11 Oktober 2010

Calon Pengantin Untuk Semesta

  “Mengapa harus pengantin semesta?”

  Sekelibet rasa penasaran yang bergemuruh di dalam sanubariku, imaginasiku seakan mendobrak semua gerbang pembatas cakrawala alam nyata, dia seketika liar.

  Telepon genggamku kembali berbunyi. Sebuah pesan singkat, “dicari seorang calon pengantin untuk semesta,” lulucon yang tampak garing. Berasal dari nomor yang sama, pesan yang sama dan tentunya tanpa pengenal, terkesan misterius namun menjengkelkan. Kusebut misterius dikarenakan pesan tersebut dikirim tanpa tanda pengenal dan menjengkelkan karena sapaan malas dari mesin penjawab pesan yang kudapatkan saat menelepon ulang.

  Kuhempaskan tubuhku di atas kasur, rasa kesalku menjalar ke seluruh urat saraf, berakar disetiap denyutan nadi dan mendidihkan ubun-ubun. “Pengantin?semesta?, dua kata yang amat familiar namun berhasil membuatku frustasi.”

  Kembali waktu berdetak dalam bisuku. Kubenamkan kepalaku dalam-dalam pada bantal yang tak empuk lagi, mataku menatap nanar percikan gerimis dibalik gendela kamar. Rintik kecil sang hujan menyeret paksa ingatan masa laluku, mengulangnya kembali.

  Ketika seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun berdiri membeku di depan teras rumahku, berusaha mengetuk pintu dengan lemahnya. Bibirnya tak lagi berwarna, dia meringkih kedinginan. Kedua tangan didekapkannya erat ke depan dada, berharap ada sedikit kehangatan. Namun tampaknya usaha tersebut sia-sia belaka, dia terlihat semakin gemetar sehingga seikat bunga rumput yang digenggamnya sejak tadi turut bergoyang.

  Pintu rumah perlahan kubuka, sekarang dia berada persis dihadapanku. “Hey, ada yang bisa kubantu?”, sunyi tanpa jawaban. “Hallo...!!!”, aku megibas-ngibaskan tanganku di hadapan wajahnya, dia tetap membatu. Cuaca semakin dingin, akhirnya kuputuskan untuk kembali ke dalam rumah. “Seharian sudah aku menjajaki rangkaian bunga rumput ini, namun tak satupun dari mereka yang berniat untuk membelinya, bagi mereka rumput tetaplah rumput”, bisik suara parau dibelakangku, seketika langkahku terhenti. Matanya tanpak memerah, kali ini genggaman berubah menjadi cengkaraman, beberapa butir air membasahi pipinya, aku sendiri bahkan tidak bisa membedakan dengan jelas, air hujankah atau justru air mata?”   Perhatianku beralih kepada sebuah benda pada genggamannya.“Kamu tahu, rumput memang selalu beasal dari rumput, namun rumput tak selamanya menjadi rumput.” Dia tampak bergeming. “Bolehkah aku menukarkan bunga ini dengan sebatang coklat milikku?”

  Tingtong, bel pintu mengejutkanku seketika bayangan masa laluku buyar. “Siapa gerangan yang berkunjung disaat hujan turun sederas ini?” Aku beranjak ke ruang tamu dalam keadaan sempoyongan, aku masing sangat mengantuk. Kliik, kunci terputar dan pintu pun terbuka. Keajaiban terjadi, kantukku seketika sirnah. Sepersekian menit, mataku terpaku pada sebuah objek yang berdiri tegak lurus dihadapanku. “Apakah aku sedang bermimpi? Atau justru aku terbangun di dalam mimpi?” Sesosok pemuda berdiri tegap mematung di hadapanku, dia tampak kedinginan. Air hujan membasahi setiap jengkal tubuhnya. Sebuah senyuman tulus dilontarkan dari kedua bibirnya yang memucat. Seikat bunga rumput digenggamnya erat, selembar kartu ucapan tampak mencuat dari balik rangkaian bunga. Tulisannya tanpak luntur terkena hujan, namun masih cukup jelas untuk dibaca. Untuk calon pengantin Putra Semesta.
ket: 444 kata

INFO LOMBA: Klik Di Sini

Reaksi:

1 komentar:

aulia87 mengatakan...

apakah maksudnya semesta alam?