5 Agustus 2010

Cara Membaca Pikiran Orang Lain

Rasa penasaran dan serba ingin tahu sudah merupakan sifat yang di bawa manusia sejak lahir. Bisa membaca pikiran dan mengetahui seluk beluk alam kasat mata dari jiwa manusia merupakan medan jelajah yang mengesankan.


Pembaca yang budiman, sebenarnya saya sama sekali tidak memiliki tips dan trik cara membaca pikiran orang, jadi...

@ yahhh...nipu loe ya, buang-buang waktu ja baca ni posting.

Sabar, aku kan belom selesai. Tips yang aku mau ksh cuma 1, ni pun aku dapat krn meninjau beberapa fakta dari kisah berikut:


nah, begini ceritanya.

Selepas isya tadi, adikku yang nomor 2 memancingku dengan sebuah kisah yang dicertakannya tidak lebih dari durasi waktu 10menit tapi berhasil membiusku hingga terbungkam dalam riwetnya pikiranku.

Kisahnya dimulai dari ... (cepetan napa,kelamaan mikir).

Begini ceritanya, di dekat rumah kami sedang di bangun sebuah gedung yang lumayan geudek, sejenis flat 5 tingkat, but I am not sure, what is that. Banyak banget tukang bangunan yang dikerahkan untuk menyelesaikan projek tsb, rata-rata mereka didatangkan dari JAWA,

trus ceritanya ni entah bagaimana caranya adek ku yg paling kecil (cowok) dah melakukan surve yang tidak disengaja, karena dia sempat beberapa kali mengunjungi sebuah warung kopi dadakan didekat rumah kami ,tentu juga dekat dg bangunan itu. Si adek, sebut saja Raja, cuma mau duduk-duduk sekedar minum kopi susu ato makan mie dan kue. Ternyata, tanpa kami sadari dia telah membangun sebuah jaringan komunikasi dengan pekerja-pekerja bangunan disana.

Sifatnya yang easy going, kritis, ingin tau, dan mudah membaur membuatnya menjadi sarana pengumpulan informasi yang andal.

Jadi, pada suatu hari disaat lagi makan-makan kue gorengan diwaroeng tu, Raja berbicara santai dengan beberapa pekerja yang sedang meneguk kopi untuk menghilangkan rasa lelah mereka setelah seharian bekerja.

Dimulai saat pandangan adikku terpaut pada seorang pekerja yang sebelah lengah rusak parah, percakapan pun terjadi:

Raja: tangannya kenapa tu ? Tanyanya kepada salah seorang pekerja.

Worker X: dia, tangannya rusak karena jatuh dari lantai dua waktu ge kerja .

Raja: oh, hmm...

Worker X: karena tu, dia gak bisa kerja gi. Dia liat-liat aja. Tapi tetap di gaji.

Raja: tapi, kox..?

Worker: gak, maksudnya dia gak bisa kerja berat-berat lagi, paling bantu yang ringan-ringan. Di gaji tetap tapi dikit kali, lebih sedikit dari gaji kami.

Raja: mank berapa?

Worker X: Sebulan kami di gaji tiga puluh ribu.

Raja: apa?(mengira pendengarannya salah)

Worker X: ya, sehari kami digaji 1000 rupiah, 30hari 30ribu. Kalo dia (sambilan mengarahkan pandangannya kepada salah seorang teman yang cidera lengannya) lebih dikit lagi, sebulan digaji 10 ribu atau 15ribu.

Raja: 30ribu sebulan? (bisa beli apa dengan uang segitu?)

Worker X: dia (sambilan mengarahkan pandangan mata ke salah satu teman yang lain), gak pernah makan pagi, biar sebagian uangnya bisa dikirim untuk anak dan istrinya. Jadi makan cukup 1x sehari.

Raja: (memandang lekat pada orang yang diceritakan- pucat, kurus dan penuh ringkihan kesakitan ).

*************
Setelah percakapan singkat itu, adikku langsung pulang dan menceritakan ulang semua percakapan yang berlangsung di warung kopi tadi kepada seluruh anggota keluarga kecuali aku (karena aku sedang baca-baca buku di kamar, sedangkan anggota lainnya lagi bersantai di ruangtamu sambil liat-liat langit-enth ada bintang pun) .


Aku: 30rb untuk sebulan?

Raja: em em (seraya mengangguk).

Aku: ( sangak- masih gak percaya)

Muna: malahan kata Raja tadi , bisa kurang dari 30rb, bosnya jahat.

Aku:hush, gak boleh ngomong sembarangan.

Raja: emank jahat kak, kan kadang-kadang bosnya datang, liat-liat trus ketok-ketok dinding, entar kalo dindingnya menurut dia gak bagus,tukang-tukang tu gak dapat gaji sehari yang 1000 tu.

Aku: astaghfirullah (setega itu wak-mulai emosi).

Raja: padahal uang tu mau dipakek untuk bos tu beli mobil baru.

Aku: waw, gk boleh nuduh-nuduh gitu.

Muna: tapi iya, tiap mantau sebulan sekali dia (bos) ganti mobil baru. Jahat kali kox orang tu.

Aku: (padahal kita bisa menghabiskan uang 30rb tu dalam sehari bahkan lebih - bisik jiwaku)


Tak terasa buliran air mata membasahi pipiku, anak-anak memang lebih peka dan mereka berkata jujur, perkataan yang mungkin tak bisa dinalari logika tapi diterima oleh hati.

Mereka bisa Membaca pikiran orang lain dengan Hati Nurani yang masih tulus dan bersih.

Wallahu'alam.

Reaksi:

0 komentar: