucap umi terbata. Aku hanya mengenyitkan dahi, umi tahu kalau aku belum paham akan berita yang disampaikannya. "Cek man hana lee, kageu wo bak tuhan", lanjutnya.

"Innalillah", hanya kata itu yang berhasil kuucapkan, selebihnya hanya sunyi. Air mataku sama sekali tak menetes, karena kesedihan sudah ditumpahkan oleh sang hati sehingga mata tak mendapatkan porsinya lagi. Sepersekian detik rasanya aku tak bernafas lagi. Aku tak sempat menemuinya, bahkan untuk terakhir kalinya. Refleks kedua tangan kuangkatkan kelangit, seuntai doa kuucapkan sebagai cindra mata perpisahan. "Tuhan, mudahkanlah segala urusannya di dunia sana, terimalah ia kembali ke sisimu dan tempatkanlah ia disebaik-baik tempat. Ammiinn".

Cek, nyak mungkin gak bawa manggis, nyak cuma bawa doa.

Reaksi:

0 komentar: