Sepucuk Surat Kematian

Assalamu'alaikum wr.wb

Teman,
maukah kau mendengar sebuah kisah? Tak usah kau jawab, karena qu tau kau tak akan pernah menjawabnya. Tapi, coba dengarkanlah sedikit kisahku ini. Karena kisah ini khusus qu tuliskan untukmu.
Tau kah kau? aq pernah melihat seorang anak lelaki duduk tertegun d sebuah sudut ruang kelas.
Saatqu perhatikan, ternyata dia hanya terduduk dalam diamnya.

Sebenarnya, apa yang sedang ia fikirkan? Jangan tanyakan Aq karena Aq pun tak tau.
Cerita punya cerita, tanpa disangka dan diduga. Aq pun masuk kedalam sebuah kelompok belajar yang salah satu anggotanya adalah anak lelaki itu.
Aq senang karena bisa diterima dalam kelompok itu, padahal hampir 80% anggota diruang kelas itu tidak ku kenal.
Hal itu sangat maklum, karena aq hanyalah seorang mahasiswa pindahan.
Pada mulanya ,aq mulai mengakrabkan diri kepada teman sekelompokku, dari semua anggota kelompok hanya si anak lelaki itu yang membuatqu kikuk.
Belum pernah qu temui seseorang yang terlalu polos dan sependiam dirinya.
Waktu bergulir, aq pun semakin akrab dengan mereka semua ,termasuk dirinya. Mungkin dia mulai beradaptasi dengan habitual anggota kelompoknya yang tak pernah bisa diam.
Kami berdiskusi, berdebat tak ayal bercanda konyol, tp dia hanya tetap terduduk diam dalam senyum simpulnya yang tertahan.
Dia terlalu tenang dan bijaksana untuk anak seusianya.
Walau hanya sempat mengenalnya sesaat dalam jangka waktu 1 semester, aq sudah menganggapnya layaknya sahabat.
Huftt....

Mungkin tak banyak kesan yang tertinggal di antara kita semua.
Ya... Aq masih mengingatnya.
Sebuah pertanyaan yang terakhir kali kulontarkan pada anak lelaki tersebut.
'bro, gmana sih cara menetapkan waktu shalat dikutub utara&selatan?'
ya.. Aq sangat mengingatnya, pertanyaan yang aneh, tapi tak sedikitpun kudapati ejekan dari jawaban yang diberikan kepadaku. Dan dia juga pernah menyarankanku untuk mencari berbagai sumber jawaban lain, sehingga jawaban tersebut bisa memuaskan rasa ingin tahuQu.
Tahukah kau kawan, berkat sarannya, aq berhasil menemukan cara yang sangat briliant.
Saat mengetahui hal itu, ingin sekali Qu beritakan kepadanya bahwa telah kutemukan jawaban lainnya.
Tapi, aktivitasQu yang terlalu padat membuatku lupa.
Semua terkesan terlambat... Aq telat memberi tahunya...
Mengertikah kau kawan, saat sosok anak lelaki itu mulai terlupakan, ya, jarak, waktu, dan berbagai aktifitas yang tak senada membuat kami saling lupa.
Hingga... Setelah sekian lama, kembali kudengar kabar tentangnya.
Tapi, kali ini rasa hampa memenuhi dadaku, kepalaku seakan dihantam oleh sebuah palu godam raksasa. Berkali2 qu baca berita itu, aq masih tak percaya.
Tiap kali kubaca ulang berita itu, aq terus menerus mengingkari kenyataan.
Sederet cerita kebersamaan masa lalu, terlintas ulang begitu cepat sehingga rangkaian ceritanya menjadi berantakan-tak beraturan.
Aq terlambat... Maafkan aq kawan, Telat untuk memberitahumu akan ilmu baru yang kudapatkan,
Terlalu telat meminta maaf karena tak pernah menjengukmu,
bukan karena aq tak ingin, tapi tak ada yang pernah mengabarkan keadaanmu. Bahkan, anginpun tak pernah membertahuku kalau kau terbaring disana.
Inilah sebuah surat yang tak layak untuk kupersebahkan kepadamu kawan.

Terkesan Naif... Hah, Aq pun terlalu lelah untuk menuliskannya...
Aq hanya mampu berdo'a.
Moga Allah melimpahkan segala rahmat, rahim dan kasih sayangnya untukmu...
Qu Harap Kau Tenang di Alam Sana.
*****
Untuk: Temanku Yang Telah kembali ke sisi-Nya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sepucuk Surat Kematian"

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya!
Besok-besok mampir lagi ya!