7 Oktober 2010

Surat Untukmu, Nak: “Ketika jiwamu lapar, Umi memberinya cemilan nasehat”

Anuek lon meutuah.
   Disaat menuliskan surat ini, usia umi genap dua puluh tahun.

   Surat ini khusus umi tuliskan untuk ananda umi tersayang. Disaat untaian kata mulai umi susun, terkadang rasa bimbang kerap menghampiri. Kekhawatiran akan ketiadaan umi disisimu saat surat ini sampai ke tanganmu terkadang membuat umi sedih. Namun anakku ketahuilah bahwa kehidupan itu tidaklah kekal, jika kita siap untuk hidup maka kita juga seharusnya siap untuk kembali. Tak usah bimbang dan bersedih hati, itu semua sudah menjadi suratan ilahi.

   Anakku, boh hate intan.Dimanapun dan kapanpun, tetaplah berpegang pada hukum Allah, yakini rukun iman dan laksanakan rukun Islam, hindari maksiat dan tegakkan kebenaran. Karena sesungguhnya dicambuk beribu kali itu lebih baik bagi umi dari pada melihat engkau menapaki jalan diluar kehendak-Nya. Anandaku, dirikanlah shalat lima waktu, walau terasa berat namun berusahalah untuk tetap kuat. Jadikan Al-qur'an sebagai pedoman hidupmu, agar kelak kebahagian dunia akan mengiringi dan kebahagiaan akhirat juga tak sabar menanti.

   Ananda umi, Janganlah sekali-kali engkau biarkan kesedihan menghancurkanmu dan kesenangan melalaikanmu. Janganlah engkau memutuskan perkara apapun dalam keadaan sangat lelah, sangat marah dan sangat lapar, karena sungguh hal itu akan sia-sia belaka dan justru membuahkan petaka. Begitu pula sebaliknya, jangan engkau menjanjikan apapun disaat terlalu senang. Karena kesenangan sering menutup logika dan menyamarkan realita.

   Nak, jika suatu saat engkau mulai tumbuh, dari remaja menjadi dewasa, dan virus merah jambu mulai mengusikmu, merusak konsentrasi dan mengganggu hati. Maka perbanyaklah beristigfrar, hiasi hatimu dengan zikir. Jagalah pandanganmu dari hal-hal yang membuatmu sulit melihat syurga kelak. Jagalah martabat dan kehormatanmu sebagai muslimah sejati. Layaknya bunga yang mekar ditepi jurang, sejuk dipandang namun sulit digapai.

   Anakku sayang, jadilah wanita yang lembut namun tak lemah, tegas namun tak kejam. Jadilah pemaaf, jauhkanlah dendam. Jadilah sebenar-benarnya dirimu nak, syukuri segala hal yang telah Allah berikan kepadamu, rawatlah. Karena kelak sang khalik akan meminta pertanggung jawabanmu di akhirat terhadap segala hal yang pernah Ia titipan padamu di dunia yang penuh dengan kefanaan ini.

   Pada setiap derap langkahmu, pada setiap tujuanmu, dan pada setiap tindakamu. Niatkanlah semuanya hanya semata-mata karena Allah. Karena kelak segala kelapangan dan kemudahan itu berasal dari Allah bukan dari yang lainya. Ketahuilah anakku, suatu hal tak akan memberimu manfaat maupun mudharat jika bukan karena atas izin-Nya.

   Ananda, kelak suatu saat dalam perjalan hidupmu kau akan menemui beragam hal dan kejadian, baik itu hal yang pahit maupun manis, menyenangkan dan menyakitkan, tawa beriring duka, senyuman behias luka. Ingatlah, itu semua merupakan hal yang lumrah. Janganlah kamu berlarut-larut pada kegentiran hidup sehingga semangatmu memudar dan janganlah terlena dalam buaian kesenangan karena akan menghasilkan kecongkakan.

   Jika suatu saat ada orang yang membenci ananda, mencela bahkan menyakiti maka bersabarlah. Karena segala kesakitan yang terobati dengan ketabahan dan kesabaran akan mendatangkan keindahan pada akhirnya. Ketahuilah anakku, bahwa energi itu tak bisa diciptakan dan juga tak bisa dimusnahkan, energi hanya bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Ketika engkau melemparkan energi positif yang baik ke semesta maka semesta juga akan membalasnya dengan kebaikkan begitu pula sebaliknya, ketika engkau melemparkan energi buruk maka semesta akan membalasnya dengan keburukan. Ingatlah anakku, dunia itu fana. Doa dan shalat adalah penyelamat!

Lomba:
(http://azkamadihah.wordpress.com/2010/lomba-surat)

Reaksi:

0 komentar: